Tampilkan postingan dengan label perenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perenungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2024

Aku yang Dulu ...

 Alhamdulillah, gara-gara tantangan menulis Mamah Gajah Bercerita, blog ini kembali dilap, disapu, lalu dipel. Kemudian, gara-gara tema "Aku" dan topik khusus "Masa Lalu" yang ditetapkan untuk tulisan minggu ini, aku jadi bongkar-bongkar diari dan surat-surat lama. Lebih tepatnya lagi, ini gara-gara aku terlalu yakin bahwa aku masih ingat seluruh masa laluku sehingga menurutku topik ini sangat mudah untuk ditulis.

Ternyata aku salah. Berawal dari kebingunganku memilih pengalaman dari masa mana yang enak untuk ditulis, pelan-pelan kusadari bahwa bagian hidup di masa lalu yang kuingat kebanyakan hanyalah berupa potongan fakta dan data peristiwa (yang sekarang rasanya tak cukup menggugah diriku sendiri untuk menceritakannya). Termasuk di antaranya kapan dan di mana aku bersekolah, apa makanan yang kuhindari, bagaimana aku sering terjatuh, siapa manusia lawan jenis yang kusukai, dan lainnya. Ternyata, aku tidak dengan rapi menyimpan memori tentang apa dan bagaimana caraku berpikir dan berpendapat, misalnya.

Kesadaran itu makin jelas ketika menemukan tulisan-tulisan rahasiaku puluhan tahun yang lalu. Sibuklah aku tersenyum-senyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala selama membaca semuanya. Rasanya tak habis pikir karena begitu berbeda dengan diriku saat ini.

Bagaimana mungkin, misalnya, dulu aku bisa ikut campur dalam urusan percintaan orang lain? Kenapa aku harus sampai ikut heboh sekali saat seorang temanku memutuskan pacarnya? Untuk apa sih, aku menulis panjang lebar tentang gagasan jodoh ideal bagiku berdasarkan pengalaman percintaan teman-teman dekatku? Oh, aku bahkan juga menuliskan teori dan analisis “masalah hubungan pertemanan” dalam berlembar-lembar draf surat ke salah satu sahabatku.

Wow. Apakah waktu luangku dulu sebanyak itu? Kurasa tidak, meskipun aku yakin bahwa memang masa-masa itu tak mungkin dibandingkan dengan kondisiku kini, saat sudah menjadi ibu dengan dua anak.

Di akhir “perjalanan singkat ke masa lalu”, kusimpan kembali teks-teks pribadi yang menggelikan itu. Sebagaimanapun memalukannya perilakuku di masa lalu, itu semua tetap bagian dari kehidupanku, pengalamanku yang berharga. Sebesar apa pun rasa malu itu, kuputuskan untuk tidak membuang atau melenyapkannya. Bukankah hanya berkat masa lalu yang seperti apa pun, aku menjadi aku yang sekarang ini?

Wahai, aku ... yang di masa lalu, di masa kini, ataupun di masa depan ...

terima kasih.

Aku mencintaimu. 


 

 

 

 


Sabtu, 01 Februari 2014

Memaknai Sang Tantangan

Selamat pagi, Februari!
Alhamdulillah. Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah membangunkanku kembali dari tidur dan mengijinkanku untuk menyapa dan menjalani sebuah hari baru. Khusus hari ini, itu berarti kesempatan untuk menjumpai awal bulan yang baru.

Seringkali berjalannya waktu menjadi tidak terasa. Sebulan telah berlalu sejak pergantian tahun masehi terakhir. Bahkan, bagiku, rasanya seperti baru kemarin jantung ini berpacu saat berusaha menyelesaikan tesis sembari sesekali melirik halaman terakhir di tahun 2013: Bulan Desember. Jika iseng-iseng langsung 'melompat' ke halaman kedua di kalender tahun 2014 ini, semua seolah terasa seperti sulap: tiba-tiba saja aki sudah sibuk memikirkan wisuda :D

Sekali lagi, alhamdulillah. Adanya target yang dikejar beserta upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapainya itulah yang membuat waktu dan kesempatan menjadi begitu berharga. Kemudian, lebih jauh lagi: menjadikan hidup dan usia yang diberikan penuh makna.

Aku pernah merasakan hal yang sebaliknya: pada suatu masa, terjebak dalam rutinitas tanpa target istimewa dalam waktu dekat. Berkebalikan dengan apa yang kurasakan belakangan ini, saat itu waktu terasa berjalan sangat lambat! Kebosanan pun menghinggapi diri. Tak jarang saya berharap jam bergerak lebih cepat sehingga saya bisa segera beristirahat. Tak terpikir bahwa itu berarti esok hari pun datang lebih cepat dan aku juga akan segera bertemu kembali dengan rutinitas yang saya hindari itu. Hahaha... *prihatin pada diri sendiri*

Waktu. Kesempatan. Usia. Tak jarang terlontar doa agar Tuhan memberikannya lebih banyak, seolah keberuntungan kita terletak pada 'jatah yang lebih': semakin beruntung orang yang usianya lebih panjang, yang lebih berkesempatan, atau yang mendapat waktu lebih banyak. Saat berjibaku dengan tesis bulan lalu pun saya masih rajin membatin mengapa sehari itu tidak lebih dari 24 jam. Maklum, sepertinya waktu itu logika hanya kugunakan untuk mengerjakan riset dan tidak untuk hal-hal lainnya. 

