Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juni 2021

My Neighbor Totoro: Film Animasi Terbaik untuk Keluarga

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah menulis review atau ulasan film keluarga. Sejak tema tantangan ini digulirkan pada awal bulan, sebetulnya aku sudah terpikir ingin menulis tentang film apa. Namun, aku tidak langsung benar-benar melakukannya. Entah bagaimana, perhatianku teralihkan oleh berbagai “tantangan” lainnya … hingga hari ini, hari terakhir kesempatan mengikuti tantangan itu. Waduh … keburu atau tidak, ya? Mari kita coba sajalah.

Jadi ... judul film yang sudah terpikir lama olehku adalah My Neighbor Totoro. Ada yang tidak mengenal atau belum menonton film ini? Kuharap ada atau bahkan banyak, ya … di antara teman-teman pembaca sekalian yang budiman. Aku khawatir, kalau semua orang sudah menontonnya, jangan-jangan nanti tulisanku tidak menarik atau tidak berguna. 😄

My Neighbor Totoro memang sama sekali bukan film baru. Film animasi Jepang produksi Studio Ghibli ini pertama kali dirilis tahun 1988. Wow, sudah lebih dari empat windu yang lalu! Meskipun demikian, kepopuleran film ini tak lekang dimakan zaman. Konon, di Jepang, Totoro—karakter utama dalam film ini—sama terkenalnya dengan Winnie the Pooh di negara-negara berbahasa Inggris.

Apa atau siapa itu Totoro? Yang sudah menonton filmnya mungkin mengerti, tidak mudah menjawab langsung pertanyaan ini secara singkat. Winnie the Pooh mungkin jauh lebih mudah digambarkan. Kalau sedang malas, kurasa tidak salah jika—seandainya ada yang belum tahu (serius?)—aku menjawab dengan satu kata: beruang. Orang atau bahkan anak kecil dapat langsung membayangkan sesosok binatang besar berbulu yang dapat berdiri … oh … baiklah. Tentu tinggal masih harus kutambahkan: berwarna kuning, tidak besar, penyuka madu, baik hati, dan seterusnya agar tidak terjadi kesalahpahaman besar.  Eh, kenapa malah Winnie yang dibahas?

Mari kita beralih ke Totoro. Deskripsi singkat pertama yang ingin kucoba adalah “makhluk imajinatif”. Bagaimana? Terbayang? Ampun … tolong jangan lempari diriku! 😆😆

Kucoba lagi, ya. Secara visual, bentuk kepala Totoro agak menyerupai kelinci atau kucing, sementara tubuhnya yang berbulu mungkin sebesar beruang (wah, ternyata bahasanku tentang beruang tadi tidak melenceng terlalu jauh). Jika Totoro berdiri, tinggi badan anak usia sekolah dasar yang juga menjadi salah satu tokoh utama di film ini (menurutku ada tiga tokoh utama di sini) hanya setara dengan perutnya.

Perut yang gendut dan empuk (benar-benar ditunjukkan seperti itu, tampaknya sangat asyik dijadikan kasur) sepertinya merupakan daya tarik utama Totoro. Matanya yang bulat dan besar kurasa lebih tepat disebut tidak begitu ekspresif daripada tidak ramah. Dari sudut pandang orang dewasa, mungkin keramahannya baru tertangkap dari senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi putihnya (yang juga tidak sering terlihat).  

Bagaimana dengan sudut pandang anak-anak? Nah, kupikir itulah yang menjadi fokus dan salah satu pesan utama film ini. Melalui film ini, kakak beradik Satsuki dan Mei seolah mengajak penonton untuk selalu memandang segala hal yang ada di sekitarnya dengan positif. Totoro menjadi satu wujud contoh yang unik. Bagaimana tidak, sosok yang kemungkinan besar dicurigai dan dijauhi orang dewasa (banyak yang menyamakan Totoro dengan sosok genderuwo di Indonesia) justru dikejar-kejar oleh Mei, si anak balita yang dipenuhi rasa ingin tahu. Sama sekali tak ada pula ketakutan yang ia rasakan ketika berada di tempat asing atau saat menemukan makhluk yang jauh lebih besar dan berbeda darinya.

