Sebetulnya saya tidak termasuk yang merayakan tahun baru ini. Tahun baru yang berarti resolusi baru untuk diwujudkan, dengan niat, semangat dan energi baru, bukannya saya tidak tahu makna itu. Tapi, saya sudah memiliki sendiri momen tersebut. Tahun baru bagi saya, bukan pada 1 Januari setiap tahun masehi.
Ada yang bisa menebak dulu?
Tidak, bukan, tahun baru bagi saya juga bukan 1 Muharram setiap tahun Hijiryah. Saya tidak merayakan tahun baru Masehi bukan karena saya lebih memilih tahun Hijriyah, seperti pendapat sebagian orang yang beragama sama dengan saya. Untuk apa? Jelas-jelas saya hidup di negara yang mengakui beraneka agama, dan sehari-harina saya lewati dengan menggunakan kalender masehi! Jadi, menggunakan kalender Hijriyah di luar kepentingan untuk jadwal ibadah (puasa, haji) dan hari raya menurut saya agak tidak masuk akal. Sekali lagi, selama saya masih berada di negri ini.
Tahun baru bagi saya, adalah… pada tanggal saya dilahirkan ke dunia ini.
Setiap tanggal tersebutlah, saya kembali mengenang detik-detik dari awal keberadaan saya di jagat raya. Saya disadarkan tentang waktu yang terentang sejak saat saya pertama kali hadir di dunia ini. Hal-hal apakah yang telah saya alami sebagai bagian dari bumi ini? Apa saja yang sudah yang telah saya lakukan, berikan pada planet kehidupan ini?
Dan BIASANYA…eh, bukan, SELALU, perasaan bangga akan prestasi hampir tidak ada apa-apanya dengan besarnya malu akan apa-apa yang belum dilakukan.
Maka, pada tanggal kelahiran saya setiap tahunnya, dengan semangat dan energi baru,
saya pun selalu menciptakan resolusi-resolusi baru dalam hidup. Di awal tahun usia yang baru, sebuah niat menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbagai hal pun diperbaharui.
Pemikiran dan perasaan saya terhadap pergantian tahun usia ini tentunya tidak hanya berlaku untuk tanggal kelahiran saya saja. Oleh sebab itu, doa dan harapan yang saya panjatkan bagi mereka yang berulangtahun selalu didasari perasaan yang sama : ia telah menjadi warga bumi ini selama sekian tahun, semoga di tahun usia berikutnya ini hidupnya memberikan arti yang lebih besar..
Namun, ada satu yang baru saya sadari tentang ‘arti tahun baru’ pada tiap awal tahun masehi.
Terlepas dari apa yang saya pikirkan tentang pergantian tahun pada tanggal kelahiran, bukankah sebagian besar orang di dunia ini merayakan tahun baru setiap 1 Januari?
Walaupun maknanya mungkin tidak se-spesial tahun baru khusus bagi seorang yang sedang berulang tahun, tapi bukankah tahun baru pada 1 Januari diperingati bersama-sama oleh banyak orang? Momen itu tidak hanya istimewa bagi seseorang, namun bagi berjuta-juta orang sekaligus!
Sesuatu yang dihargai bersama-sama tak mungkin tak indah. Lebih lagi jika adanya pembaharuan niat bersama, bersama-sama mengobarkan semangat dan energi baru, demi mencapai resolusi baru bersama..
Kebersamaan. Itulah satu yang akhirnya lebih saya rasakan pada tahun baru 1 Januari ketimbang pada tahun baru usia saya sendiri. Kebersamaan sebagai bangsa negri ini setidaknya, atau yang lebih luas: kebersamaan sebagai warga planet ini! Wahai saudara sebangsa, mari sama-sama , berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.. dan wahai saudara sebumi, marilah bersama-sama memelihara kelestarian tempat hidup kita ini…
Selamat tahun baru 2008!
Selasa, 01 Januari 2008
Sabtu, 29 Desember 2007
the SOUVENIR : sebuah berkah
Buat yg datang ke pernikahan saya dan Hamdan, pasti inget dong apa souvenirnya? Masih disimpen kan ;)
Nah, itu souvenir ceritanya emang luar biasa.
Orang paling berjasa dalam terwujudnya rencana itu adalah,
1. Papa,
2. Mas Budi Warsito, salah seorang teman kami sejak zaman kuliah (a film curator, scriptwriter, & editor)
Kalo bukan karena kengototan, keoptimisan, dan kegigihan mereka dalam menumbuhkan kepercayaan diri saya, bisa dijamin itu souvenir takkan ada.
Papa tentunya bersikap demikian karena cintanya yang luarbiasa terhadap putri sulungnya ini. Menggunakan ketegasan & wibawanya, saya tidak punya kesempatan untuk menolak, tidak sanggup memberikan opsi lain untuk menandingi kebrilianan idenya.
Sementara Mas Budi, nah...ini hebat juga mendoktrin eh mempengaruhi saya.