Aku lupa bahwa ada banyak orang-orang yang berusia sangat lanjut dan hampir sudah tidak dapat melakukan kegiatan apa pun yang justru berharap agar Tuhan segera memanggil mereka. Aku bahkan lupa pada pengalaman sendiri yang kuceritakan di atas, ketika diberikan waktu yang berlimpah tetapi justru membencinya. Aku lupa bahwa pada akhirnya, berkah tidak bergantung pada besarnya kesempatan-kesempatan yang diberikan, tetapi pada bagaimana kita mampu memanfaatkannya.

Maka, sekali lagi, alhamdulillah. Mari bersyukur ketika waktu, kesempatan, atau bahkan usia terasa semakin terbatas. Mari melipatgandakan syukur saat menyadari bahwa dalam keterbatasan itu, ada target tertentu dan langkah-langkah yang kita maksimalkan demi mencapainya. Ada perjuangan di sana dan semoga diridhai sebagai ibadah. Hanya dengan demikian, kita merasakan hidup yang sebenarnya.

Khusus terkait bulan Januari yang baru saja berlalu, aku berterima kasih pada kehadiran tantangan #30tulisan yang telah turut andil dalam 'menghidupkan' diriku di bulan itu. Meskipun tidak masuk ke dalam daftar kegiatan yang kuprioritaskan (karena tergeser oleh beberapa kepentingan lain), ia tetap sebuah tantangan yang memperkaya hidup saya pada masa tersebut. Karena itu, kusampaikan selamat pada semua teman yang juga sempat turut mencoba menjawab tantangan itu. Bagaimana pun hasilnya, aku yakin mereka, dengan prioritas kesehariannya masing-masing, memperoleh manfaat dari tantangan tersebut. Kemudian, tentunya saya bersorak lebih keras untuk yang benar-benar menyelesaikan #30tulisan karena mereka sangat membanggakan! Mudahan-mudahan dari keberhasilan menyelesaikan tantangan yang tidak ringan itu mereka dapat menarik pelajaran berharga untuk kehidupan masing-masing. Aamiin.

Nah. Untuk kita semua, selamat memulai hari yang baru dan mengejar tantangan-tantangan lainnya! Semangat hidup, semangat berjuang!

Salam,
-H e i D Y-

Rabu, 29 Januari 2014

Hingga Tiada Penyesalan


Beberapa hari yang lalu saya tersentak ketika menemukan kata-kata belasungkawa di sebuah media sosial untuk seorang teman lama. Saya pun turut menyampaikan ucapan dukacita, tidak melalui media sosial, tetapi melalui SMS. Ini karena meskipun sudah menebak-nebak, tetap saja saya belum yakin betul, siapa yang meninggal dunia. Jadi, melalui SMS itu saya sekalian bertanya walaupun tak berharap si pesan singkat akan terbalas dengan cepat. Ternyata teman saya yang sedang berduka tersebut dapat segera membalas pesan saya dan membenarkan dugaan saya dalam hati: yang meninggal dunia adalah suaminya.

Meskipun tidak dekat dengannya (kami teman sekampus, tetapi berbeda jurusan dan saya hanya mengenalnya dari 2 mata kuliah yang kebetulan kami ikuti bersama-sama), saya benar-benar merasa ikut sedih sekali dan prihatin. Saya ingat bahwa tahun lalu, ketika kami masih mengikuti mata kuliah yang sama, suaminya pun sudah beberapa kali mengalami serangan jantung. Keprihatinan saya sebagai sesama perempuan yang telah bersuami terhadap hal itu pun pernah saya tuangkan di sini.

Tahun lalu, saat teman saya itu beberapa kali tidak dapat mengikuti kuliah dan mengumpulkan tugas-tugasnya, sang dosen pengampu memberikan nasihatnya bagi kami yang hadir. Nasihat itu masih saya ingat sampai sekarang, dan seolah suara dosen favorit saya itu terngiang kembali dalam kepala saya. Kurang lebih beginilah bunyinya: “Prioritaskan keluarga. Keluarga itu nomor satu. Untuk apa mengejar kepentingan lain seperti kuliah atau pekerjaan jika keluarga terlantar? Jumlah kehadiran kurang, tidak mengumpulkan tugas, atau tidak presentasi hanya akan berakibat ke nilai. Sementara itu bagaimana akibatnya meninggalkan keluarga yang sakit? Kalau sampai terjadi apa-apa, penyesalannya seumur hidup, tidak tergantikan.”

Tentu saja setelah nasihat di atas pertama kali diperdengarkan tahun lalu, kami semua (termasuk sang dosen) juga mendoakan agar suami teman saya itu dapat segera sembuh. Banyak di antara kami yang terkesan sekali oleh nasihat tersebut dan berharap dapat mengingat serta mengamalkannya seumur hidup. Saya pun demikian. Kini, setelah mendengar bahwa suami teman saya itu telah berpulang, ‘alarm pengingat’ saya seolah berbunyi. Tidak ada yang tahu persis kapan seorang anak manusia akan berpulang, meskipun ia adalah anggota keluarga terdekat atau bahkan ‘belahan jiwa’ kita. Namun, semoga kita dapat mencegah penyesalan di akhir masa kebersamaan itu dengan memaksimalkan upaya-upaya dalam menyampaikan kasih sayang kita pada mereka. Semoga teman saya yang telah setia dan sabar mendampingi serta mencurahkan perhatian pada suaminya itu kini tidak punya penyesalan dan dapat benar-benar mengikhlaskan kepergian almarhum.