Aku merasa tersentil. Betul juga, ya. Apa-apa yang dianggap kotor, menjijikkan, mencurigakan, menyeramkan oleh kita (Eh, kita? Cuma aku, mungkin, ya?) ternyata belum tentu dianggap demikian pula oleh anak. Lebih jauh lagi, aku diingatkan kembali tentang kemurnian mata dan hati seorang anak. Apa yang kelak membuat mereka berubah? Apa lagi kalau bukan beragam opini orang dewasa yang terkadang bersifat sok tahu dan memaksa?

Sosok orang dewasa di dalam film ini tidak seperti itu. Nenek yang membantu membersihkan rumah tidak marah atau mencemooh saat Mei berlarian di ruangan berdebu hingga kakinya hitam legam. Sang ayah juga tidak menakut-nakuti putrinya agar mereka tidak memasuki hutan dan bermain di dalamnya.

Aku menonton (ulang) film ini beberapa bulan yang lalu bersama anak-anak. Sejak awal film diputar, raut wajah mereka begitu cerah dan dipenuhi kegembiraan. Mata si bungsu (waktu itu umurnya lima tahun) tampak sangat bersemangat mengikuti petualangan Satsuki dan Mei. Tak terhitung jumlah adegan yang membuatnya tertawa-tawa geli.

Jangan bayangkan ini sebuah film petualangan yang dahsyat. Alur cerita film ini sebenarnya cukup sederhana. Kisahnya diawali dengan kesibukan Satsuki, Mei, dan ayah mereka pindah ke sebuah  rumah tua di desa. Tidak diceritakan di mana mereka tinggal sebelumnya. Yang jelas, mereka tampak begitu antusias dengan kepindahan itu. Hampir tidak ada hal yang tidak menggembirakan bagi mereka: mulai dari rerumputan hijau yang begitu luas membentang di pekarangan rumah baru mereka, tiang kayu penyangga bangunan yang sudah lapuk dan hampir roboh, hingga makhluk-makhluk kecil hitam misterius yang melarikan diri begitu mereka sekilas melihatnya di ruangan yang baru dibuka.


Cerita selanjutnya bergulir seolah hanya demi merekam pengalaman nyata suatu keluarga. Petualangan magis yang dialami Satsuki dan Mei terangkum dalam kegiatan sehari-hari yang terasa begitu membumi. Tidak ada musibah atau kejadian besar yang dramatis, termasuk tentang sang ibu yang sakit. Kisah sakitnya ibu Satsuki dan Mei hingga harus tinggal di rumah sakit untuk dirawat dalam jangka waktu tertentu terpotret secara alami. Keterlibatan penuh sang ayah dalam mengasuh anak-anak dan kemandirian mereka dalam mengurus rumah pun menjadi hal yang wajar.

Bukankah absennya seorang ibu—dalam kesibukan keluarga sehari-hari—karena sakit dapat terjadi pada keluarga mana pun? Sepertinya ini salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis skenario sekaligus sutradara, Hayao Miyazaki. Kemungkinan besar inspirasinya datang dari pengalamannya sendiri saat kecil, saat ibunya harus dirawat selama hampir sepuluh tahun karena penyakit spinal tuberculosis.

Meskipun menyajikan kisah yang erat dengan keseharian keluarga, bukan berarti My Neighbor Totoro menihilkan unsur-unsur cerita yang menegangkan. Saat Mei hilang, misalnya. Kebingungan dan ketegangan Satsuki dalam mencarinya tidak hanya menular ke penduduk desa dalam film, tetapi juga ke penonton cilik yang duduk di sebelahku. Syukurlah, ketegangan itu tidak berlangsung lama dan tidak berakhir buruk (ini aspek penting dalam film keluarga untuk semua umur).