Karna dia, saya pun setuju, memperbanyak novel DIARY GIGI GUE alias melakukan self publishing terhadap karya tersebut.
Tujuan Papa yang punya ide gila ini, tentunya tak lain tak bukan adalah utk menyebarluaskan karya saya, mengenalkan nama saya sebagai penulis.
Tentunya, tersebarluasnya karya itu pun dicita-citakan Papa tidak sebatas sampai ke para undangan, melainkan juga sampai ke penerbit.
Sebenarnya, DIARY GIGI GUE bukannya belum pernah saya kirimkan ke penerbit.
Dengan modal pas-pasan, waktu itu satu-satunya hardcopy yang saya punya saya kirimkan ke sebuah penerbit. Sebuah penerbit, yang saya pilih dengan sangat berhati-hati, mengingat ide&topik karya saya sangat tidak biasa. Bukan soal cinta, romantika dkk, jadi saya tidak memilih penerbit-penerbit yang banyak menerbitkan karya-karya yang demikian. Hanya satu nama penerbit yg saya perkirakan mungkin tertarik.
Maka, saya kirimkan naskah DIARY GIGI GUE ke penerbit tersebut, pada kira-kira Juni 2006, setahun yang lalu. Beberapa bulan kemudian, saya mendapatkan hasilnya.
Cara mereka menyampaikannya oke berat! Disertakan dengan sinopsis, komentar (positif maupun negatif), juga penilaian yg tidak hanya deskriptif, tapi juga dilengkapi angka!
Saya sampai terncengang-cengang waktu mengeluarkan berlembar-lembar kertas dari amplop yang mereka kirimkan. Selain itu, saya juga sempat tersanjung dgn apresiasi mereka yang bertubi-tubi. Dari penilaian secara angka, semuanya sangat memuaskan...kecuali dalam satu poin penilaian : TREND.
DIARY GIGI GUE tidak sesuai dengan TREND pasaran, sehingga mereka pesimis jika diterbitkan.
Hhh. Begitulah.
Satu-satunya penerbit yang saya harapkan ternyata juga memikirkan TREND.
Penerbit yg, saya pikir, "klo bukan itu, mana lagi yg mau?"
Itulah kenapa saya malas berusaha untuk mengirimkannya ke penerbit-penerbit lainnya lagi. Untuk mencetak 1 buku saja, bukan tidak keluar banyak duit loh.
Jadi..tidak, terimakasih....mending saya lanjut menulis buku-buku lainnya!
Tapi, rencana Papa memperbanyak karya saya yg satu itu emang brilian.
Siapa sangka, dalam waktu yang tidak lama, apresiasi datang mengalir dari berbagai penjuru. Yeah, berbagai penjuru, saya tidak berlebihan karna emang pembaacanya kan semua tamu resepsi pernikahan saya: dari anak SD sampai nenek-kakek!
Dan selain itu juga, dari penerbit-penerbit yang saya kirimkan!
Karena punya banyak cetakan (sisa souvenir), saya pun hampir tidak berpikir lagi saat mengirimkannya ke banyak penerbit sekaligus (tidak lagi berpikir soal biaya nge-print). Tak tanggung-tanggung, saya kirim ke enam penerbit sekaligus!
Seperti penerbit pertama yg sudah menolak saya DULU, umumnya penerbit mengapresiasi sambil menyatakan ketidakberanian mereka berspekulasi di pasar buku, berhubung topik buku yang saya tulis jelas sangat tidak biasa. Mau dimasukin ke genre apa? Untuk kalangan apa? Semua bingung!
Tapi ada satu penerbit, yang sambil mengakui itu semua, dengan penuh semangat mengajak saya bergabung. Mereka tidak berani menerbitkan buku yang itu sekarang, tapi meminta karya saya yg lain, yg mungkin bisa didulukan untuk diterbitkan. Selagi saya masih memikirkan kemungkinan itu, penerbit lainnya, menelepon dengan meninggalkan pesan singkat : "Kami tertarik, kapan bisa ke sini?
Subhanallah. TerNYATA, ya.
Betul, memang ada yg namanya "berkah nikah" yg sering dibicarakan orang-orang itu..
Dan ya Allah, sayangilah Papa tercinta, sebagaimana besarnya sayangnya padaku!
So now here I am, working again on DIARY GIGI GUE. They asked me to write more, so I'll have to continue my research to be able to do that. Please wish me luck, wish that i can finish my work soon, wish that it's good enough, so then u can find my book in all those bookstores in Indonesia, amiin...
Nah, itu souvenir ceritanya emang luar biasa.
Orang paling berjasa dalam terwujudnya rencana itu adalah,
1. Papa,
2. Mas Budi Warsito, salah seorang teman kami sejak zaman kuliah (a film curator, scriptwriter, & editor)
Kalo bukan karena kengototan, keoptimisan, dan kegigihan mereka dalam menumbuhkan kepercayaan diri saya, bisa dijamin itu souvenir takkan ada.