Saya teringat pengalaman beberapa belas tahun yang lalu, ketika Eyang Mama, sebutan saya untuk ibu dari papa saya, meninggal dunia. Eyang saya itu meninggal setelah beberapa tahun lamanya menderita beberapa penyakit. Salah satunya adalah demensia yang berkenaan dengan ingatannya. Setelah jatuh sakit, eyang saya hanya mengingat dan membicarakan peristiwa-peristiwa yang telah berpuluh-puluh tahun berlalu dan hampir tidak dapat mengingat apapun yang termasuk ke dalam golongan ‘memori jangka pendek’.

Terkait hal tersebut, ada suatu peristiwa yang saya kenang hingga sekarang. Pada suatu hari, saya, Papa, Mama, dan kedua adik saya mengunjungi Eyang Mama. Saat akan pulang, seperti biasa, kami berpamitan dengan mencium tangan dan kedua pipinya dan Papa saya selalu mendapat giliran terakhir untuk itu. Setelah selesai berpamitan dan sudah mendekati pagar, Papa dipanggil kembali oleh Eyang, “Wan (panggilan beliau untuk papa saya)... sun (cium)!” Kami yang mendengarnya pun geli. Kan, baru saja dicium? Namun, Papa saya hanya tersenyum lalu kembali mendatangi dan mencium Eyang. Tidak selesai di situ, beberapa kali kemudian eyang saya masih saja lupa bahwa beliau telah dipamiti dan dicium. Tanpa pernah menggerutu, papa saya pun terus menuruti permintaan Eyang.

Kejadian di atas pun diingat betul oleh mama saya di hari kepergian Eyang. Tentu saja Papa menjadi salah satu orang yang paling merasa kehilangan pada hari itu. Namun, saya melihat kerelaan dan keikhlasan yang nyata pada sikapnya. Mama mengaitkannya dengan upaya Papa yang telah maksimal dalam mewujudkan kasih sayangnya pada Eyang, terutama di hari-hari terakhirnya. “Seribu kali pun harus bolak-balik dari pagar untuk mencium Eyang waktu itu, pasti papa kalian akan lakukan. Tidak ada penyesalan sekarang. Contohlah yang seperti itu,” kata Mama penuh haru.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun. Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah dan kepadaNya jugalah kita akan kembali. Hari kembali itu memang tidak dapat diketahui sebelumnya secara tepat, tapi pasti datang. Entah diri sendiri yang terlebih dahulu berpulang atau orang-orang terkasih yang duluan pergi meninggalkan kita. Dari jalan mana pun, perpisahan itu akan terjadi. Maka, dalam kesempatan yang masih diberikan untuk bersama-sama, sikap seperti apa yang sebaiknya kita wujudkan, hingga tiada penyesalan kelak di akhir masa?

Salam,
-H e i D Y-

Senin, 25 Juni 2012

prestasi

Awalnya kuanggap itu prestasi , ketika satu jabatan disandangkan padaku, oleh manusia lain.

Kupikir pula itu prestasi , ketika mampu meraup sebanyak mungkin uang, melebihi banyak manusia lain.

Dan tentu yang amat meyakinkan sebagai prestasi adalah ketika kugenggam nilai-nilai tinggi dari para guru yang mengukur perolehan ilmuku.

Namun benarkah semua itu adalah prestasi seorang manusia sebagai hambaNya?

Manusia, yang jika rohnya tercabut tinggallah tulang belulang. Manusia, yang sesungguhnya tak punya apapun. Manusia, yang tujuan hadirnya di dunia adalah mencintai Penciptanya dan mensyukuri segala nikmat karuniaNya. Manusia, yg di akhir jaman akan ditanyai tentang bagaimana dirinya berguna selama hidup.

Lalu apalah arti jabatan, harta, bahkan ilmu sekalipun, jika tak memberi manfaat bagi sekitar?

Pejabat tapi tak keras usahakan kepentingan umum.

Punya setumpuk emas tapi tutup mata dari kesusahan orang lain.

Lulus cum laude tapi tak terpikir manfaatkan ilmu tuk orang banyak. Hanya untuk kepuasan pribadi, senangkan mata punya transkrip cantik?

Itukah prestasi?

Blah. Bukan! Sungguh sayang, ternyata mata ini lebih sering silau terhadap apa yang lebih tepat disebut gengsi!

Dalam kondisi apapun tetap dapat menebar sebanyak-banyaknya manfaat bagi lingkungan sebagai wujud syukur dan ibadah pada Penciptanya, itulah yang paling patut dijadikan cita-cita.

Karena saat itulah seorang manusia benar-benar berprestasi.

Tuhan, bantulah kami yang telah bertekad untuk sungguh-sungguh berprestasi di hadapanmu, bukan di mata manusia lainnya.

Jadikan kami penuh manusia-manusia penuh manfaat, yang takkan malu saat menghadapMu kelak dan bukan pikirkan soal gengsi di depan sesama manusia.. Aamiin.



h e i D Y

Sabtu, 23 Juni 2012

Nikmatnya Masa UAS Kemarin

Tepat setelah posting terakhir saya yang terlalu sombong tentang bagaimana saya masih suka mengakali kesempitan yang terjadi di masa-masa perkuliahan, saya mendapati diri saya tiba-tiba berada pada ruang yang tak bercelah sama sekali. Sungguh memang Tuhan Maha Adil!

