Sabtu, 31 Juli 2021

Tertawa dan Belajar

Apa kabar, teman-teman? Semoga semua sehat, ya. Jika ada yang sakit, semoga segera sehat kembali. Siapa sangka ya, setelah satu setengah tahun sejak era pandemi Covid-19 dimulai, pertanyaan seputar kabar kesehatan ini masih terasa berat, bahkan makin berat dalam dua bulan terakhir ini. Di lingkungan sekitarku, suara sirene ambulans bolak-balik terdengar. Kabar duka silih ganti berdatangan di berbagai grup whatsapp.

Tantangan Ngeblog Bulan Juli



Menimbang latar situasi di atas, salah satu grup whatsapp favoritku, Mamah Gajah Ngeblog, berinisiatif meluncurkan tantangan menulis dengan tema yang sangat mulia unik karena diniatkan untuk menghibur para pembacanya: cerita lucu. Selain unik, sepertinya tantangan ini berat juga ya, bagi kebanyakan penulis atau blogger. Tidak semua orang terlahir berbakat untuk melucu, bukan?

Sebagai anggota kelompok yang baik, setia, dan agak gemar menabung pahala ambisius, tentu aku takkan melewatkan tantangan ini. Ada bakat melucu atau tidak, tak usahlah kukhawatirkan sekarang. Biarkan Tuhan dan pembaca yang menentukan. Tugas kami hanya berusaha. Bukan begitu, Kawan?

Baik, mari kita mulai. Tolong jangan lempari tulisan ini jika ternyata nanti tulisanku tidak ada lucu-lucunya, ya. Namanya juga usaha. Cukup senyumi saja ya, Kak. Ingat, senyum adalah sedekah, Kak. 


Cara Melahirkan Tawa

Tentu saja aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan “Bagaimana cara membuat orang tertawa?”

Tak satu pun anggota keluargaku berprofesi sebagai komedian. Sosok terdekat yang terpikir saat ini olehku dalam hal melucu mungkin beberapa teman yang dulu pernah berkegiatan di unit kegiatan yang sama. Kini mereka menjadi influencer yang kalau tidak salah (karena aku tidak begitu mengikutinya) sering membuat konten-konten lucu. Aku pun iseng mencari tahu apa dan bagaimana tepatnya hal-hal yang disebut lucu.

Rupanya temuanku dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar (ini menurutku pribadi, tentu saja, jadi tak usahlah kalian repot-repot mencari artikel jurnal hanya untuk mengecek pernyataan ini). Kategori pertama adalah suatu kesalahan atau keganjilan. Kategori kedua sebenarnya mungkin bukan kesalahan, tapi dicari-cari kesalahan/kejanggalannya. Para stand up comedian pasti paling jago menciptakan lawakan dari kategori terakhir ini.

Berbekal temuan itu, aku mendapat sedikit pencerahan tentang rencanaku menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini. Aku bukan komedian, jelas. Jadi, sebaiknya kulupakan kategori kedua untuk menghindarkan pembaca dari rasa mual dan mulas. Aku harus ingat niat mulia grup kesayanganku yang kunyatakan di atas tadi: tulisan ini diharapkan dapat menghibur pembaca, bukan malah menambah penderitaan.


Salah Pangkal Tertawa

Kesalahan seperti apa yang dianggap lucu? Sebenarnya aku juga penasaran pada hal ini. Apakah ada yang penelitian yang sudah diterbitkan dalam artikel jurnal, mungkin, khusus untuk membahas ini? Aku hanya bertanya, sih, sekadar bergaya, tidak berarti ingin langsung ikut mengupas tuntas sekarang juga. Namun, pertanyaannya serius. Kalau ada yang tahu, mohon tinggalkan komentar, ya.

Aku teringat pada adegan-adegan yang sering terjadi di antara anak-anak. Kenapa anak-anak? Karena merekalah makhluk terlucu dan termurah hati dalam menganggap apa pun yang di sekitarnya lucu. Benda jatuh saja bisa dianggap lucu, kan, oleh mereka? Waktu masih bayi, anakku pernah tertawa terkikik-kikik tak berhenti selama belasan menit hanya karena melihat lakban gulungan yang berbelok saat digelindingkan. Kurasa ia berpikir bahwa lakban itu seharusnya lurus saat menggelinding. Dengan kata lain, lakban yang  menggelinding berbelok merupakan kesalahan di matanya.