Kami sekeluarga sungguh menikmati film layar lebar yang berdurasi hampir satu setengah jam ini. Tidak hanya ramah anak kecil (aman dari adegan menyeramkan atau traumatis, bahasa yang tak pantas, dan sebagainya), animasi Jepang ini juga sanggup memuaskan penonton dewasa. Gambar-gambar ciamik yang amat memanjakan mata, adegan-adegan humor yang menggelikan, hingga soundtrack yang menyenangkan sangat serasi berpadu dan menghasilkan film hiburan keluarga yang pas.  

Namun, apa yang kuperoleh dari My Neighbor Totoro bukan sekadar senyum yang tersungging. Film yang dilabeli sebagai tontonan wajib oleh Metacritic—sebuah situs pengumpul ulasan film, buku, album musik, dan sebagainya—ini juga sarat akan beragam informasi dan pesan. Sementara anak-anakku secara sadar tertarik pada berbagai detail khas Jepang seperti mandi berendam air hangat bersama pada malam hari (setelah membersihkan badan di luar bak) atau kunjungan ke kuil untuk bersembahyang, aku seakan diajak merenung lebih jauh lagi tentang hubungan manusia dengan alam.

Menurut beberapa sumber, umumnya orang Jepang percaya bahwa selalu ada roh dewa yang bersemayam di hutan atau pepohonan. Keyakinan tersebut sepertinya juga menuntun mereka untuk selalu menghormati alam. Aku mungkin tidak menganut animisme atau memiliki kepercayaan yang serupa. Namun, sebetulnya, agamaku—yang kebetulan juga menjadi agama yang dipeluk mayoritas penduduk negeriku—juga mengajarkan untuk tidak berperilaku semena-mena terhadap alam yang merupakan anugerah sekaligus titipan Sang Maha Pencipta. Sayangnya, saat ini kebanyakan dari kami sering kali lupa untuk lebih memedulikan dan menghargainya.

Ini hanya renunganku, tetapi aku sungguh-sungguh merasa bahwa film My Neighbor Totoro memang secara halus menyelipkan pesan untuk memandang alam dan segala isinya sebagai sahabat ... atau marilah kita pakai istilah tetangga jika ingin sesuai dengan judul film ini. Bukankah jika dibandingkan dengan saudara yang mungkin tinggal di kota atau negara yang berbeda, tetanggalah yang terdekat dengan kita dan paling dapat diandalkan? Entah bagaimana, aku tidak dapat menahan pikiranku untuk mengembara ke arah sana saat melihat Totoro si "tetangga" dalam film ini akhirnya menjadi sosok yang sangat diandalkan oleh Satsuki dan Mei dalam menyelesaikan masalah mereka.

Nah, bagaimana? Berlebihankah jika kupakai ungkapan sederhana tetapi dalam dan menggugah untuk secara singkat menggambarkan kesan dari film pemenang beberapa penghargaan ini? Yang belum menonton, coba buktikanlah! Tontonlah sendiri ... eh, bersama keluarga, maksudku.

Hore ... alhamdulillah, akhirnya berhasil juga kujawab tantangan ngeblog kali ini. Demikianlah ulasanku tentang film My Neighbor Totoro, film yang sering disebut-sebut sebagai salah satu tontonan terbaik sepanjang masa untuk semua umur. Nah ... layaknya ulasan, aku juga harus menyebutkan kekurangan film ini. Apa, ya? Oh, mungkin ini dia: filmnya kurang panjang? Pemirsa mau lagi, lagi, dan lagi! 😅

Bagaimana menurutmu? Yang sudah menonton, yuk, tinggalkan komentarmu. Yang belum … tidakkah kalian penasaran setelah membaca ulasanku ini?

