Tampilkan postingan dengan label ketuhanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketuhanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

prestasi

Awalnya kuanggap itu prestasi , ketika satu jabatan disandangkan padaku, oleh manusia lain.

Kupikir pula itu prestasi , ketika mampu meraup sebanyak mungkin uang, melebihi banyak manusia lain.

Dan tentu yang amat meyakinkan sebagai prestasi adalah ketika kugenggam nilai-nilai tinggi dari para guru yang mengukur perolehan ilmuku.

Namun benarkah semua itu adalah prestasi seorang manusia sebagai hambaNya?

Manusia, yang jika rohnya tercabut tinggallah tulang belulang. Manusia, yang sesungguhnya tak punya apapun. Manusia, yang tujuan hadirnya di dunia adalah mencintai Penciptanya dan mensyukuri segala nikmat karuniaNya. Manusia, yg di akhir jaman akan ditanyai tentang bagaimana dirinya berguna selama hidup.

Lalu apalah arti jabatan, harta, bahkan ilmu sekalipun, jika tak memberi manfaat bagi sekitar?

Pejabat tapi tak keras usahakan kepentingan umum.

Punya setumpuk emas tapi tutup mata dari kesusahan orang lain.

Lulus cum laude tapi tak terpikir manfaatkan ilmu tuk orang banyak. Hanya untuk kepuasan pribadi, senangkan mata punya transkrip cantik?

Itukah prestasi?

Blah. Bukan! Sungguh sayang, ternyata mata ini lebih sering silau terhadap apa yang lebih tepat disebut gengsi!

Dalam kondisi apapun tetap dapat menebar sebanyak-banyaknya manfaat bagi lingkungan sebagai wujud syukur dan ibadah pada Penciptanya, itulah yang paling patut dijadikan cita-cita.

Karena saat itulah seorang manusia benar-benar berprestasi.

Tuhan, bantulah kami yang telah bertekad untuk sungguh-sungguh berprestasi di hadapanmu, bukan di mata manusia lainnya.

Jadikan kami penuh manusia-manusia penuh manfaat, yang takkan malu saat menghadapMu kelak dan bukan pikirkan soal gengsi di depan sesama manusia.. Aamiin.



h e i D Y

Rabu, 11 November 2009

Tuhan Sembilan Senti (oleh Taufik Ismail)

( Nemu karya luar biasa ciptaan Taufiq Ismail ini di sebuah blog multiply !! )


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Kamis, 14 Mei 2009

sebuah penemuan

Adalah pelajaran tentang kebesaran Allah SWT yang disuapkan pada saat yang bersamaan dengan mulainya aku belajar menggunakan logika. Awalnya, semuanya terserap dan dapat kuterapkan tanpa kesulitan yang berarti. Namun seiring dengan semakin banyaknya ilmu yang dipelajari, semakin lebih banyaknya penggunaan logika berpikir untuk mempelajari semua ilmu itu, sempat aku merasa makin kehilangan kemampuan untuk mengerti tentang hubunganku denganNYA.

Pada akhirnya, saat sampai ku pada titik meragukanNYA setelah argumen-argumen panjang berbasis logika meluncur dari batinku, satu rasa yang tak dapat diterjemahkan oleh otak ini memberontak. Tuhan itu ada. Keraguan apapun yang muncul, yang satu itu takkan bisa terbantahkan olehku sendiri.

Kebesaran Allah SWT yang harus kupahami bukan lagi sebatas DIA menciptakan bumi tempatku berpijak dan menyediakan oksigen untuk nafasku, sebatas pelajaran-pelajaran agama di masa kanak-kanakku yang dapat dicerna semudah bubur. Di usia dewasa, ada begitu banyak hal yang tak mudah saat ku berusaha memahami kebesaranNYA.

NikmatNYA yang harus kusyukuri bukan lagi hanya makanan yang tersedia di meja atau nilai yang baik di sekolah yang dapat dengan mudah diterjemahkan otakku sebagai anugerah. Kini selain tawa, ada juga tangis yang membuat otakku terseok-seok mencari artinya, sementara sang hati telah lebih dulu berhasil bangkit, melesat berlari lalu mengerakkan sang bibir untuk mengucap ”Alhamdulillah...”

Hatiku sudah ikhlas jauh sebelum ilmu dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun adalah ikhlas dan tawakal, yang jauh berbeda dengan pasrah. Pencarianku tak pernah berhenti. Walaupun pada setiap pencarian itu, penemuanku hanya semakin menunjukkan kebesaranNYA.

Allahuakbar.

Allah Maha Besar, tak ada yang tak mungkin oleh kuasaNYA.

Allah Maha Tahu, bahkan saat manusia tak tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri



hyperlink to http://sepuluhseptember.multiply.com/journal/item/44/Pemeriksaan_Infertiliti_4_dan_Sebuah_Pencerahan

Selasa, 29 Maret 2005

rinduku padaMU

Apa itu hati
Apa itu rasa

Aku lupa
Kapan terakhir kalinya
Ku mengingat kata hati
Dan ku akui sang rasa

Otak, logika
Itu yang kukenal dengan baik
Itu yang kuakui
Itu yang selalu kupuja

Bersama otak dan logika
Itu sudah cukup
Benar, kan?

Dengan otak dan logika
Tak mungkin ku salah melangkah
Benar, kan?

Benar, kan, Tuhan?
Tuhan?

Karna KAUlah yang maha benar,
Karna KAUlah yang maha tahu,
Kumohon jawab aku
Kumohon katakan padaku

Apa, KAU kata apa?
Tuhan, apa jawabMU?
Aku tak bisa mendengarmu..
Aku tak bisa melihatmu..

TUHAN!!!!
KAU dimana?!
Kenapa aku tak bisa mendengarmu?
Kenapa aku tak bisa melihatmu?

KAU ada dimana, TUHAN?
Kenapa aku tak bisa mendengarMU dalam kepalaku?
Kenapa aku tak bisa melihatMU dalam pikiranku?
Kenapa aku tak bisa menemukanMU?!?!?!


Bandung, Desember 2004
- h e i D Y -