Sabtu, 01 Februari 2014

Memaknai Sang Tantangan

Selamat pagi, Februari!
Alhamdulillah. Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah membangunkanku kembali dari tidur dan mengijinkanku untuk menyapa dan menjalani sebuah hari baru. Khusus hari ini, itu berarti kesempatan untuk menjumpai awal bulan yang baru.

Seringkali berjalannya waktu menjadi tidak terasa. Sebulan telah berlalu sejak pergantian tahun masehi terakhir. Bahkan, bagi saya, rasanya seperti baru kemarin jantung saya berpacu saat berusaha menyelesaikan tesis sembari sesekali melirik halaman terakhir di tahun 2013: Bulan Desember. Lalu jika iseng-iseng langsung 'melompat' ke halaman kedua di kalender tahun 2014 ini, semua seolah terasa seperti sulap: tiba-tiba saja saya sudah sibuk memikirkan wisuda :D

Sekali lagi, alhamdulillah. Adanya target yang dikejar beserta upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapainya itulah yang membuat waktu dan kesempatan menjadi begitu berharga. Kemudian, lebih jauh lagi: menjadikan hidup dan usia yang diberikan penuh makna.

Saya pernah merasakan hal yang sebaliknya: pada suatu masa, terjebak dalam rutinitas tanpa target istimewa dalam waktu dekat. Berkebalikan dengan apa yang saya rasakan belakangan ini, saat itu waktu terasa berjalan sangat lambat! Kebosanan pun menghinggapi diri. Tak jarang saya berharap jam bergerak lebih cepat sehingga saya bisa segera beristirahat. Tak terpikir bahwa itu berarti esok hari pun datang lebih cepat dan saya juga akan segera bertemu kembali dengan rutinitas yang saya hindari itu. Hahaha... *prihatin pada diri sendiri*

Waktu. Kesempatan. Usia. Tak jarang terlontar doa agar Tuhan memberikannya lebih banyak, seolah keberuntungan kita terletak pada 'jatah yang lebih': semakin beruntung orang yang usianya lebih panjang, yang lebih berkesempatan, atau yang mendapat waktu lebih banyak. Saat berjibaku dengan tesis bulan lalu pun saya masih rajin membatin mengapa sehari itu tidak lebih dari 24 jam. Maklum, sepertinya waktu itu logika hanya saya gunakan untuk mengerjakan riset dan tidak untuk hal-hal lainnya. 

Saya lupa bahwa ada banyak orang-orang yang berusia sangat lanjut dan hampir sudah tidak dapat melakukan kegiatan apa pun yang justru berharap agar Tuhan segera memanggil mereka. Saya bahkan lupa pada pengalaman sendiri yang saya ceritakan di atas, ketika diberikan waktu yang berlimpah tetapi justru membencinya. Saya lupa bahwa pada akhirnya, berkah tidak bergantung pada besarnya kesempatan-kesempatan yang diberikan, tetapi pada bagaimana kita mampu memanfaatkannya.

Maka, sekali lagi, alhamdulillah. Mari bersyukur ketika waktu, kesempatan, atau bahkan usia terasa semakin terbatas. Mari melipatgandakan syukur saat menyadari bahwa dalam keterbatasan itu, ada target tertentu dan langkah-langkah yang kita maksimalkan demi mencapainya. Ada perjuangan di sana dan semoga diridhai sebagai ibadah. Hanya dengan demikian, kita merasakan hidup yang sebenarnya.

Khusus terkait bulan Januari yang baru saja berlalu, saya berterima kasih pada kehadiran tantangan #30tulisan yang telah turut andil dalam 'menghidupkan' saya di bulan itu. Meskipun tidak masuk ke dalam daftar kegiatan yang saya prioritaskan (karena tergeser oleh beberapa kepentingan lain), ia tetap sebuah tantangan yang memperkaya hidup saya pada masa tersebut. Karena itu, saya sampaikan selamat pada semua teman yang juga sempat turut mencoba menjawab tantangan itu. Bagaimana pun hasilnya, saya yakin mereka, dengan prioritas kesehariannya masing-masing, memperoleh manfaat dari tantangan tersebut. Lalu tentunya saya bersorak lebih keras untuk yang benar-benar menyelesaikan #30tulisan karena mereka sangat membanggakan! Mudahan-mudahan dari keberhasilan menyelesaikan tantangan yang tidak ringan itu mereka dapat menarik pelajaran berharga untuk kehidupan masing-masing. Aamiin.