Kita semua pernah menjadi anak kecil. Apa yang terjadi seiring dengan bertambahnya umur kita? Kita makin jarang tertawa. Kita tidak lagi menganggap benda berbelok menggelinding sebagai hal yang lucu. Kita bahkan mengajarkan pada anak kita untuk tidak tertawa saat orang lain jatuh. Tidak sopan, kan?

Namun, aku ingat ajaran untuk tertawa saat diri sendiri jatuh. Entah kapan dan siapa yang mengajarkannya padaku, tetapi rasanya aku sudah tahu ajaran ini sejak kecil. Di usia dewasa, ajaran ini makin dalam. Aku lupa kata-kata tepatnya, tapi kurang lebih intinya: orang yang positif adalah orang yang dapat menertawakan dirinya sendiri. Nah, karena tidak ingin menjadi negatif (siapa juga ya, yang mau begitu), aku pun memutuskan untuk sering-sering menertawakan diri sendiri. Dengan begini, kuharap aku menjadi sehat tanpa melanggar norma kesopanan.


Mulai Belajar (Menertawakan Diri)

Teorinya sih gampang. Siapa bilang pelaksanaannya tidak sulit? Dari puluhan tahun usiaku, pengalaman terdini yang paling kuingat terkait hal ini adalah saat aku masih duduk di kelas lima SD.

Waktu itu, aku dan adikku masih selalu diantar-jemput oleh sopir Papa untuk bersekolah. Kami memakai mobil sejenis kijang (aku lupa tepatnya) dan duduk di bangku tengah. Berkebalikan dengan adikku yang rapi dan disiplin, aku sering terburu-buru naik ke mobil di pagi hari. Biasanya penampilanku masih berantakan: resleting tas belum dikunci, kemeja seragam belum dimasukkan ke rok, dan kaus kaki belum dipakai. Tentu saja kaki belum terbungkus rapi, hanya masuk sedikit ke dalam sepatu dan aku berjalan berjinjit.

Aku masuk ke mobil dalam situasi yang agak heboh seperti itu. Setelah masuk mobil, barulah aku sibuk merapikan pakaianku, memakai kaus kaki, sepatu, dan sebagainya. Tak kuperhatikan hal lainnya, termasuk menutup pintu mobil. Biasanya sopir kami yang melakukannya begitu aku duduk di dalam mobil.

Ibuku kesal sekali pada tabiatku saat itu. Ia menganggapku manja dan sering memarahiku karenanya. Berkali-kali beliau menegur agar aku menutup pintu mobil sendiri. Tentu saja aku lebih banyak lupa ketimbang ingatnya. Pada saat-saat seperti itu, sopir kami yang baik pun tetap sering membantu menutup pintu.

Itu pulalah yang terjadi pada hari istimewa itu. Mobil sudah mulai meluncur saat aku teringat belum melakukan ritual menutup pintu mobil. Otomatis aku menoleh ke samping kiri dan segera merasa lega melihat pintu telah tertutup. Oh, terima kasih, om sopirku yang selalu tak tega aku dimarahi Mama. Itulah kata-kata yang kuucapkan tulus dalam hati selagi mobil berjalan melewati beberapa rumah tetangga, sebelum menikung di belokan pertama. Sepersekian detik kemudian, aku yang masih sibuk menalikan sepatu tiba-tiba lenyap dari pandangan adik yang duduk di sebelah kananku, diikuti jerit histerisnya.

Ke mana aku pergi menghilang? Syukur berkali-kali kupanjatkan hingga kini, aku belum pergi ke akhirat waktu itu. Aku hanya terbang. Tepatnya terbang melayang ke jalanan, melewati pintu mobil yang rupanya tadi belum tertutup sempurna.

Aku Terbang (TIDAK) Seperti Ini, Tentu Saja (sumber: Froken Fokus - pexels.com)

Seperti aku yang mengira ia sudah menutupnya, sopir kami pun mengira aku sudah menutup pintu mobil itu. Sama sekali bukan salahnya, tentu. Akulah yang seharusnya bertanggung jawab pada urusanku sendiri dan tidak bersikap manja atau mengandalkan orang lain, seperti yang sudah berkali-kali dikatakan Mama.

Dahulu, tidak ada yang menertawakan kejadian ini. Semua orang menganggapnya musibah dan berempati pada sakit yang kurasakan di—maaf—bokong selama berminggu-minggu. Setelah sembuh, aku terlalu malu untuk mengingat-ingatnya. Bertahun-tahun kemudian, setelah betul-betul menghayati “pelajaran kapok” (bertekad menjadi anak yang lebih mandiri) itu, barulah aku belajar hal baru: menertawakannya.