Jadi, akhirnya saya kembali berkesempatan mengunjungi lapak ini setelah masa perkuliahan semester genap yang lalu berakhir. Sebenarnya Ujian Akhir Semester sudah selesai sejak dua minggu yang lalu, sih. Tapi lalu saya menghabiskan hari-hari berikutnya untuk terlalu kaget, terpesona hingga terbingung-bingung sendiri atas perubahan yang terjadi :D

Perubahan masa, maksud saya. Dari masa ketika otak saya dipenuhi berbagai jenis pekerjaan yang harus diselesaikan beserta tenggat waktunya ke masa saat tiba-tiba tidak ada yang memaksa saya harus menyelesaikan apa pada tanggal berapa dan berapa. Segalanya seperti tercerabut tiba-tiba, berbarengan. Rasa ini sangat mirip dengan di awal masa sebelumnya, ketika segala hal yang harus dikerjakan seperti serempak berjatuhan. Waktu itu rasanya seperti ada puluhan pohon yang dijejalkan dalam kepala ini. Lalu sekarang, semua pohon itu dicabut begitu saja. Hmmmm...

Dalam masa ujian akhir semester kemarin, saya tidak hanya ditenggelamkan oleh tumpukan makalah penelitian. Hal lain yang memenuhi pikiran dan perasaan saya adalah murid-murid yang membutuhkan bimbingan ekstra dalam rangka UAS juga, urusan registrasi S2 suami yang terpaksa diwakilkan pada saya karena yang bersangkutan sendiri masih di tengah laut, serta urusan mengontrakkan, merenovasi, dan mengosongkan rumah lama. Semua terjadi dalam waktu yang bersamaan! Subhanallah sekali, kan.

Berbagai jenis gerutuan sempat saya lontarkan. Kenapa jadwal UAS anak-anak SMA itu harus berbarengan dengan jadwal UAS saya sendiri? Kenapa sejak jaman kami kuliah S1 DUA BELAS TAHUN yang LALU sampai sekarang suami akan kuliah magister, Institut TEKNOLOGI Bandung tetap memberlakukan sistem pendaftaran manual?? Sungguh memalukan! Dan kenapa jadwalnya harus sangat sempit dan lagi-lagi, berbarengan dengan UAS saya? Dan kenapa suami tidak bisa pulang saat ada orang yang ingin mengontrak rumah kami?

Oya, lalu ada bonus lagi: laptop saya, satu-satunya komputer yang ada di rumah, sukses tidak bisa dinyalakan pada suatu malam menjelang tenggat waktu pengumpulan makalah. Dan saat itu bukan hanya gerutuan lagi yang keluar, melainkan air mata berderai-derai. Hahahaha.



Saya sungguh-sungguh berharap tidak akan mengalami masa-masa seperti itu lagi. Namun, saya sadar bahwa sesungguhnya saya sangat berdosa karena lalai bersyukur pada masa tersebut. Tidak hanya kesusahan yang saya alami. Begitu banyak nikmat, anugerah tak terduga juga diturunkan pada masa itu.

Meskipun datang pada masa yang merepotkan, ada orang yang akhirnya mau menyewa rumah kami jelas sebuah anugerah. Saya pun sadar untuk segera mengerem keluh kesah saat sibuk menyiapkan urusan penyewaan, renovasi dan pindahan itu.

Lalu soal urusan pendaftaran S2 di ITB. Tentu saya tetap mengkritik keras prosedur yang sangat tidak efisien itu. Namun hikmah di balik segala kerepotan itu adalah perkara lain. Saat itu, bukan saja saya yang menjadi kesal. Hamdan pun jadi gelisah. Jadwal pendaftaran yang tak sesuai dengan jadwal kerjanya jelas hal di luar kuasanya sendiri. Lalu nikmat itu pun diturunkan. Demi menyelesaikan semua persoalan, kami bekerjasama. Saya menyelesaikan segala urusan pendaftaran S2nya, kemudian Hamdan membantu saya dalam menyelesaikan semua makalah saya. Mulai dari membantu berpikir, mengumpulkan data dari potongan koran di kapalnya, sampai ikut begadang, menemani dan menyemangati saya dari jauh. Sungguh romantis tak terkira.

Saya jadi teringat kata-kata Mama dulu saat saya dan Hamdan baru menikah. Pencapaian apapun setelah berumah tangga bukanlah pencapaian suami atau istri sendiri, melainkan pasti pencapaian bersama. Jika salah seorang di antaranya sukses berkarya, misalnya, maka sesungguhnya itu adalah karya berdua. Pun jika salah seorang di antaranya lulus S3, maka sebenarnya gelar doktor itu milik keduanya! Dan sekarang saya pun baru benar-benar merasakan maksud kata-kata Mama itu. Subhanallah, alhamdulillah :)

Sekarang, saya ingin bersungguh-sungguh menikmati kelegaan ini. Menurut hemat saya, hal seperti ini memang harus diresapi. Karena jika tidak, gampang sekali saya tergelincir menjadi manusia yang tak tahu bersyukur. Saat penuh, mengeluh. Saat kosong, mengeluh lagi. Lalu keluh-keluh tak disadari sebagai ketidakbersyukuran karena alasan umum : ingin yang sedang-sedang saja. Blah.