Nah. Untuk kita semua, selamat memulai hari yang baru dan mengejar tantangan-tantangan lainnya! Semangat hidup, semangat berjuang!

Salam,
-H e i D Y-

Rabu, 29 Januari 2014

Hingga Tiada Penyesalan


Beberapa hari yang lalu saya tersentak ketika menemukan kata-kata belasungkawa di sebuah media sosial untuk seorang teman lama. Saya pun turut menyampaikan ucapan dukacita, tidak melalui media sosial, tetapi melalui SMS. Ini karena meskipun sudah menebak-nebak, tetap saja saya belum yakin betul, siapa yang meninggal dunia. Jadi, melalui SMS itu saya sekalian bertanya walaupun tak berharap si pesan singkat akan terbalas dengan cepat. Ternyata teman saya yang sedang berduka tersebut dapat segera membalas pesan saya dan membenarkan dugaan saya dalam hati: yang meninggal dunia adalah suaminya.

Meskipun tidak dekat dengannya (kami teman sekampus, tetapi berbeda jurusan dan saya hanya mengenalnya dari 2 mata kuliah yang kebetulan kami ikuti bersama-sama), saya benar-benar merasa ikut sedih sekali dan prihatin. Saya ingat bahwa tahun lalu, ketika kami masih mengikuti mata kuliah yang sama, suaminya pun sudah beberapa kali mengalami serangan jantung. Keprihatinan saya sebagai sesama perempuan yang telah bersuami terhadap hal itu pun pernah saya tuangkan di sini.

Tahun lalu, saat teman saya itu beberapa kali tidak dapat mengikuti kuliah dan mengumpulkan tugas-tugasnya, sang dosen pengampu memberikan nasihatnya bagi kami yang hadir. Nasihat itu masih saya ingat sampai sekarang, dan seolah suara dosen favorit saya itu terngiang kembali dalam kepala saya. Kurang lebih beginilah bunyinya: “Prioritaskan keluarga. Keluarga itu nomor satu. Untuk apa mengejar kepentingan lain seperti kuliah atau pekerjaan jika keluarga terlantar? Jumlah kehadiran kurang, tidak mengumpulkan tugas, atau tidak presentasi hanya akan berakibat ke nilai. Sementara itu bagaimana akibatnya meninggalkan keluarga yang sakit? Kalau sampai terjadi apa-apa, penyesalannya seumur hidup, tidak tergantikan.”

Tentu saja setelah nasihat di atas pertama kali diperdengarkan tahun lalu, kami semua (termasuk sang dosen) juga mendoakan agar suami teman saya itu dapat segera sembuh. Banyak di antara kami yang terkesan sekali oleh nasihat tersebut dan berharap dapat mengingat serta mengamalkannya seumur hidup. Saya pun demikian. Kini, setelah mendengar bahwa suami teman saya itu telah berpulang, ‘alarm pengingat’ saya seolah berbunyi. Tidak ada yang tahu persis kapan seorang anak manusia akan berpulang, meskipun ia adalah anggota keluarga terdekat atau bahkan ‘belahan jiwa’ kita. Namun, semoga kita dapat mencegah penyesalan di akhir masa kebersamaan itu dengan memaksimalkan upaya-upaya dalam menyampaikan kasih sayang kita pada mereka. Semoga teman saya yang telah setia dan sabar mendampingi serta mencurahkan perhatian pada suaminya itu kini tidak punya penyesalan dan dapat benar-benar mengikhlaskan kepergian almarhum.


Saya teringat pengalaman beberapa belas tahun yang lalu, ketika Eyang Mama, sebutan saya untuk ibu dari papa saya, meninggal dunia. Eyang saya itu meninggal setelah beberapa tahun lamanya menderita beberapa penyakit. Salah satunya adalah demensia yang berkenaan dengan ingatannya. Setelah jatuh sakit, eyang saya hanya mengingat dan membicarakan peristiwa-peristiwa yang telah berpuluh-puluh tahun berlalu dan hampir tidak dapat mengingat apapun yang termasuk ke dalam golongan ‘memori jangka pendek’.