Pelajaran Terus Berlanjut di Tingkat Sekolah Menengah

Seiring bertambahnya usia, pelajaranku dalam hal menertawakan diri terus bertambah. Tak seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang hanya kupelajari sekali seminggu di sekolah, pelajaran yang satu ini kupelajari hampir tiap hari. Kalau betul ada penelitian yang membuktikan bahwa menertawakan diri ini berpengaruh pada perkembangan moral sesorang, kurasa ada baiknya kalau ini kuusulkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan mata pelajaran. Siapa tahu aku dapat turut menyusun kurikulumnya.

Sebetulnya sih bukan niat awalku juga untuk belajar menertawakan diri sesering mungkin. Ini lebih karena terpaksa. Walau aku sudah bertekad menjadi anak yang lebih mandiri sejak insiden terbang keluar mobil saat kelas lima SD itu, entah mengapa masih banyak insiden-insiden kecil berikutnya. Dengan kata lain, kecerobohanku seakan tidak berkurang.

Saking banyaknya insiden-insiden itu, aku bingung menceritakannya dan mungkin sudah terasa biasa saja. Namun, umumnya semua melibatkan anggota tubuh yang lupa kufungsikan secara tepat. Kaki, contohnya. Entah bagaimana, kakiku sangat sering “terpelekok” (saat berjalan bagian telapak kaki terputar hingga terbalik sehingga punggung kaki di bawah, telapak kaki menghadap atas). Aku tidak tahu apakah ini bentuk kecacatan atau bukan, tetapi kurasa lebih baik menertawakannya saat sedang “kambuh”. Beberapa kali ini terjadi saat aku di lingkungan sekolah. Tak jarang aku lenyap dari pandangan teman-teman yang awalnya sedang saling menatap dan berbicara serius denganku. Tidak benar-benar lenyap, tentu. Mereka dapat segera menemukanku terkapar di ubin, tanah, aspal, atau yang tersial: selokan. Agar mereka tidak salah tingkah, kesigapanku untuk segera menertawakan diri sendiri menjadi penting.

Contoh lain berhubungan dengan … hm, aku tidak yakin sesungguhnya, apakah ini masalah mata atau memori otak. Kemudian, masalah bertambah akibat sifatku yang kurang sabar dan kurang santun saat sedang terburu-buru. Aku pasti berdosa karena menzalimi beberapa teman di sekitarku waktu SMA. Bukan sekali atau dua kali aku berkata dengan nada gusar pada mereka yang kukira belum mengembalikan pinjaman barang-barang penting seperti kalkulator dan pensil mekanik. Kira-kira begini kejadiannya.

Scientific Calculator, Benda Wajib Anak SMA IPA (sumber: Karolina Grabowska - pexels.com)

Kejadian A

Aku yang gusar: "Eh, mana tadi kalkulator gue?"

Temanku yang sabar: "Lah, itu yang lo pegang di tangan apa namanya?"

Kejadian B

Aku yang kurang berbudi baik: "Eh lo belom balikin pensil mekanik gue, ya?"

Temanku yang disayang malaikat: "Emang itu sekarang lo lagi nulis pake apa, Dy?"

Teman sekelas—apalagi yang sebangku atau duduk di bangku-bangku terdekat—adalah aset penting untuk bertahan hidup di dunia persekolahan. Oleh karena itu, dalam kasus-kasus di atas, aku tak membuang-buang waktu untuk mengajak teman-teman korban kezalimanku itu segera menertawakan kekonyolanku. Bukankah dicap konyol jauh lebih baik daripada dianggap lalim?


Pelajaran dari Angkutan Umum

Tidak hanya dari sekolah, aku juga mendapat banyak pelajaran menertawakan diri dari atas jalan raya. Yang kumaksud tepatnya adalah mobil angkutan umum. Sejak lulus SD, inilah jenis kendaraan yang paling sering kugunakan.

Hingga akhir kelas satu SMA, aku tinggal di kota Medan. Angkutan umum di sana dikenal dengan “sudako”. Selain nama yang berbeda, cara meminta sopir menghentikan mobil saat kita sedang menumpanginya pun tidak sama. Kalau tidak ada bel atau kaca penghalang antara ruang sopir dan penumpang, kita dapat berseru pada sang sopir, “Pinggir, Bang!”

Aku tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa bukan kata-kata itu yang digunakan di jalanan Jakarta. Sehari sebelum masuk sekolah, orang tuaku yang yakin akan kemandirianku hanya mengajakku mengamati rute angkot rumah-sekolah dengan cara menunjukkannya dari dalam mobil pribadi. Jarak antara rumah dan sekolahku tidak terlalu dekat. Aku harus menaiki tiga jenis mobil angkutan umum untuk satu kali perjalanan, baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Keesokan harinya, aku langsung memimpin adikku—yang sekolahnya dekat sekali dengan sekolahku—untuk praktik nyata dengan (pura-pura) gagah berani.

