Minggu, 29 Mei 2022

Tahun yang Baik

Selama bertahun-tahun dahulu, aku pernah menyebutkan judul di atas sebagai bagian dari doa sebelum menyongsong tahun baru (baik tahun masehi, tahun hijriah, maupun tahun usiaku yang baru ... hehehe). Sepertinya yang menjadi fokusku adalah kata baik. Dalam hal sekolah, pekerjaan, jodoh, atau yang lain-lain, tentu pengalaman yang baik-baiklah yang kuharapkan. Wajar, kan? Bukankah semua orang begitu?

Waktu terus berjalan dan alhamdulillah, aku masih diberi rezeki usia hingga detik ini. Dengan kata lain, terus bertambahlah pengalamanku untuk melangkah ke depan, melewati tahun demi tahun yang baru sekaligus mengenang tahun yang telah berlalu. Apa saja kebaikan yang kualami dan harus kusyukuri?

Namun, entah sejak kapan tepatnya, aku tergelitik untuk mengkritik pemikiranku sendiri. Jika ada hal atau kejadian yang kuanggap baik, bukankah sudah tentu ada pula yang sebaliknya, yaitu yang kuanggap buruk? Apa yang kualami dan kapan aku mengalaminya?

Apakah permohonanku akan tahun yang baik menandakan bahwa aku merasa cukup banyak mengalami hal-hal buruk (atau tepatnya, kuanggap buruk) pada tahun-tahun sebelumnya? Yang seperti apa tepatnya yang dapat dinilai buruk? Apakah keburukan berarti sakit, kecelakaan, kehilangan barang atau bahkan seseorang? 

Beberapa di antaranya memang benar pernah kualami. Namun, setelah kejadiannya berlalu cukup lama (atau mungkin juga lebih cepat untuk peristiwa tertentu), aku tak yakin lagi dapat menyebutnya buruk. Bagaimana perasaanku saat menyadari sepertinya aku salah memilih jurusan saat S1, misalnya? Atau bagaimana pula rasanya ketika tidak hamil-hamil setelah tujuh tahun menikah? Jelas, aku tidak baik-baik saja ... pada saat itu. Namun, beberapa waktu kemudian, hingga sekarang, yang tersisa adalah perasaan beruntung. 

Seandainya aku masuk jurusan kuliah yang kupikir tepat, mungkin aku takkan bertemu dengan lelaki terbaik yang menjadi suamiku kini. Begitu pula soal berketurunan. Jika saja langsung hamil setelah menikah, mungkin aku tidak akan bertemu dengan anak angkatku saat ini. 

Keinginanku untuk mendapatkan hal-hal yang--kupikir--baik memang tidak selalu terwujud sepenuhnya. Akan tetapi, Tuhan Mahatahu dan selalu memberikan apa yang paling baik untukku. Hanya waktu yang kubutuhkan untuk menyadari dan menerimanya. 

Karena itulah, doaku menyambut setiap tahun yang baru sekarang sedikit "bergeser". Kusyukuri tahun-tahun penuh kebaikan yang selalu kulalui dan kupinta satu hal terpenting: semoga Dia mengizinkanku menjaga nikmat iman ini. Aamiin Allahuma Aamiin.

Bagaimana denganmu? Adakah permohonan yang khusus menjelang tahun baru atau ulang tahunmu? 

Senin, 13 Desember 2021

Dua Mata Pedang Gawai

"Fyuh ... kuletakkan ponsel pintarku setelah memeganginya selama hampir dua jam demi menyelesaikan sebuah tugas."

Kalimat cerita di atas mungkin tidak aneh atau membingungkan bagimu saat ini. Benar, tidak? Berbeda dengan tahun 2002, saat pertama kali aku mengenal telepon seluler, kini handphone tidak hanya dapat dipakai untuk menelepon, mengirim pesan melalui short messaging service (SMS) (yang menuntut ongkos untuk tiap pesan yang terkirim), atau memainkan game sederhana seperti tetris atau snake. Kita dapat melakukan instant chatting tanpa sibuk mengurangi jumlah karakter dalam pesan yang dikirimkan demi menghemat biaya, berbicara dengan banyak orang dari berbagai tempat secara bersamaan, menulis berlembar-lembar artikel atau bahkan draf novel, hingga mendesain poster atau merancang slide presentasi.

Smartphone, tab, laptop, dan gawai-gawai lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian manusia yang hidup pada zaman ini. Tujuannya jelas: meringankan kerja kita. Tulisan, gambar, video, dan beragam karya lainnya dapat dihasilkan lebih cepat dan banyak. Interaksi dan komunikasi dengan siapa saja menjadi jauh lebih mudah, meskipun terpisah jarak hingga ribuan kilometer. Jelaslah produktivitas manusia pada masa kini tak lepas dari keberadaan aneka jenis gadget.

Namun, itu baru satu sisi cerita. Bagaikan pedang yang selalu bermata dua, gawai pun dapat memberikan dua dampak yang bertentangan. Ada banyak keuntungan yang dapat diraih, tetapi tak mustahil ada lebih banyak lagi kerugian yang diperoleh.

Beragam permainan daring, buku dan komik digital, artikel di website, film dan serial televisi, hingga cerita keseharian yang dibagikan teman-teman di media sosial sering kali bermanfaat bagi kita sebagai penghibur atau penghilang kejenuhan. Sayangnya, terkadang keasyikan yang terasa membuat kita terlena dan lupa akan waktu yang terbatas dan terus berjalan. Puluhan tahun lalu, istilah kecanduan hanya sering dikaitkan dengan narkoba yang tak mudah diakses oleh semua orang. Sekarang, apa pun yang dapat dinikmati melalui layar sangat berpotensi menjadi candu bagi siapa saja--dari segala kalangan umur dan golongan lainnya--yang mengenal televisi, komputer, dan handphone.

Pada akhirnya, aku percaya pada ajaran turun temurun dari orang tua: segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sehebat-hebatnya gawai, tetap saja ada potensi buruk yang harus diwaspadai. Tidak hanya dapat membantu kita agar menjadi lebih produktif, gawai juga sangat mampu membuat kita menjadi tidak produktif sama sekali. Yang pernah kecanduan main game atau nonton film, mana suaranyaaa? XD