Terkait hal tersebut, ada suatu peristiwa yang saya kenang hingga sekarang. Pada suatu hari, saya, Papa, Mama, dan kedua adik saya mengunjungi Eyang Mama. Saat akan pulang, seperti biasa, kami berpamitan dengan mencium tangan dan kedua pipinya dan Papa saya selalu mendapat giliran terakhir untuk itu. Setelah selesai berpamitan dan sudah mendekati pagar, Papa dipanggil kembali oleh Eyang, “Wan (panggilan beliau untuk papa saya)... sun (cium)!” Kami yang mendengarnya pun geli. Kan, baru saja dicium? Namun, Papa saya hanya tersenyum lalu kembali mendatangi dan mencium Eyang. Tidak selesai di situ, beberapa kali kemudian eyang saya masih saja lupa bahwa beliau telah dipamiti dan dicium. Tanpa pernah menggerutu, papa saya pun terus menuruti permintaan Eyang.

Kejadian di atas pun diingat betul oleh mama saya di hari kepergian Eyang. Tentu saja Papa menjadi salah satu orang yang paling merasa kehilangan pada hari itu. Namun, saya melihat kerelaan dan keikhlasan yang nyata pada sikapnya. Mama mengaitkannya dengan upaya Papa yang telah maksimal dalam mewujudkan kasih sayangnya pada Eyang, terutama di hari-hari terakhirnya. “Seribu kali pun harus bolak-balik dari pagar untuk mencium Eyang waktu itu, pasti papa kalian akan lakukan. Tidak ada penyesalan sekarang. Contohlah yang seperti itu,” kata Mama penuh haru.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun. Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah dan kepadaNya jugalah kita akan kembali. Hari kembali itu memang tidak dapat diketahui sebelumnya secara tepat, tapi pasti datang. Entah diri sendiri yang terlebih dahulu berpulang atau orang-orang terkasih yang duluan pergi meninggalkan kita. Dari jalan mana pun, perpisahan itu akan terjadi. Maka, dalam kesempatan yang masih diberikan untuk bersama-sama, sikap seperti apa yang sebaiknya kita wujudkan, hingga tiada penyesalan kelak di akhir masa?

Salam,
-H e i D Y-

Selasa, 28 Januari 2014

Di Balik Keribetan yang Terus Berlanjut

Apakah keribetan terkait tesis berakhir bersamaan dengan lulusnya saya di ujian tesis lalu? Tentu tidak. Sesaat setelah dinyatakan lulus, saya gagal langsung mendapatkan tanda tangan para penguji di lembar pengesahan karena nama dekan yang saya tuliskan tidak tepat. Karena bukan orang yang menyepelekan ketepatan penulisan nama seseorang, sebenarnya saya cukup malu dengan kesalahan itu. Beberapa penyesalan sempat terlintas. Namun, akhirnya saya cukup 'terhibur' setelah ingat bahwa kesalahan itu dapat dimaklumi karena sang dekan baru diganti dan penulisan gelarnya di situs universitas belum diperbarui sehingga memang tidak ada contoh tepat penulisan nama lengkap dan gelar beliau (baca: bukan salah guee!).

Salah satu faktor penting yang membuat saya luar biasa repot adalah terlalu mepetnya jarak antara ujian tesis dengan batas akhir penetapan kelulusan dari universitas. Sudah ditetapkan lulus oleh ketua program studi jelas sudah sangat melegakan, tetapi perjuangan belum berakhir karena belum tentu ketetapan tersebut disetujui oleh pihak universitas. Masih ada beberapa syarat yang harus diurus untuk memperoleh persetujuan tersebut: pengunggahan fail tesis, penyerahan tesis cetaknya, pengurusan bukti bebas pinjam pustaka, pendaftaran wisuda, dan seterusnya.