Aku baru menyadari kepura-puraan itu ketika harus pulang sendiri dari sekolah (aku lupa bagaimana adikku—yang belum lebih mandiri dariku waktu itu—pulang). Ternyata sebetulnya aku gugup, takut salah. Syukurlah aku termasuk anak yang taat pada orang tua. Dalam hal ini, bentuk ketaatan itu dapat terlihat dari tindakanku mengucap “Bismillah” persis saat menaiki si angkot dan “Alhamdulillah” saat angkot yang kunaiki sampai di tujuannya.

Saat benar-benar menghayati kedua arti ucapan itu, aku merasakan dampak yang cukup signifikan. Kegugupanku hilang. Aku turun dari angkot pertama dan kedua dengan lancar dan selamat. Terima kasih, Mama!

Kunaiki angkot ketiga dengan penuh rasa percaya diri. Entah kepercayaan diri itu terlalu membuncah atau bagaimana, ucapan yang seharusnya kubisikkan saat kakiku melangkah naik ke angkot rupanya keluar terlalu keras dari mulutku. Selain itu, bukan hanya volumenya yang bermasalah, melainkan juga kata-katanya. Alih-alih berbisik “Bismillah”, aku malah berseru dengan gelora semangat bertanding di Olimpiade atau sebangsanya, “ASSALAMUALAIKUM!”

Ibarat Semangat Atlet yang Berlaga di Olimpiade (Pixabay - pexels.com)

Ya Allah. Andai ada lubang di dasar angkot, ingin rasanya aku menerjunkan diri ke dalamnya. Karena tidak ada fitur semacam itu, terpaksa kutelanlah rasa maluku sembari memamerkan cengiran selebar-lebarnya pada semua penumpang. Tidak hanya tersenyum lebar, aku juga mengangguk pada setiap orang, dalam upaya membuat mereka menduga bahwa aku memang sejenis siswa teladan yang luar biasa ramah pada setiap orang.

Melihat para penumpang tersenyum-senyum memandangiku bahkan setelah aku duduk, aku menjadi gelisah. Apakah “tipuanku” tadi tidak berhasil? Apakah sebenarnya mereka tahu betul bahwa aku tadi salah berucap? Karena sibuk memikirkan semua itu, kegugupanku muncul kembali. Aku segera mengingat-ingat pesan Mama lagi. Setelah mengutuki diri karena salah mengucap “Bismillah” dan “Alhamdulillah”, terus kurapalkan kedua kata itu berulang-ulang dalam pikiran, seperti saat sedang menghafal tabel periodik unsur dalam pelajaran Kimia.

Kekhusyukanku “menghafal” baru terpecah saat aku melihat gerbang belakang kompleks rumahku terlewati. Astaga, bisa-bisanya aku malah lupa memperhatikan jalan dan bersiap-siap turun. Dengan panik, kuketukkan uang logam di tanganku ke kaca jendela belakang angkot (aku duduk di pojok belakang dengan harapan dapat menghindar dari perhatian khalayak). Kepanikanku bertambah saat ketukan uang logamku itu terabaikan dan mobil masih terus meluncur. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku pun memutuskan untuk berteriak sekuat tenaga, “ALHAMDULILLAH, PAK!”

Belajar dari kesalahan tentang “Assalamualaikum” tadi, kali ini aku tidak lagi berakting menjadi pelajar panutan. Syukurlah, kali ini aku insaf dan ingat apa yang biasanya kulakukan untuk kebaikan semua pihak: menertawakan diri sendiri. Setelah meralat ucapanku dengan “EH … MAKSUD SAYA, KIRI, YA, PAK!”, kuabaikan rasa malu yang seakan membakar wajahku dan langsung kukeluarkan suara tawaku, mempersilakan para penumpang lain untuk turut menertawaiku juga.


Pelajaran Bahasa dari Angkutan Umum

Setelah sempat bersekolah selama dua tahun di Jakarta, aku merantau ke Bandung untuk berkuliah. Kendaraan favoritku masih sama, yaitu mobil angkutan umum. Syukurlah, sesuai umur yang sudah pantas memegang KTP, aku merasa bahwa kepercayaan diriku sudah makin besar dalam menjalani hidup (tsaaah). 