Data Film (diambil dari Wikipedia)

Judul Asli: Tonari no Totoro

Judul Terjemahan: My Neighbor Totoro

Sutradara & penulis skenario: Hayao Miyazaki

Produksi: Studio Ghibli

Tanggal Rilis: 16 April 1988

Bahasa: Jepang

Durasi: 86 menit


Sumber gambar: 

Netflix (foto saat menonton)

Senin, 26 April 2021

Perempuan Inspiratif dalam Buku "Cinta yang Berpikir"

Bagiku, tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini lebih menantang daripada biasanya. Karena adanya peringatan Hari Kartini di bulan April, tema yang diusung adalah perempuan. Namun, ada tambahan "atribut" yang cukup unik, yaitu ulasan buku. Berbeda dengan ulasan biasa, kali ini ulasan buku yang kami tulis harus memuat sosok perempuan inspiratif yang berhubungan dengan buku tersebut: sang penulis buku atau tokoh di dalamnya.

Memilih Bintang Utama

Sebagai penikmat dan kolektor buku, sebenarnya tak sulit bagiku menemukan buku yang ditulis oleh perempuan atau memuat tokoh perempuan. Penulis perempuan itu banyak ... bukankah aku salah satu di antaranya? Namun, kecuali diam-diam mengidap penyakit narsisisme kronis, mana mungkin aku mengulas sosokku dan bukuku sendiri? Aku pun masih cukup tahu diri untuk tidak menawarkan atau meminta temanku yang lain untuk mengulas karyaku. Alasannya jelas sekali: label "inspiratif" itu teramat jauh dari buku maupun sosokku sendiri, kira-kira mungkin sejauh Bimasakti dengan galaksi lain.

Nah ... sebenarnya aku juga bingung memilih sosok perempuan inspiratif dari buku-buku yang pernah kubaca. Dari novel-novel, tokoh perempuan yang menginspirasi bagiku terlalu banyak. Aku mengidolakan mulai dari tokoh fiktif bernama Georgina alias George dalam cerita petualangan Lima Sekawan hingga almarhumah Ibu Ainun Habibe dalam buku biografi Habibie Ainun. Begitu pula dengan para penulis perempuan yang kutahu. Aku mengagumi mulai dari penulis buku anak lokal Watiek Ideo hingga sastrawati dunia Jhumpa Lahiri. Jadi, siapa yang harus kupilih sebagai bintang utama kali ini?

Pencerahan kutemukan saat aku menjalani rutinitas harianku dan merenunginya: peranku sebagai orang tua dari anak-anak pesekolah rumah alias homeschoolers. Jika diingat-ingat lagi, keseharian yang aku, suamiku, dan anak-anakku lalui cukup banyak dipengaruhi ilmu-ilmu parenting yang sekarang cenderung mudah diperoleh dari berbagai sumber. Berbagai buku, kursus, pelatihan, talkshow, webinar, kulwapp, dan sumber lainnya menyumbang cukup banyak pengetahuan yang kami butuhkan --sebagai orang tua zaman sekarang-- dalam mengasuh dan mendidik anak. Di antara semua itu, satu sumber yang cukup besar pengaruhnya bagi kami adalah buku karya Ellen Kristi yang berjudul Cinta yang Berpikir: Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason (Edisi Revisi).   

Salah Satu Buku Kesayanganku 

Sang Penulis dan Sumbangsihnya untuk Negeri

Ellen Kristi atau yang akrab dipanggil dengan sebutan "Mbak Ellen" adalah seorang ibu, praktisi homeschooling, dan pegiat sebuah lembaga swadaya masyarakat. Perempuan asli Semarang ini juga pernah berprofesi sebagai dosen Filsafat di Universitas Diponegoro. Selain menulis buku Cinta yang Berpikir, ia membangun berbagai komunitas Charlotte Mason (CM) dan membuat situs Charlotte Mason Indonesia (CMid). Dengan berbagai jalan itulah, Mbak Ellen melambungkan nama Charlotte Mason, seorang tokoh perempuan pendidik yang hidup di era Victoria, di dunia pendidikan di Indonesia.  