Siapa bilang bersyukur itu gampang? Bukankah manusia yang penuh dengan rasa tak puas dan mudah iri adalah jenis makhluk yang harus terus berusaha seumur hidupnya untuk belajar bersyukur? Tidak selalu melihat ke atas atau hal yang lebih enak mungkin adalah satu cara yang bisa ditempuh. Sungguh saya merasakan ketersiksaan itu ketika otak dipenuhi pikiran-pikiran seperti "Coba ada ini..., coba kalau ini bisa begitu...". Ketika semua keluh kesah itu dieliminasi dan saya fokus menikmati hikmah yang berlimpah, secara otomatis saya pun lebih berbahagia :)

Ah, sungguh saya orang yang teramat sangat beruntung. Alhamdulillah...

Mari bersyukur!
- H e i D Y -

Terimakasih pada pencipta gambar! Saya unduh dari sini.

Sabtu, 30 Mei 2009

hari ulang tahun

Bagiku, hari ulang tahunku adalah hari tahun baru. Tahun usiaku yang baru. Tahun baru bagi diriku sendiri.

Dan layaknya orang yang merayakan tahun baru dengan berkontemplasi, mengenang perjalanan yang telah dilaluinya, mensyukuri segala nikmat dan semua pencapaian hidupnya, mengingat kesalahan-kesalahan agar tak terulang serta membuat resolusi, itu pulalah yang kulakukan pada malam hari ulang tahunku.

Semoga aku selalu mampu mensyukuri hidupku ini. Semoga aku bisa memanfaatkan sebaik-baiknya usia yang diberikanNYA. Semoga senantiasa aku menjadi manusia yang berguna bagi bumiku, bagi bangsa dan negaraku, bagi agama dan semua saudaraku, bagi lingkunganku, bagi teman-teman dan sahabat-sahabatku, dan bagi keluargaku. Amiin.

Selamat tahun baru, Aku.

-pada salah satu peringatan tahunanku menjadi penghuni bumi-

Kamis, 14 Mei 2009

sebuah penemuan

Adalah pelajaran tentang kebesaran Allah SWT yang disuapkan pada saat yang bersamaan dengan mulainya aku belajar menggunakan logika. Awalnya, semuanya terserap dan dapat kuterapkan tanpa kesulitan yang berarti. Namun seiring dengan semakin banyaknya ilmu yang dipelajari, semakin lebih banyaknya penggunaan logika berpikir untuk mempelajari semua ilmu itu, sempat aku merasa makin kehilangan kemampuan untuk mengerti tentang hubunganku denganNYA.

Pada akhirnya, saat sampai ku pada titik meragukanNYA setelah argumen-argumen panjang berbasis logika meluncur dari batinku, satu rasa yang tak dapat diterjemahkan oleh otak ini memberontak. Tuhan itu ada. Keraguan apapun yang muncul, yang satu itu takkan bisa terbantahkan olehku sendiri.

Kebesaran Allah SWT yang harus kupahami bukan lagi sebatas DIA menciptakan bumi tempatku berpijak dan menyediakan oksigen untuk nafasku, sebatas pelajaran-pelajaran agama di masa kanak-kanakku yang dapat dicerna semudah bubur. Di usia dewasa, ada begitu banyak hal yang tak mudah saat ku berusaha memahami kebesaranNYA.

NikmatNYA yang harus kusyukuri bukan lagi hanya makanan yang tersedia di meja atau nilai yang baik di sekolah yang dapat dengan mudah diterjemahkan otakku sebagai anugerah. Kini selain tawa, ada juga tangis yang membuat otakku terseok-seok mencari artinya, sementara sang hati telah lebih dulu berhasil bangkit, melesat berlari lalu mengerakkan sang bibir untuk mengucap ”Alhamdulillah...”

Hatiku sudah ikhlas jauh sebelum ilmu dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun adalah ikhlas dan tawakal, yang jauh berbeda dengan pasrah. Pencarianku tak pernah berhenti. Walaupun pada setiap pencarian itu, penemuanku hanya semakin menunjukkan kebesaranNYA.

Allahuakbar.

Allah Maha Besar, tak ada yang tak mungkin oleh kuasaNYA.

Allah Maha Tahu, bahkan saat manusia tak tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri



hyperlink to http://sepuluhseptember.multiply.com/journal/item/44/Pemeriksaan_Infertiliti_4_dan_Sebuah_Pencerahan

Kamis, 16 Oktober 2008

apakah kita sedang berlomba?

ini lintasanku, jalanku
dan itu lintasanmu, jalanmu

apakah kita akan berlomba..?

sepatuku sudah siap, sudah kukencangkan talinya
dan sudah kulihat, kamu pun juga

apakah kita akan berlomba..?

sekarang, mari berlari
aku menuju satu titik di sana
dan kamu titik yang di sana
titik yang berbeda

apakah kita berlomba..?

aku dan kamu sama-sama berlari
tapi bukan menuju tempat yang sama
aku berlari di atas jalanku
kamu berlari di atas jalanmu

maka, apakah kita sedang berlomba..?