Ah. Penyebutan syarat-syarat di atas sungguh terasa gampang dan 'biasa', sekarang, setelah sebagian besar di antaranya dibereskan. Coba kalau ditanya kemarin-kemarin, kemungkinan besar saya akan menjawabnya dengan penuh drama karena memang hampir tidak ada yang dilalui tanpa cerita. Dimulai dengan kegagalan mendapat tanda tangan para penguji 'yang sudah terkumpul manis' pada hari yang sama dengan ujian tesis, usaha keesokan harinya harus diwarnai dengan drama terjebak banjir, ponsel tertinggal, dan mengejar dosen yang sedang lokakarya di luar kampus. Ketika sudah sempat bernapas lega karena mendapat kabar bahwa tanda tangan dekan dapat diperoleh tanpa menunjukkan tesis cetak yang telah terjilid dengan hardcover, tiba-tiba 3 jam sebelum jam administrasi kampus berakhir saya dikabari hal yang sebaliknya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dalam waktu sesempit itu akhirnya saya bisa selamat menyelesaikan revisi, membereskan semua berkas, menyetir Bekasi-Depok, mengurus pencetakan lebih dari 200 halaman isi tesis dan penjilidan dengan hardcover, dan menyerahkannya pada si sekretaris dekan yang plin-plan itu. Segala puji dan syukur saya panjatkan pada Allah SWT dan tentu saja saat itu saya tidak menemukan alasan untuk berterima kasih pada, apalagi memuji, sekretaris tersebut.

Untuk menyetujui kelulusan mahasiswa, pihak universitas tempat saya berkuliah perlu memeriksa apakah mahasiswa yang bersangkutan sudah menyerahkan tesis ke perpustakaan, baik dalam bentuk fail pdf maupun cetaknya. Karena keduanya tak mungkin dilakukan tanpa tanda tangan dekan di lembar pengesahan, mendadak saya menyaksikan fenomena baru: para mahasiswa yang mencari-cari, menanyai, dan membicarakan dekannya. Dan saya termasuk di antaranya.

Yang membuat jantung seolah berlari adalah kesimpangsiuran soal batas waktu penyerahan tesis ke perpustakaan. Kalender akademik pun tiba-tiba tidak dapat dipercaya. Setelah beberapa kali dikecewakan oleh kesibukan dekan dan kejutekan sekretarisnya, pihak-pihak lain pun diberondongi pertanyaan serupa oleh jutaan mahasiswa (ini majas hiperbola, untuk mendapatkan fakta: kurangi beberapa nol-nya hingga terasa wajar), "Kapan sih, Pak/Bu, tanggal terakhir penyerahan tesis dan penetapan kelulusan?" Jangan heran jika jawaban yang didapat pun bervariasi dari "tidak tahu" sampai "kapan saja boleh" (yang mungkin sekali diucapkan sembari dalam hati ia berkata, 10 tahun lagi juga boleh, tapi kelulusan mahasiswa lain saat itu, bukan Anda yang jadi mahasiswa sekarang!).

Setelah tanda tangan dekan berhasil diperoleh, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah memindai lembar bertandatangan tersebut dan menggabungkannya dengan isi tesis lainnya untuk diunggah ke situs perpustakaan. Ini saya lakukan di tanggal yang sama persis tertera di kalender akademik sebagai 'batas akhir pengunggahan tesis'. Luar biasa seru jantungannya. Apalagi ketika langkah pengunggahan tidak sesederhana yang disangka, dan setelah memahami dan menyelesaikan semuanya, si akun kadaluarsa, semua yang dikerjakan lenyap, dan saya harus mengulang dari awal. SEDAP.

Masih banyak keribetan lainnya yang kalau saya ceritakan detailnya satu per satu mungkin bisa jadi satu novel lagi. Namun tentulah saya tahu diri. Untuk apa membuat novel khusus soal ini? Siapa yang mau beli? Apa manfaatnya? 