Jangankan menaiki dan menghentikan angkot, menjelajahi daerah-daerah asing dan mencoba-coba rute angkutan baru pun tak lagi membuatku gugup. Saking percaya dirinya, aku pernah jauh tersesat akibat menganggap bahwa rute pergi dan pulang suatu mobil angkutan umum sama saja, seperti yang kutahu baik di Jakarta maupun Medan. Pelajaran tentang banyaknya jalan yang diberlakukan satu arah di Bandung akhirnya kupahami setelah aku tersasar beberapa belas kilo meter dari rumahku karena mengira mobil yang kunaiki itu pasti akan melewati titik yang sama.

Aku juga kembali memperhatikan perbedaan cara meminta sopir berhenti saat kita ada di dalamnya. Rupanya ucapannya hampir mirip dengan di Jakarta. Kata yang diserukan adalah "kiri" bukan "pinggir". 

Namun, ucapan "Kiri, ya!" jarang kutemukan. Yang sering kudengar adalah "Kiri, kiri!" alias bentuk repetisi kata. Ucapan lain yang juga sering kudengar adalah "Kiri, payun!" Saat mendengar ini, aku langsung merasa mendapat pencerahan mengenai alasan kenapa jarang terdengar "Kiri, Pak!" Rupanya penduduk kota kembang ini sudah punya panggilan sendiri.

Bukan hanya "Kiri, kiri!" atau "Kiri, payun!", atau "Payun, kiri!" yang kupelajari dari pengalaman naik angkutan umum di Bandung. Kuperhatikan pula bahwa orang-orang Sunda ini begitu santun dalam berkomunikasi. Selain nada bicara yang lembut, mereka juga hampir selalu menyertakan kata-kata untuk meminta maaf dan berterima kasih. Saat berusaha melewati penumpang lain atau duduk di antara beberapa penumpang, misalnya, sering kudengar kata "punten". Tak jarang pula kudengar "nuhun" atau "hatur nuhun" yang diucapkan pada sopir setelah si penumpang selesai membayar.

 Angkutan Umum di Kota Bandung (sumber: Ilman Muhammad - pexels.com)

Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak. Ingatkah teman-teman pada peribahasa ini? Sebagai perwujudan niatku untuk menjadi bagian dari bangsa yang berbudaya, aku pun bertekad mengikuti kebiasaan penduduk setempat. Kuusahakan untuk melepas pengaruh bahasa Medan maupun Jakarta dan mulai meniru cara bicara orang-orang Bandung.

Merasa sudah fasih meniru ucapan-ucapan yang kudengar di atas, suatu kali terpikir olehku untuk berimprovisasi. Saat memberikan ongkos kepada sopir, dengan riang dan semangat kukatakan padanya, "Nuhun, Payun!" 

Alangkah herannya aku ketika tak melihat ekspresi senang di wajah sang sopir. Ia malah merengutkan dahinya. "Bade kamana, Neng?" tanyanya.

Aku sudah cukup pintar untuk memahami bahwa maksud kalimat itu adalah menanyakan aku mau pergi ke mana, tetapi masih cukup bodoh untuk menjawabnya dalam bahasa Sunda juga. "Eeh, ke ... ya ke sini, Pak," jawabku sambil menunjuk gerbang kampusku.

"Oh, udah bener?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk-angguk bingung dan meskipun raut wajah si bapak sopir juga menampakkan kebingungan, akhirnya ia kembali menjalankan mobilnya.

Setibanya di kelas tempatku berkuliah, kuceritakan pengalamanku tadi kepada seorang teman yang memang asli Sunda. Namun, baru saja ceritaku sampai di bagian "Nuhun, Payun!", ia sudah menginterupsi.

"Kenapa kamu bilang gitu?"

"Ya mau bilang makasih. Bener kan, bilang 'nuhun'?"

"Kok ada 'payun'nya?"

"Ya mau nyebut panggilannya ... kayak 'Makasih, Pak', 'Makasih, Bu', gitu ... kan lebih sopan daripada 'makasih' doang?"

Apakah engkau orang Sunda atau mengerti bahasa Sunda? Kalau ya, pastilah kau paham mengapa saat itu temanku tak sanggup langsung memberiku penjelasan. Ia sibuk tertawa terpingkal-pingkal hingga hampir seperempat jam kemudian sebelum memberi tahuku bahwa "payun" itu bukan kata sapaan yang berarti "Pak", melainkan kata yang artinya "depan".

Terima kasih, Bandung. Di sini aku tak hanya meneruskan pelajaran tentang menertawakan diri sendiri, tetapi juga mendapatkan pelajaran bahasa dan pengembangan karakter: jangan sok tahu! 