jika kamu semakin mendekati titik tujuanmu
tentu, sepenuh hati aku turut bersorak untukmu
dan semoga dengan aku makin menjauhi garis startku
kuyakin, kamu pun bersenang hati mendukungku

tapi, apakah kita sedang berlomba..?

aku sungguh tak bisa menjawab jika kamu bertanya,
apakah aku sudah melewati itu, dan itu
apakah kamu pun bisa menjawab jika aku bertanya
sudahkah kamu melewati ini, dan ini

apakah kita sedang berlomba...?

tentu tidak, kawan
sampai kapan pun
aku takkan bisa menjawab semua pertanyaanmu
dan begitu pula dirimu yang takkan mengerti pertanyaanku

memang betul kawan,
dunia kita satu dan sama
dan kita hidup berdampingan

tapi ini hidupku, itu hidupmu
ini jalanku, itu jalanmu
maka sungguh maaf, temanku tercinta
kuyakin kita tak mungkin sedang berlomba


- H e i D Y -
Untuk diriku sendiri dan siapapun di dunia ini yang sering lupa melihat lintasan larinya sendiri. Mari semangat dan berlari, karna titik yang menanti di ujung sana sungguh indah tak terkira...

Rabu, 15 Oktober 2008

Tolong bantu...

karna aku tidak tahu harus mulai dari mana:


seorang pejabat negara yang memakai uang rakyat untuk membeli mobil pribadi ke-4nya

atau

seorang jutawan yang berusaha mendapatkan asuransi kesehatan bagi rakyat miskin

atau

seorang pemilik perusahaan yang memilih tidak menghentikan bencana atas kelalaiannya demi kesempatan menyalahkan sang alam

atau

seorang bapak yang tidak menyekolahkan anaknya demi 3 bungkus rokok kebutuhannya setiap hari

atau

hanya seorang, siapa pun dia, yang tidak mengeluarkan zakatnya.


mendukung Blog Action Day 2008,
KEMISKINAN SEHARUSNYA TIDAK TERJADI.



- H e i D Y -

Selasa, 14 Oktober 2008

CITA-CITA UNTUK CINTA

Saat ini, cita-citaku untuk cinta sebetulnya tak terlalu muluk.
Tentu, aku tahu...sebesar apapun hasratku, cita-citaku untuknya,
segalanya harus dimulai dari sebuah langkah kecil..
yang perlahan tapi pasti.

Dengan kemampuanku sekarang ini,
dengan energiku saat ini,
aku tahu...
belum sanggup ku gapai langit itu.

Dengan kedua lengan yang masih melingkar kecil,
ya, aku tahu,
masih belum sanggkup ku peluk dunia ini.

Maka mari mulai dari langkah kecil.
Setidaknya, sekarang ini...
ku berharap tuk setidaknya bisa
bantu hidupkan senyum di hatimu



atas nama cinta,
- H e i D Y -


Untuk tunas-tunas yang pernah kutemukan di atas bumi.
Terus hidup dan tumbuhlah sayang,
karena dunia sungguh menantimu.

Kamis, 09 Oktober 2008

tentang satu pabrik rahasia

Aww, kepala saya panas...

Terjebak dalam rutinitas sehari-hari sepertinya membuat otak saya ini belakangan ini jadi agak malas 'bekerja keras'. Dan dua hari ini, terlepas dari betapa minimnya pencapaian nyata saya dalam berbagai hal, jauh di dalam sana otak saya bernyanyi dan menari dengan riang gembira, "akhirnyaa, kami eksis kembali..lalalalilili.."

Oh ya, tentu pekerjaan saya sehari-hari bukannya tidak membutuhkan otak juga.
Hanya saja saya membicarakan 'folder-folder' yang berbeda di dalam sana.
Ya, seperti juga kamu, kamu, dan kamu, saya juga punya banyak folder di kepala saya yang kecil ini lho.

Folder-folder di lingkar paling luar, menyimpan apa-apa yang harus saya lakukan setiap hari a.k.a ru-ti-ni-tas. Kemudian di baris lingkar berikutnya, menyimpan apa-apa yang telah dan akan saya lakukan (sejarah dan rencana). Kemudian di lingkar berikutnya lagi, ada pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang bisa hilir-mudik dengan cepat (contoh berdasarkan pekerjaan saat ini: permen jenis apa yang paling banyak dimakan orang?) Kemudian di lingkar berikutnya lagi yang merupakan ruang terdalam, barulah ada pabrik rahasia saya.

Pabrik ini sejak dulu aktif sekali.

Waktu saya masih berumur 6 tahun, pabrik ini sudah rajin sekali mengolah bahan-bahan pertanyaan seperti "Seberapa jauh langit di atas saya itu? Apakah di atasnya ada langit lagi? Ada berapa lapis langit sebetulnya? Atau adakah dunia lain dengan langit yang berbeda? Atau dunia saya sekarang ini, bagian dari dunia yang lebih besar? Seperti apa sebetulnya seluruh ciptaan Tuhan itu? Apakah Tuhan seperti saya kalau saya sedang bermain kota-kotaan? Berarti kita seperti Tuhan? Ah, ya..sebelum saya ada di dunia ini, kita ini siapa ya? Kalau Tuhan sudah ada dari dulu, saya dimana? Lalu setelah mati nanti, saya kemana? Apakah 'aku' yang ada di tubuh ini bisa berpindah ke benda lain? Kalau bisa begitu, apakah rasanya tetap 'aku'?"