Dari pertanyaan terakhir di atas (Apa manfaatnya?), saya mendapat pencerahan. Segala keribetan yang saya lalui, termasuk yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan bodoh saya sendiri dan sempat membuat frustasi sesungguhnya dapat menjadi manfaat. Maklum, pada dasarnya saya ini orang yang nggak mau rugi. Segala sesuatu itu harus bermanfaat. Jadi, yang kelihatannya merugikan pun harus dicongkel-congkel semaksimal mungkin hingga ada manfaatnya. PASTI ADA! *keukeuh*

Memang, saya tidak akan menulis novel bertemakan 'keribetan terkait tesis demi ditetapkan lulus oleh universitas' yang saya yakin tak akan dilirik penerbit mana pun, apalagi calon pembeli. Namun, saya tetap berusaha menulis 'cerita bersambung' mengenai pengalaman-pengalaman saya secara terperinci dan akan saya bagi-bagikan secara gratis pada teman-teman yang mengejar kelulusan di semester berikutnya. Dengan demikian, saya berharap ada yang belajar dari pengalaman saya sehingga semua keribetan itu tidak percuma dan saya tidak terus-menerus menyesali berbagai kesalahan bodoh yang terlanjur dilakukan.

Nah. Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kerepotan atas suatu hal? Pernah melakukan kesalahan-kesalahan bodoh? Geram dan menyesalinya kalau teringat lagi? Jangan! Ceritakanlah, terutama pada mereka yang berkemungkinan besar mengalaminya juga. Cegahlah agar mereka tidak mengulang kesalahan yang sama. Melalui upaya ikhlas yang seperti ini, mudah-mudahan beban penyesalan kita sedikit terangkat atau bahkan perlahan-lahan terlupakan.

Di balik segala jenis keribetan, pasti ada sebuah (atau bahkan banyak) pelajaran. Dan tugas kita yang mengalaminya adalah meneruskannya hingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Semoga.
 

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqtuni, disahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)


Salam, 
-H e i D Y-

Sabtu, 25 Januari 2014

Bahasa, Individu, dan Masyarakat

Suatu bahasa atau dialek tersusun atas sejumlah sistem tingkat otonomi yang bervariasi (Goodenough, 1981, hlm. 19-45). Perubahan pada salah satu sistem atau perubahan dalam cara artikulasinya akan menghasilkan bahasa yang berbeda. Di dunia ini, tidak ada dua individu yang memiliki siste artikulasi  yang identik. Bahkan sepasang anak kembar identik pun pasti memiliki sistem artikulasi yang berbeda, seperti halnya sidik jari. Setiap individu memiliki idioleknya sendiri, yaitu versi setiap orang atas apa yang ia ketahui atau rasakan sebagai dialek tertentu dari sebuah bahasa. 

Ada banyak versi dari suatu bahasa dan perbedaan di antaranya cukup kecil pada kalangan dewasa yang merupakan penutur aslinya. Perbedaan yang ditemukan semakin besar pada kalangan anak-anak dan juga pada kalangan dewasa yang bukan penutur asli. Contohnya kata piring yang bisa sangat bervariasi diucapkan oleh anak-anak: piring, piling, piying, piing, dan sebagainya. Setiap orang yang mempelajari sebuah bahasa mengembangkan standar-standar yang tidak disadari dan ini sifatnya subjektif.

Dengan hanya sedikit perbedaan dalam sistem lain, dua penutur dapat memiliki sistem fonologi yang sangat berbeda meskipun tetap mampu untuk memahami satu sama lain. Beberapa perbedaan dalam sistem morfologi hanya berdampak kecil pada kesepahaman bersama. Namun, kesalahpahaman dapat berkembang cepat dengan perbedaan sistem semantik, yaitu bagaimana konsep-konsep dipetakan dalam morf, kata, dan ekspresi-ekspresi lainnya. Meskipun dua bahasa memiliki fonologi, pola konstruksi morfologi, dan prinsip-prinsip sintaks yang sama, jika kata-kata dalam salah satu bahasa menyatakan hal yang sama dengan kata dalam bentuk berbeda pada bahasa lainnya (contohnya konsep 'mahal' yang dinyatakan dengan bentuk larang dalam Bahasa Jawa, tetapi dinyatakan dengan awis dalam Bahasa Sunda) sementara bentuk kata yang sama tidak pernah menandai hal yang sama (misalnya kata atos yang berarti 'sudah' dalam Bahasa Sunda dan berarti 'keras' dalam Bahasa Jawa), kedua bahasa tersebut dipandang sebagai bahasa yang berbeda. Pembeda antardialek dalam suatu masyarakat adalah tatanan linguistiknya. Dengan susunan linguistik yang rumit dalam suatu komunitas, perbedaan dialek dan bahasa menunjukkan aturan-aturan yang berbeda dan cara penilaian yang berbeda. 