Dalam prakata yang ditulisnya untuk buku Cinta yang Berpikir, Mbak Ellen bercerita tentang panggilan jiwanya untuk menuliskan pemikiran-pemikiran Charlotte Mason perihal pendidikan. Menurut Mbak Ellen, dari sosok guru perempuan yang berkepribadian mengagumkan itu, telah lahir ide-ide yang kaya, mendalam, dan menakjubkan. Semua ide itu terekam dalam beberapa jilid buku tebal dan banyak sekali artikel lepas yang ditulisnya.

Sebenarnya, Mbak Ellen yakin bahwa cara terbaik bagi siapa pun yang ingin mendalami pemikiran-pemikiran Charlotte Mason adalah membaca langsung tulisan-tulisan beliau. Akan tetapi, karena mempertimbangkan pemakaian bahasa Inggris klasik dalam ribuan halamannya dan kekentalan muatan filsafat dalam tulisan-tulisan tersebut, beliau memutuskan untuk  membuatkan "jembatan"nya melalui buku Cinta yang Berpikir. Dengan kata lain, Mbak Ellen berharap buku ini dapat membantu orang tua, guru, atau praktisi pendidikan lainnya di tanah air dalam mempelajari gagasan-gagasan Charlotte Mason.

Buah Pemikiran Sang Guru

Sosok Charlotte Mason sebagai guru yang luar biasa diperkenalkan di bagian prolog buku Cinta yang Berpikir. Berbeda dengan kebanyakan guru pada zamannya yang lebih otoriter dan gemar menggunakan kekerasan fisik, Charlotte Mason selalu bersikap penuh kasih dan bijaksana dalam mendidik murid-muridnya. Alih-alih melihat anak sebagai kertas kosong yang harus diisi oleh orang dewasa yang mendidiknya, beliau mengibaratkan anak sebagai obor yang hanya menunggu pemantik agar apinya dapat berkobar. 

Dengan meyakini tiap anak lahir dengan kelengkapan nurani, hasrat, emosi, dan bakat masing-masing, Charlotte Mason berpandangan bahwa tugas orang tua dan guru hanyalah memaksimalkan setiap kekuatan dan mengatasi segala kelemahan mereka. Dengan percaya bahwa tiap anak terlahir setara dan menyimpan potensi kecerdasannya masing-masing, ia menolak pemikiran yang mendiskrimasi ras, gender, atau kalangan sosial tertentu dalam mendapatkan hak pendidikan. Charlotte juga menegaskan bahwa pendidikan rumah harus diutamakan dan orang tualah, bukan guru, yang paling bertanggung jawab dalam membesarkan anak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dunia. 

Sejatinya, metode pendidikan yang digagas oleh Charlotte Mason dapat dipakai dalam konteks pendidikan berbasis keluarga maupun sekolah formal. Namun, buku Cinta yang Berpikir lebih dimaksudkan Mbak Ellen sebagai manual dalam pendidikan keluarga yang menyoroti orang tua sebagai penanggung jawabnya. Karena itulah, pemikiran Charlotte Mason yang dibukukan dalam serial Home Education menjadi sumber utama penulisan buku Cinta yang Berpikir ini. 

Isi yang Kaya

Mbak Ellen juga mengakui bahwa selain tulisan karya Charlotte Mason tersebut, pengalaman bersama anak-anaknya dalam menerapkan metode CM serta berbagai bacaan dari para pemikir dan praktisi pendidikan lainnya juga turut memperkaya isi buku Cinta yang Berpikir. Kemudian, demi memudahkan para pembaca, muatan yang sangat padat tersebut diklasifikasikannya menjadi tiga bagian besar: sekilas filosofi, sekilas kurikulum, dan sekilas komparasi. Di bagian awal buku (sebelum prolog), diuraikannya pula secara jelas gambaran tiap bagian dan rekomendasi urutan membacanya untuk mendapatkan pemahaman yang mudah, utuh, dan tepat sasaran.