Papa tentunya bersikap demikian karena cintanya yang luarbiasa terhadap putri sulungnya ini. Menggunakan ketegasan & wibawanya, saya tidak punya kesempatan untuk menolak, tidak sanggup memberikan opsi lain untuk menandingi kebrilianan idenya.
Sementara Mas Budi, nah...ini hebat juga mendoktrin eh mempengaruhi saya.
Karna dia, saya pun setuju, memperbanyak novel DIARY GIGI GUE alias melakukan self publishing terhadap karya tersebut.
Tujuan Papa yang punya ide gila ini, tentunya tak lain tak bukan adalah utk menyebarluaskan karya saya, mengenalkan nama saya sebagai penulis.
Tentunya, tersebarluasnya karya itu pun dicita-citakan Papa tidak sebatas sampai ke para undangan, melainkan juga sampai ke penerbit.
Sebenarnya, DIARY GIGI GUE bukannya belum pernah saya kirimkan ke penerbit.
Dengan modal pas-pasan, waktu itu satu-satunya hardcopy yang saya punya saya kirimkan ke sebuah penerbit. Sebuah penerbit, yang saya pilih dengan sangat berhati-hati, mengingat ide&topik karya saya sangat tidak biasa. Bukan soal cinta, romantika dkk, jadi saya tidak memilih penerbit-penerbit yang banyak menerbitkan karya-karya yang demikian. Hanya satu nama penerbit yg saya perkirakan mungkin tertarik.
Maka, saya kirimkan naskah DIARY GIGI GUE ke penerbit tersebut, pada kira-kira Juni 2006, setahun yang lalu. Beberapa bulan kemudian, saya mendapatkan hasilnya.
Cara mereka menyampaikannya oke berat! Disertakan dengan sinopsis, komentar (positif maupun negatif), juga penilaian yg tidak hanya deskriptif, tapi juga dilengkapi angka!
Saya sampai terncengang-cengang waktu mengeluarkan berlembar-lembar kertas dari amplop yang mereka kirimkan. Selain itu, saya juga sempat tersanjung dgn apresiasi mereka yang bertubi-tubi. Dari penilaian secara angka, semuanya sangat memuaskan...kecuali dalam satu poin penilaian : TREND.
DIARY GIGI GUE tidak sesuai dengan TREND pasaran, sehingga mereka pesimis jika diterbitkan.
Hhh. Begitulah.
Satu-satunya penerbit yang saya harapkan ternyata juga memikirkan TREND.
Penerbit yg, saya pikir, "klo bukan itu, mana lagi yg mau?"
Itulah kenapa saya malas berusaha untuk mengirimkannya ke penerbit-penerbit lainnya lagi. Untuk mencetak 1 buku saja, bukan tidak keluar banyak duit loh.
Jadi..tidak, terimakasih....mending saya lanjut menulis buku-buku lainnya!
Tapi, rencana Papa memperbanyak karya saya yg satu itu emang brilian.
Siapa sangka, dalam waktu yang tidak lama, apresiasi datang mengalir dari berbagai penjuru. Yeah, berbagai penjuru, saya tidak berlebihan karna emang pembaacanya kan semua tamu resepsi pernikahan saya: dari anak SD sampai nenek-kakek!
Dan selain itu juga, dari penerbit-penerbit yang saya kirimkan!
Karena punya banyak cetakan (sisa souvenir), saya pun hampir tidak berpikir lagi saat mengirimkannya ke banyak penerbit sekaligus (tidak lagi berpikir soal biaya nge-print). Tak tanggung-tanggung, saya kirim ke enam penerbit sekaligus!
Seperti penerbit pertama yg sudah menolak saya DULU, umumnya penerbit mengapresiasi sambil menyatakan ketidakberanian mereka berspekulasi di pasar buku, berhubung topik buku yang saya tulis jelas sangat tidak biasa. Mau dimasukin ke genre apa? Untuk kalangan apa? Semua bingung!
Tapi ada satu penerbit, yang sambil mengakui itu semua, dengan penuh semangat mengajak saya bergabung. Mereka tidak berani menerbitkan buku yang itu sekarang, tapi meminta karya saya yg lain, yg mungkin bisa didulukan untuk diterbitkan. Selagi saya masih memikirkan kemungkinan itu, penerbit lainnya, menelepon dengan meninggalkan pesan singkat : "Kami tertarik, kapan bisa ke sini?
Subhanallah. TerNYATA, ya.
Betul, memang ada yg namanya "berkah nikah" yg sering dibicarakan orang-orang itu..
Dan ya Allah, sayangilah Papa tercinta, sebagaimana besarnya sayangnya padaku!
So now here I am, working again on DIARY GIGI GUE. They asked me to write more, so I'll have to continue my research to be able to do that. Please wish me luck, wish that i can finish my work soon, wish that it's good enough, so then u can find my book in all those bookstores in Indonesia, amiin...
Langganan:
Postingan (Atom)