Dalam suatu masyarakat, kita dapat menemukan lebih dari satu bahasa. Ada dorongan dan kesempatan yang berbeda bagi setiap anggota masyarakat untuk mempelajari dan menguasai suatu bahasa. Menurut Burling (dalam Spradley, 1972), kecakapan seseorang dalam beberapa bahasa dan dialek yang berbeda berhubungan erat dengan penggolongan kelas dan kasta dalam suatu masyarakat yang kompleks. Ini dapat dilihat pada apa yang terjadi pada seorang pembantu dan majikannya yang berasal dari dua segmen berbeda dalam suatu tatanan masyarakat yang majemuk. 

Pembantu rumah tangga dan majikannya yang menggunakan bahasa mereka masing-masing  akan membawa pengaruh pada anak-anak mereka. Ketika anak-anak sang majikan diasuh secara terpisah dari anak-anak pembantunya, bahasa sang majikan lebih mempengaruhi bahasa pembantunya dan anak-anaknya daripada bahasanya sendiri mempengaruhi bahasa majikannya. Ini disebabkan oleh relasi kuasa karena kelas sosial mereka. Namun sebaliknya, jika anak-anak sang majikan lebih banyak diasuh pembantunya dan tumbuh bersama anak-anak sang pembantu, mereka akan menjadi lebih mahir menggunakan bahasa pembantunya tetapi tidak sebaliknya (anak-anak sang pembantu tidak mahir menggunakan bahasa sang majikan). Ini menunjukkan bahwa tingkatan kemahiran dalam bahasa dan dialek tertentu juga merupakan cerminan dari dorongan dan kesempatan.

Referensi
Goodenough, Ward H., ed. 1981. Culture, Language, and Society. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. 
Spradley, James P., ed. 1971. Culture and Cognition:Rules, Maps, and Plans. San Fransisco: Chandler Publ. Co 

Peran Bahasa Terkait Kognisi dan Budaya

Ini sebetulnya hutang saya (pada diri sendiri) sejak mempublikasikan tulisan mengenai budaya dan kebudayaan. Kala itu, saya akan mengikuti mata kuliah berjudul Bahasa, Kognisi, dan Budaya. Seiring waktu, saya bersyukur karena banyak sekali ilmu yang saya peroleh dari mata kuliah tersebut dan berjanji akan segera meneruskannya. Namun, berbagai kesibukan membuat saya baru teringat lagi hari ini, dan menyadari bahwa sudah lewat setahun sejak itu. Nah, untuk mencegah 'penguapan' ilmu yang telah saya peroleh, dan demi memaksimalkan manfaatnya, lebih baik hutang itu segera saya bayar. Di bawah ini saya membuat sintesis berdasarkan pemikiran beberapa pakar mengenai peran bahasa terkait kognisi dan budaya.

Bahasa adalah salah satu aspek kebudayaan. Jika dibandingkan dengan aspek kebudayaan lainnya, bahasa adalah yang termudah untuk dipelajari dan deskripsinya merupakan yang termudah untuk dirumuskan. Karena itu, menurut Burling (dalam Spradley, 1972, hlm. 84-99), suatu kebudayaan dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan teori bahasa. Burling berpendapat bahwa deskripsi etnografi secara umum sejalan dengan deskripsi gramatikal. Jadi, teknik linguistik sebenarnya dapat digunakan dalam penelitian-penelitian etnografi, hanya saja selama ini belum banyak digunakan.


Sebagaimana halnya kebudayaan, bahasa dipandang sebagai suatu hal dalam sebuah kelompok sosial yang dilestarikan sekaligus terus menerus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Baik bahasa maupun kebudayaan dianggap memiliki struktur tertentu.  Salah satu contoh yang diberikan oleh Burling adalah deskripsi etnografi yang dapat dijelaskan oleh deskripsi tata bahasa. Dalam penelitiannya terhadap komposisi rumahtangga Garo di Assam, India, ia menunjukkan bahwa variasi komposisi rumah tangga pada masyarakat tersebut memiliki kemiripan dengan aturan-aturan gramatikal. Dengan menggunakan teknik linguistik, dapat diperoleh deskripsi etnografi yang lebih jelas.