Saran lain yang diberikan Mbak Ellen dalam membaca bukunya ini adalah membaca satu demi satu bab (terutama di bagian filosofi) secara perlahan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Tujuannya adalah agar kita dapat benar-benar meresapi pesan yang terkandung dalam tiap bab tersebut. Sebagai orang yang terbiasa membaca cepat dan banyak, aku merasa sangat sulit mengikuti petunjuk ini. Walaupun demikian, memang benar terasa manfaatnya ketika aku sukses melakukannya. Jelas pula rasanya berbeda dengan ketika aku buru-buru melahap dua atau tiga bab sekaligus. 

Selain karena kebiasaan, mungkin yang membuatku beberapa kali terlalu cepat membaca bab-bab di bagian pertama adalah karena beberapa pemikiran filosofis yang dipaparkan sebetulnya bukan baru pertama kali kudapatkan. Beragam pendekatan dan metode parenting yang telah kupelajari sebelumnya dari beberapa sumber sebetulnya juga bersinggungan dengan apa yang digagas oleh Charlotte Mason. Akan tetapi, setelah mencoba mengikuti petunjuk Mbak Ellen, aku menyadari hal yang esensial: sekadar tahu atau bahkan pernah dengar saja ternyata tidak cukup. 

Sebagai contoh, cobalah pikirkan, siapa sih yang tidak tahu di zaman sekarang bahwa anak merupakan titipan Sang Pencipta yang menjadi tanggung jawab utama orang tuanya? Bukankah mungkin hampir semua penduduk bumi saat ini setidaknya pernah mendengar prinsipnya? Namun, apakah dengan demikian, otomatis tiada lagi orang tua di dunia ini yang bersikap seolah-olah sang anak adalah harta miliknya yang bebas diatur menurut kewenangannya sendiri? 

Aku dan Para Titipan Ilahi

Oleh karena itulah, membaca perlahan secara berurutan (untuk yang kesekian kalinya) setiap bab dalam bagian pertama buku Cinta yang Berpikir ini sama sekali tidak membuang-buang waktu bagiku. Aku merasa diingatkan kembali dan rasanya sikapku dalam berhubungan dengan anak-anak pun turut terpengaruh. Setiap gagasan berharga yang terkandung di dalam buku ini selalu menggugahku ketika aku meresapinya perlahan-lahan.

"Sepertiga hasil pendidikan disumbang oleh atmosfer rumah tangga, yakni ide-ide yang memancar dari kepribadian kedua orang tuanya, yang mereka jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari." - Charlotte Mason 

Menurut Mbak Ellen, cara membaca secara acak dapat diterapkan ketika memasuki bagian kedua buku Cinta yang Berpikir. Bagian yang berjudul "Sekilas Kurikulum" ini memaparkan konsep dan instruksi untuk menerapkan pendidikan anak usia sekolah menurut kurikulum CM, yang juga kerap disebut "kurikulum pembangunan watak 12 tahun". Luas dan seimbangnya kurikulum CM dapat terlihat dari beragam subjek pelajaran yang dibahas secara khusus. Di antaranya ada membaca, menulis, tata bahasa, pendidikan agama, sejarah, sastra dan puisi, kewarganegaraan, bahasa asing, musik dan seni, sains, matematika dan logika, pendidikan jasmani, hasta karya dan keterampilan praktis, serta bacaan dan kegiatan bebas. Semua bidang pelajaran -beserta berbagai kegiatan yang disarankan di dalamnya- ini tetap memiliki satu target besar, yaitu pemuliaan karakter anak. 

Di bagian kurikulum, kita dapat menemukan bahasan khusus tentang living books, ikon metode CM yang makin populer belakangan ini. Istilah living books merujuk pada pustaka yang mengandung ide-ide berharga yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya. Charlotte berpendapat bahwa penuturan gagasan secara baik, tepat, dan indah wajib ada dalam setiap buku bacaan anak. Keberadaan buku-buku dengan kriteria seperti ini dianggap sangat penting dalam kurikulum CM. Setiap praktisi metode CM diharapkan selalu menyediakannya, dalam bentuk buku fiksi maupun nonfiksi, untuk menunjang tiap bidang pelajaran.  