Itu sejarah aktifitas pabrik rahasia saya yang paling kuno yang saya ingat.
Sebetulnya awalnya sih saya tidak mau membuatnya menjadi pabrik rahasia. Tapi karna teman-teman sebaya bingung dan takut setiap saya membicarakan kegiatan pabrik tersebut pada mereka sementara saya sama sekali tidak benci berteman, maka sejak itu saya selalu merahasiakannya.

Berbeda dengan yang ada dalam lingkar sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pabrik rahasia ini tidak mungkin hilir mudik dengan cepat. Yang ada: melayang-layang, kemudian mengendap. Lupakan hitungan hari. Bisa berbulan-bulan, atau malah bertahun-tahun. Belum terjawab satu, seribu lainnya sudah lahir. Kasihan pabrik rahasia saya, jadi sering overload!

Seiring dengan pertambahan usia, aktifitas pabrik saya makin aktif dan yang diolah pun makin bermacam-macam. Saya suka sekali membaca buku, tapi karna semasa saya sekolah dulu Papa saya masih percaya bahwa "sebaik-baiknya anak sekolah adalah anak yang membaca buku sekolah saja" (jangankan buku cerita tanpa gambar yang saya harus curi-curi menabung untuk membelinya, saya bahkan harus curi-curi kesempatan untuk melahap habis semua buku psikologi Mama sampai saya lulus SMP), maka kebanyakan bahan mentah untuk olahan pabrik rahasia saya datang secara misterius...entah dari mana.

Jadilah ketika bertahun-tahun kemudian saya membaca buku dengan 'kandungan' serupa, saya takjub : Wah! Ternyata bukan hanya saya di dunia ini yang memikirkan semua ini..
(Ha! Oh Heidy, you're so full of yourself!)

Masa SMA, semua teman mengalami masa pergolakan pikir dan rasa yang hebat. Banyak teman saya yang tiba-tiba puitis dan menjadi penyair yang sangat produktif. Lainnya senang berdebat tentang berbagai hal, berlarut-larut..menanti orgasme yang tak kunjung datang. Sementara saya, sibuk mengejar ketertinggalan pubertas (saat semua orang sudah melewatinya), dan...berusaha menjadi siswa SMU yang -setidaknya- tidak terlalu terbelakang.

Memasuki kampus, terlepas dari shock karna merasa SALAH BESAR dalam memilih jurusan (yang ternyata amat sangat bersahabat dengan jurusan fisika murni, sementara selama 3 tahun di SMU saya nyaris tidak mengerti apa-apa tentang fisika)...saya menemukan satu surga dunia: sebuah unit kegiatan mahasiswa yang berpuluh tahun sebelumnya juga mewadahi aktifitas Papa saya selama menjadi mahasiswa. Menemukan tempat ini, para pekerja dalam pabrik rahasia saya berbahagia sungguh!

Walaupun entah kenapa saya tetap tidak bisa terlalu jujur membuka kedok pabrik saya seluas-luasnya, tapi saya menerima banyak sekali bahan baku siap olah. Bahkan, saya sering melihat banyak pabrik yang 'open house', mengundang siapapun untuk melihat proses yang mereka lakukan. Saling tukar ilmu untuk produksi, banyak sekali terjadi di sana. Oh ya...beberapa kali saya juga melakukannya. Hanya sambil canggung, karna belasan tahun terbiasa merahasiakan semuanya serapat mungkin.

Dan pernah suatu kali saya ketakutan, karna mendapati betapa giat dan makin rumitnya proses yang terjadi dalam pabrik saya. Dan saya bahkan tak peduli, betapa mungkin ada orang lain yang mengalami ini juga, SAMA PERSIS atau LEBIH PARAH (kondisi yang tidak berbeda dengan orang lain! Seharusnya saya senang kan, karna sejak lahir jarang-jarang saya mendapatkannya). Saya betul-betul takut. Saya hanya ingin melangkahkan kaki saya kemanapun, dan rasanya pabrik yang makin canggih hanya akan membuat kaki saya terasa makin berat. Jadi saya lari meninggalkannya.

Tapi itu tidak lama. Tidak lama kemudian saya kembali, tapi dengan lebih siap dan dewasa. Bukan hanya kaki, tangan saya pun bisa bergerak ringan ke mana saja...tanpa terpengaruh apapun yang terjadi dalam pabrik saya. Saya bahagia.

Lebih lagi ketika bertemu dengan pasangan hidup yang mampu membuat pabrik rahasia saya 'merger' dengan pabrik miliknya. Dan seolah menjawab cita-cita saya sejak berumur 6 tahun dulu, saya mendengar suara Tuhan untuk saya, "kamu tidak, tidak pernah, dan tidak akan pernah sendiri." Subhanallah, Alhamdulilah, Allahuakbar.
Sungguh, saya betul-betul bahagia.

Ahh, kepala saya sudah mulai mendingin sekarang.
Oya..sejak 'merger', saya sekarang bersahabat dengan pola baru pabrik (bukan rahasia lagi) saya : kerja ringan-istirahat-kerja keras-hibernasi.
Semoga pola ini cukup sehat. Amiiin.

Rabu, 08 Oktober 2008

aku INGIN...

Detak jantung ini seperti masih belum bisa mengerem larinya.
Membuat ruang rongga dada seolah begitu sempit, sesak....