Kita dapat memahami perilaku seseorang melalui bahasa. Goodenough (1981, hlm. 5) mengatakan bahwa untuk memahami suatu bahasa, kita harus mempelajari standar-standar tertentu di dalamnya yang diatur dalam sistem fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan simbolik. Semua sistem tersebut merupakan konsep yang secara universal ada dalam setiap bahasa. Konten bahasa ini penting karena merupakan dasar termudah untuk melakukan analisis budaya dalam penelitian yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat tertentu. Dalam upaya menjelaskan suatu budaya, Goodenough juga menyebutkan bahwa menggunakan pendekatan emik sangat penting. Berbeda dengan pendekatan pendekatan etik, yaitu deskripsi perilaku yang masih dipengaruhi oleh keyakinan sang peneliti, pendekatan emik adalah deskripsi perilaku atau keyakinan yang bermakna bagi pelaku budaya itu sendiri.


Bahasa dapat dilihat sebagai kata-kata serta cara memadukan dan mengungkapkannya untuk mengkomunikasikan ide-ide (Stross, dalam Casson, 1981, hlm. 11). Kata-kata dalam bahasa manusia merupakan simbol-simbol yang memiliki hubungan arbitrer dengan referennya. Baik dalam bahasa maupun kebudayaan, simbol-simbol atau tanda digunakan setiap individu untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada yang lain.  


Kompetensi budaya, termasuk di dalamnya kompetensi linguistik, tidak menggambarkan sistem kognitif seseorang secara keseluruhan. Sistem kognitif setiap orang meliputi proses dan struktur kognitif istimewa yang merupakan elemen dasar dari kepribadian uniknya. Wallace (dalam Casson, 1981, hlm. 20-21) menggambarkan kehadiran skemata sebagai abstraksi-abstraksi konseptual dalam otak yang menghubungkan stimuli yang diterima oleh indera dan respon perilaku. 


Skemata merupakan dasar untuk mengatur informasi yang diterima seseorang. Skemata dapat dibedakan berdasarkan distribusinya dalam populasi: skemata universal, skemata individu, dan skemata budaya. Dalam sistem skemata budaya, terdapat skemata bahasa sebagai salah satu subsistemnya. Beberapa skemata budaya dapat direpresentasikan melalui skemata bahasa. Contohnya adalah klasifikasi tumbuhan, penyakit, dan kekerabatan yang secara umum dikodekan dalam kata-kata. Pada umumnya, skemata budaya dan skemata bahasa tidak diajarkan. Dalam kehidupan nyata, kita dapat melihat hal ini dari seorang ibu yang tidak menjelaskan aturan sintaksis atau klasifikasi organisasi kepada anaknya tentang . Dalam proses belajarnya, seorang anak cukup memperhatikan bagaimana sang ibu berbahasa dan berperilaku.


Jadi, fenomena lingustik perlu dilihat sebagai suatu bagian kebudayaan meskipun sebagian besar lainnya dari kebudayaan merupakan bentuk non-linguistik (Bloch, dalam Borofsky, 1994, hlm. 276-283). Menurut Bloch, kebudayaan memang bukan linguistik dan tidak menyerupai bahasa, tetapi bukan berarti bahasa tidak penting bagi kebudayaan. Alih-alih memanfaatkan bahasa begitu saja, kita perlu memandang kehadiran bahasa sebagai penjelasan yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan kognisi dan budaya.
 
Referensi


Borofsky, Robert. 1994. Assessing Cultural Anthropology. New York: McGraw Hill.
Casson, Ronald W., ed. 1981. Language, Culture, and Cognition. London: Macmillan Publishing Co., Inc.
Goodenough, Ward H., ed. 1981. Culture, Language, and Society. California: The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc.
Spradley, James P., ed. 1971. Culture and Cognition:Rules, Maps, and Plans. San Fransisco: Chandler Publ. Co.