Penutup

Katanya tertawa itu menyehatkan. Aku sepakat dengan hal ini dan ingin menambahkan pesan: sepertinya lebih menyehatkan lagi kalau yang kita tertawakan adalah kebodohan diri sendiri. Kurasa ini jelas jauh lebih baik daripada mengutuki atau menyesalinya berkepanjangan. Sebodoh-bodohnya pengalaman, ia tetap guru terbaik dalam hidup.

Dari kebiasaan mengenang dan membagi-bagikan cerita berbagai kebodohan ini, aku bahkan pernah sampai menerbitkan sebuah novelet, lo. Sungguh, kala itu aku hanya ingin melepas stres setelah operasi gigi bungsu. Ternyata setelah teman-teman dan keluargaku menyukainya, beberapa penerbit juga tertarik menerbitkannya. Yang lebih tak kusangka lagi, buku itu diberi label "humor", padahal awalnya aku hanya ingin curhat, bukan melucu. MasyaAllah Tabarakallah. Hidup memang penuh kejutan.

Label Humor yang Tak Kuharapkan di Buku Karyaku


Sampul Depan Bukuku, "Giginosaurus" terbitan DAR! Mizan tahun 2008

Akhir kata, izinkan aku mohon maaf, ya, teman-teman. Maaf jika berbeda dengan niat awal, ternyata tulisan ini tidak terlalu menghibur para pembaca yang budiman. Misalnya karena terlalu berempati dan bukannya ikut tertawa, malah sedih membaca ceritaku. Mohon maaf lahir batin dan tetap sehat ya, Kakak-kakak!


Rabu, 30 Juni 2021

My Neighbor Totoro: Film Animasi Terbaik untuk Keluarga

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah menulis review atau ulasan film keluarga. Sejak tema tantangan ini digulirkan pada awal bulan, sebetulnya aku sudah terpikir ingin menulis tentang film apa. Namun, aku tidak langsung benar-benar melakukannya. Entah bagaimana, perhatianku teralihkan oleh berbagai “tantangan” lainnya … hingga hari ini, hari terakhir kesempatan mengikuti tantangan itu. Waduh … keburu atau tidak, ya? Mari kita coba sajalah.

Jadi ... judul film yang sudah terpikir lama olehku adalah My Neighbor Totoro. Ada yang tidak mengenal atau belum menonton film ini? Kuharap ada atau bahkan banyak, ya … di antara teman-teman pembaca sekalian yang budiman. Aku khawatir, kalau semua orang sudah menontonnya, jangan-jangan nanti tulisanku tidak menarik atau tidak berguna. 😄

My Neighbor Totoro memang sama sekali bukan film baru. Film animasi Jepang produksi Studio Ghibli ini pertama kali dirilis tahun 1988. Wow, sudah lebih dari empat windu yang lalu! Meskipun demikian, kepopuleran film ini tak lekang dimakan zaman. Konon, di Jepang, Totoro—karakter utama dalam film ini—sama terkenalnya dengan Winnie the Pooh di negara-negara berbahasa Inggris.

Apa atau siapa itu Totoro? Yang sudah menonton filmnya mungkin mengerti, tidak mudah menjawab langsung pertanyaan ini secara singkat. Winnie the Pooh mungkin jauh lebih mudah digambarkan. Kalau sedang malas, kurasa tidak salah jika—seandainya ada yang belum tahu (serius?)—aku menjawab dengan satu kata: beruang. Orang atau bahkan anak kecil dapat langsung membayangkan sesosok binatang besar berbulu yang dapat berdiri … oh … baiklah. Tentu tinggal masih harus kutambahkan: berwarna kuning, tidak besar, penyuka madu, baik hati, dan seterusnya agar tidak terjadi kesalahpahaman besar.  Eh, kenapa malah Winnie yang dibahas?

Mari kita beralih ke Totoro. Deskripsi singkat pertama yang ingin kucoba adalah “makhluk imajinatif”. Bagaimana? Terbayang? Ampun … tolong jangan lempari diriku! 😆😆

Kucoba lagi, ya. Secara visual, bentuk kepala Totoro agak menyerupai kelinci atau kucing, sementara tubuhnya yang berbulu mungkin sebesar beruang (wah, ternyata bahasanku tentang beruang tadi tidak melenceng terlalu jauh). Jika Totoro berdiri, tinggi badan anak usia sekolah dasar yang juga menjadi salah satu tokoh utama di film ini (menurutku ada tiga tokoh utama di sini) hanya setara dengan perutnya.