Ya Tuhan, tolong....
Aku ingin lakukan ini.
Aku ingin lakukan itu.
Aku ingin lakukan semua.

Dan demi semua yang kuingin lakukan...
Benarkah mungkin, satu kepala yang kecil ini cukup?
Benarkah mungkin, dua tangan ini cukup?
Benarkah mungkin, dua kaki ini cukup?
Benarkah mungkin, dua puluh empat jam sehari ini cukup?
Dan benarkah mungkin, jatah umur yang Kau gariskan untukku secara rahasia itu cukup?

Ah, mata yang biasanya mudah sekali basah ini pun ikut bertingkah aneh.
Jangan-jangan, stock airnya sudah habis?
Sepertinya ia hanya mengalah, demi hati yang sudah lebih dulu menjerit dan menangis frustasi di dalam sana.
Bukannya ia tak setiakawan, solider, ikut merasakan kepedihan itu.
Hanya saja ia malu, tak yakin air matanya yang biasa sanggup mewakili suara sang hati..

Rasanya aku ingin menyuruh detak jantung ini berhenti berlari.
Tentu tak bisa, dan kalau pun entah bagaimana bisa...ampun...sungguh aku takut, Tuhan.

Tapi hati ini, yang terus berteriak menangis luapkan emosi...
Dan otak ini, yang seolah hampir meledak karena ruang mungilnya tak sanggup menampung semua hasil kerjanya yang terus menggandakan diri..
Mungkinkah semua berhenti sejenak...
Dan memulai semuanya dari nol lagi?

Mengutip kata salah seorang sahabat yang pernah membuatku tergelak sampai setengah menangis : ”hidup adalah setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan”

Aaaah.
Andai hubunganku dengan semua manusia di dunia ini sesederhana cerita dalam iklan Pertamina ”mulai dari nol lagi” (SUNGGUH AKU INGIN!!!!).
What a beautiful life...

Selasa, 07 Oktober 2008

satu dunia, sebuah mimpi

Ini berawal mula dari satu mimpi, cita-cita, ambisi, keinginan saya yang tak pernah hilang dari dulu : melakukan banyak hal sekaligus.

Oke, saya curang.
Dulu, saya selalu salah tingkah kalau disuruh nyebutin cita-cita atau keinginan.
Karena : mereka sangat banyak, dan bisa timbul dan lenyap dalam hitungan jam.
Maka untuk enaknya saya sendiri, sekali lagi saya umumkan keinginan yang selama ini tidak pernah lenyap sekalipun dan sepertinya sampai kapan pun : melakukan banyak hal sekaligus.

Dan yang saya maksud banyak, adalah....benar-benar BANYAK.
Hal yang saya maksud bukan hanya pekerjaan demi mencari beberapa piring nasi (Jujur aja deh. Kalo untuk hidup, memang saya butuh lebih dari sesuap)
Dan bukan juga hanya pekerjaan itu, ditambah pekerjaan rumah tangga.
Dan bukan juga hanya pekerjaan-pekerjaan itu ditambah kegiatan-kegiatan favorit alias hobi.
Dan bukan juga hanya semua yang di atas itu dengan quality time dengan keluarga.
Yang saya maksud, semua yang sudah saya sebutkan itu ditambah dengan quality time dengan dunia.

Dunia mana?
Ya dunia. Dunia saya, dunia kamu, dunia dia, dunia siapapun yang ada di dunia ini.
Nah bingung kan tuh...(coba hitung kata ‘dunia’nya, coba kalahkan saya, bikin satu kalimat dengan jumlah kata tsb yg lebih banyak.....ha. kurang kerjaan bgt)

Saya ingin menyentuh dunia yang luas ini.
Tapi tidak hanya menyentuhnya, saya juga ingin memeluknya, selalu berada di dalamnya.

“dunia saya sendiri”....
Ah. Itu ungkapan yang paling saya benci dalam hidup saya.
Sekaligus umpan balik paling menyedihkan dan menyakitkan bagi saya.
Karna itu berarti, saya sudah gagal.

Dunia saya, dunia kamu, dunia dia, dunia siapapun...bagi saya (seharusnya) tidak berbeda.
Dan kalau ada yang menyebut, mengomentari, saya dengan ungkapan tersebut di atas, siapapun yang mengatakannya telah merasakan betapa berbedanya dunia kami...apa kemungkinan arti lainnya selain : saya hidup di dunia saya sendiri, tidak menyentuh kamu, tidak menyentuh dia, tidak menyentuh siapapun, apapun lainnya di dunia ini. Sehingga dunia saya bukan dunia kamu, bukan dunia dia, bukan dunia siapapun.
Kita hidup, ada di dunia yang berbeda.
Maka berarti saya sudah gagal, bukan?

Tapi sungguh, saya belum berhenti bermimpi, bercita-cita, berkeinginan itu.
Tapi apa, yang perlu saya usahakan untuk mewujudkan semua itu?

Lalu apa, yang paling baik saya pinta lagi padaNya?
Waktu yang tak terbatas?
Energi yang tak terbatas?

Atau mungkin....hanya sebuah niat yang makin, makin diperkuat lagi?

Karna saya percaya, DIA ada.
Dan DIA ada di dalam saya.
Saya, juga bagian dari DIA.

Kalau Allah telah berkehendak, apa yang tidak bisa?
Kalau niat telah sempurna, apa yang tidak bisa?