Poin penting lainnya dalam proses belajar CM adalah bernarasi. Menurut Charlotte, kegiatan ini merupakan proses belajar yang penting karena menuntut kemampuan untuk meringkas, mengklasifikasi, menyimpulkan, menimbang, memvisualisasi, memilah, dan menggarap suatu gagasan. Anak yang terlatih bernarasi akan mampu menyampaikan apa yang diserapnya dalam tatanan kalimat yang runtut dan mudah dipahami orang lain. 

Hal lain yang kusukai dari bagian kurikulum di buku Cinta yang Berpikir ini adalah adanya penjelasan mengenai tujuan disarankannya kegiatan tertentu. Kurasa tiap orang tua atau guru yang ingin mengikuti kurikum ini memang diharapkan mengutamakan penghayatan atas prinsip-prinsip dasarnya. Selanjutnya, setiap praktisi dapat lebih leluasa mencari atau menciptakan variasi penerapannya sesuai dengan konteks keperluannya masing-masing.

Di bagian terakhir yang berjudul "Sekilas Komparasi", Mbak Ellen memberikan bonus pengetahuan berupa perbandingan antara CM dengan beberapa metode pendidikan lainnya, seperti Montessori, Waldorf, dan unschooling classical education. Paparan singkat tentang beragam metode tersebut tentu akan makin mengenyangkan para pembaca buku ini. Namun, bagiku pribadi, bagian itu justru kuanggap sebagai salah satu kekurangan buku ini. 

Tiada Gading yang Tak Retak

Kebetulan, CM memang bukan metode pendidikan yang pertama kali kupelajari begitu memutuskan akan melakukan homeschooling beberapa tahun yang lalu. Perkenalan dengan metode Montessori dan Waldorf sudah kulalui terlebih dahulu. Aku pun mulai berusaha mendalami keduanya secara serius  berbarengan dengan perkenalanku dengan CM (aku sudah menyelesaikan pendidikan diploma Montessori dan sedang bersiap untuk melakukan hal yang sama pada Waldorf). Kurasakan adanya perbedaan antara kesan sekilas dengan wawasan menyeluruh tentang metode-metode tersebut. 

Uraian perbandingan yang diberikan Mbak Ellen dalam bagian terakhir buku Cinta yang Berpikir memang tidak salah, tetapi jauh dari lengkap dan menyeluruh. Jika diumpamakan, ini seperti melihat gajah hanya dari bagian ekornya sehingga belalai dan gadingnya yang indah tidak terlihat. Menurutku, kesalahpahaman dapat timbul, terutama bagi para pembaca yang sama sekali belum mengenal metode-metode selain CM itu. Lebih jauh lagi, aku khawatir orang-orang akan kehilangan ketertarikan untuk menggalinya lebih dalam, padahal ini bukan sikap yang bijaksana dalam dunia pendidikan.

Akhir Kata

Di atas kekurangan itu, aku merasa buku Cinta yang Berpikir (Edisi Revisi) tergolong buku yang layak dan sangat bermanfaat untuk dimiliki oleh tiap praktisi pendidikan. Sesuai dengan judulnya, buku ini dapat menyadarkan atau mengingatkanku kembali bahwa  perasaan cinta harus dilengkapi dengan pemikiran dan penghayatan yang mendalam agar dapat membuahkan pendidikan yang arif dan bijaksana. Dari buku ini pula, kutemukan tak sedikit inspirasi dari dua perempuan yang hidup di tempat dan zaman yang jauh berbeda: Charlotte Mason dan Ellen Kristi.

Data Buku

Judul: Cinta yang Berpikir - Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason
Penulis: Ellen Kristi
Penyunting: Willy Chrisna Dinata
Desainer Sampul: Eunike Nugroho
Penerbit: Ein Institute
Tahun Terbit: 2016 (Edisi Revisi)
Jumlah Halaman: xviii + 263 halaman


Artikel ini mendapat penghargaan "10 besar Terbaik Tantangan Blogging April 2021" dari Komunitas Mamah Gajah Ngeblog