Perut yang gendut dan empuk (benar-benar ditunjukkan seperti itu, tampaknya sangat asyik dijadikan kasur) sepertinya merupakan daya tarik utama Totoro. Matanya yang bulat dan besar kurasa lebih tepat disebut tidak begitu ekspresif daripada tidak ramah. Dari sudut pandang orang dewasa, mungkin keramahannya baru tertangkap dari senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi putihnya (yang juga tidak sering terlihat).  

Bagaimana dengan sudut pandang anak-anak? Nah, kupikir itulah yang menjadi fokus dan salah satu pesan utama film ini. Melalui film ini, kakak beradik Satsuki dan Mei seolah mengajak penonton untuk selalu memandang segala hal yang ada di sekitarnya dengan positif. Totoro menjadi satu wujud contoh yang unik. Bagaimana tidak, sosok yang kemungkinan besar dicurigai dan dijauhi orang dewasa (banyak yang menyamakan Totoro dengan sosok genderuwo di Indonesia) justru dikejar-kejar oleh Mei, si anak balita yang dipenuhi rasa ingin tahu. Sama sekali tak ada pula ketakutan yang ia rasakan ketika berada di tempat asing atau saat menemukan makhluk yang jauh lebih besar dan berbeda darinya.

Aku merasa tersentil. Betul juga, ya. Apa-apa yang dianggap kotor, menjijikkan, mencurigakan, menyeramkan oleh kita (Eh, kita? Cuma aku, mungkin, ya?) ternyata belum tentu dianggap demikian pula oleh anak. Lebih jauh lagi, aku diingatkan kembali tentang kemurnian mata dan hati seorang anak. Apa yang kelak membuat mereka berubah? Apa lagi kalau bukan beragam opini orang dewasa yang terkadang bersifat sok tahu dan memaksa?

Sosok orang dewasa di dalam film ini tidak seperti itu. Nenek yang membantu membersihkan rumah tidak marah atau mencemooh saat Mei berlarian di ruangan berdebu hingga kakinya hitam legam. Sang ayah juga tidak menakut-nakuti putrinya agar mereka tidak memasuki hutan dan bermain di dalamnya.

Aku menonton (ulang) film ini beberapa bulan yang lalu bersama anak-anak. Sejak awal film diputar, raut wajah mereka begitu cerah dan dipenuhi kegembiraan. Mata si bungsu (waktu itu umurnya lima tahun) tampak sangat bersemangat mengikuti petualangan Satsuki dan Mei. Tak terhitung jumlah adegan yang membuatnya tertawa-tawa geli.

Jangan bayangkan ini sebuah film petualangan yang dahsyat. Alur cerita film ini sebenarnya cukup sederhana. Kisahnya diawali dengan kesibukan Satsuki, Mei, dan ayah mereka pindah ke sebuah  rumah tua di desa. Tidak diceritakan di mana mereka tinggal sebelumnya. Yang jelas, mereka tampak begitu antusias dengan kepindahan itu. Hampir tidak ada hal yang tidak menggembirakan bagi mereka: mulai dari rerumputan hijau yang begitu luas membentang di pekarangan rumah baru mereka, tiang kayu penyangga bangunan yang sudah lapuk dan hampir roboh, hingga makhluk-makhluk kecil hitam misterius yang melarikan diri begitu mereka sekilas melihatnya di ruangan yang baru dibuka.


Cerita selanjutnya bergulir seolah hanya demi merekam pengalaman nyata suatu keluarga. Petualangan magis yang dialami Satsuki dan Mei terangkum dalam kegiatan sehari-hari yang terasa begitu membumi. Tidak ada musibah atau kejadian besar yang dramatis, termasuk tentang sang ibu yang sakit. Kisah sakitnya ibu Satsuki dan Mei hingga harus tinggal di rumah sakit untuk dirawat dalam jangka waktu tertentu terpotret secara alami. Keterlibatan penuh sang ayah dalam mengasuh anak-anak dan kemandirian mereka dalam mengurus rumah pun menjadi hal yang wajar.

Bukankah absennya seorang ibu—dalam kesibukan keluarga sehari-hari—karena sakit dapat terjadi pada keluarga mana pun? Sepertinya ini salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis skenario sekaligus sutradara, Hayao Miyazaki. Kemungkinan besar inspirasinya datang dari pengalamannya sendiri saat kecil, saat ibunya harus dirawat selama hampir sepuluh tahun karena penyakit spinal tuberculosis.

Meskipun menyajikan kisah yang erat dengan keseharian keluarga, bukan berarti My Neighbor Totoro menihilkan unsur-unsur cerita yang menegangkan. Saat Mei hilang, misalnya. Kebingungan dan ketegangan Satsuki dalam mencarinya tidak hanya menular ke penduduk desa dalam film, tetapi juga ke penonton cilik yang duduk di sebelahku. Syukurlah, ketegangan itu tidak berlangsung lama dan tidak berakhir buruk (ini aspek penting dalam film keluarga untuk semua umur).

Kami sekeluarga sungguh menikmati film layar lebar yang berdurasi hampir satu setengah jam ini. Tidak hanya ramah anak kecil (aman dari adegan menyeramkan atau traumatis, bahasa yang tak pantas, dan sebagainya), animasi Jepang ini juga sanggup memuaskan penonton dewasa. Gambar-gambar ciamik yang amat memanjakan mata, adegan-adegan humor yang menggelikan, hingga soundtrack yang menyenangkan sangat serasi berpadu dan menghasilkan film hiburan keluarga yang pas.  

Namun, apa yang kuperoleh dari My Neighbor Totoro bukan sekadar senyum yang tersungging. Film yang dilabeli sebagai tontonan wajib oleh Metacritic—sebuah situs pengumpul ulasan film, buku, album musik, dan sebagainya—ini juga sarat akan beragam informasi dan pesan. Sementara anak-anakku secara sadar tertarik pada berbagai detail khas Jepang seperti mandi berendam air hangat bersama pada malam hari (setelah membersihkan badan di luar bak) atau kunjungan ke kuil untuk bersembahyang, aku seakan diajak merenung lebih jauh lagi tentang hubungan manusia dengan alam.

Menurut beberapa sumber, umumnya orang Jepang percaya bahwa selalu ada roh dewa yang bersemayam di hutan atau pepohonan. Keyakinan tersebut sepertinya juga menuntun mereka untuk selalu menghormati alam. Aku mungkin tidak menganut animisme atau memiliki kepercayaan yang serupa. Namun, sebetulnya, agamaku—yang kebetulan juga menjadi agama yang dipeluk mayoritas penduduk negeriku—juga mengajarkan untuk tidak berperilaku semena-mena terhadap alam yang merupakan anugerah sekaligus titipan Sang Maha Pencipta. Sayangnya, saat ini kebanyakan dari kami sering kali lupa untuk lebih memedulikan dan menghargainya.

Ini hanya renunganku, tetapi aku sungguh-sungguh merasa bahwa film My Neighbor Totoro memang secara halus menyelipkan pesan untuk memandang alam dan segala isinya sebagai sahabat ... atau marilah kita pakai istilah tetangga jika ingin sesuai dengan judul film ini. Bukankah jika dibandingkan dengan saudara yang mungkin tinggal di kota atau negara yang berbeda, tetanggalah yang terdekat dengan kita dan paling dapat diandalkan? Entah bagaimana, aku tidak dapat menahan pikiranku untuk mengembara ke arah sana saat melihat Totoro si "tetangga" dalam film ini akhirnya menjadi sosok yang sangat diandalkan oleh Satsuki dan Mei dalam menyelesaikan masalah mereka.

Nah, bagaimana? Berlebihankah jika kupakai ungkapan sederhana tetapi dalam dan menggugah untuk secara singkat menggambarkan kesan dari film pemenang beberapa penghargaan ini? Yang belum menonton, coba buktikanlah! Tontonlah sendiri ... eh, bersama keluarga, maksudku.

Hore ... alhamdulillah, akhirnya berhasil juga kujawab tantangan ngeblog kali ini. Demikianlah ulasanku tentang film My Neighbor Totoro, film yang sering disebut-sebut sebagai salah satu tontonan terbaik sepanjang masa untuk semua umur. Nah ... layaknya ulasan, aku juga harus menyebutkan kekurangan film ini. Apa, ya? Oh, mungkin ini dia: filmnya kurang panjang? Pemirsa mau lagi, lagi, dan lagi! 😅

Bagaimana menurutmu? Yang sudah menonton, yuk, tinggalkan komentarmu. Yang belum … tidakkah kalian penasaran setelah membaca ulasanku ini?

Data Film (diambil dari Wikipedia)

Judul Asli: Tonari no Totoro

Judul Terjemahan: My Neighbor Totoro

Sutradara & penulis skenario: Hayao Miyazaki

Produksi: Studio Ghibli

Tanggal Rilis: 16 April 1988

Bahasa: Jepang

Durasi: 86 menit


Sumber gambar: 

Netflix (foto saat menonton)