Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Oktober 2021

Komunitas Tersayang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. Ungkapan lain yang tertera di sana masyarakat atau paguyuban. Hmmm. Jika merujuk pada pengertian ini, apakah berarti aku harus membahas tentang rukun tetangga dan rukun warga demi dapat menjawab tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober ini yang mengambil topik "Komunitas yang Aku Cintai"? 

Banner Tantangan Blogging Bulanan Mamah Gajah Ngeblog

Jika benar begitu, aku harus mengibarkan bendera putih. Kurasa interaksi yang terjadi antara aku dan para warga kompleks perumahanku sekarang tidak dapat diceritakan sedemikian rupa hingga dapat komunitas yang satu ini tergolong dalam kategori "komunitas yang kucintai". Kami hanya memenuhi definisi "kelompok orang" dan "di dalam daerah tertentu", dengan sedikit "saling berinteraksi" berupa saling mengirimkan makanan oleh-oleh jika ada yang baru pulang dari luar kota. Ini pun hanya terbatas pada tetangga yang terdekat di tiap arah mata angin: rumah tetangga arah timur, tenggara, selatan, barat daya, barat ... (hayoo ngaku, siapa yang membaca ini sambil menyanyi?)

Mungkin karena kepribadian introverku, aku selalu nyaman untuk melakukan apa pun sendiri. Ini bukan berarti aku tidak dapat berbaur dengan banyak orang di luar sana. Aku dapat dengan mudah berkenalan dengan orang baru, mengakrabkan diri dengan orang asing, bahkan sering diandalkan dalam acara-acara yang menuntut aksi berbicara di depan umum. Meskipun menyukai semua kegiatan itu, aku paham betul, sumber energiku yang sebenarnya datang dari kebebasanku untuk melakukan apa saja yang kusuka ketika benar-benar tidak ada orang lain di sekitarku. Dengan kata lain, berkumpul dengan manusia lain bukan masalah bagiku, tetapi aku tak dapat melakukannya terus menerus tanpa melakukan recharge dengan cara menikmati kesendirianku.

Mungkin karena itulah, berkumpul dan berinteraksi dengan orang-orang lain hampir tak pernah kuanggap sebagai kebutuhan primer sejak aku kecil. Kenalan ada, teman ada, sahabat ada .... tetapi komunitas? Rasanya aku tak ingat satu pun hingga masa kuliah datang.

Komunitas dari Kampus

Aku baru memahami arti komunitas dan menemukan yang paling sesuai denganku di bangku perkuliahan. Namun, orang-orang yang berkumpul di sana bukan para mahasiswa yang berkuliah di jurusan yang sama, melainkan yang mengaku menaruh minat pada hal yang sama: film. Kami tergabung di sebuah unit kegiatan mahasiswa yang dinamai Liga Film Mahasiswa (LFM).

Sebetulnya, aku mendaftar ke sana awalnya hanya karena penasaran. Papaku juga dulu pernah menjadi kru LFM semasa kuliah dan cerita-ceritanya tentang pemutaran film sukses membuatku tertarik, meskipun aku belum banyak berpengalaman dengan film sebelumnya. Namun, siapa sangka ... aku mendapat lebih dari yang kuharapkan dari sana: bukan hanya pengetahuan dan pengalaman seputar film, melainkan juga sebuah keluarga besar. Mungkin dapat kukatakan, inilah komunitas pertamaku.

Aku di Sarang Penyam ... eh, Pelawak

Papa dan Alumni LFM Lainnya di Satu Acara Reuni

Keluarga Besar LFM ITB

LFM terdiri atas manusia-manusia yang amat sangat beraneka ragam, mulai dari latar belakang suku-agama-ras hingga sifat, kebiasaan, dan minat. Satu-satunya kesamaan yang mungkin dimiliki hampir semua anggotanya adalah semangat untuk berbaur, berteman, bercanda, dan bersantai. Di sini, berbeda pendapat dalam berbagai hal adalah hal yang biasa, tetapi jangan harap itu akan mengarah pada perselisihan serius, apalagi permusuhan. Pokoknya, menjadi bagian dari keluarga besar ini (tak hanya di kampus, karena kami pun kini tetap berkumpul sebagai alumni) membuat hidupku terasa jauh lebih menyenangkan. Seolah-olah aku menemukan zona teraman dan ternyamanku di komunitas ini, sampai-sampai memilih pasangan hidup pun dari sini ... hahaha.

Komunitas Para Ibu

Aku baru benar-benar menyadari kebutuhanku akan komunitas setelah hamil dan melahirkan. Rupanya dua pengalaman itulah yang merupakan momen-momen terbesar pengubah hidupku. Semandiri apa pun diriku, sesenang apa pun aku menyendiri, keberadaan teman dan support group ternyata mutlak kubutuhkan sebagai seorang ibu.

Aku bergabung dengan komunitas ibu-ibu yang mahapenting ini semasa hamil. Tepatnya saat kehamilanku memasuki trimester kedua dan sudah aman bagiku untuk kembali aktif berkegiatan fisik. Ketika mencari-cari informasi tentang gentle birth dan prenatal yoga, bertemulah aku dengan komunitas Gentle Birth Untuk Semua yang didirikan oleh Mbak Dyah Pratitasari (Mbak Prita). 

Mbak Prita mempersilakan aku bergabung dengan kelas yoga yang diampunya secara sukarela di pinggir danau UI. Di sana sudah ada belasan orang ibu hamil yang rutin berlatih dengannya sebelum aku bergabung. Selain bertemu langsung setiap akhir pekan, kami juga bertemu di grup whatsapp. 

Sebagian Kecil Anggota Komunitas Prenatal Yoga UI GBUS Batch 6

Awalnya, kami hanya bertukar pesan seputar jadwal latihan yoga dan sedikit-sedikit saling berbagi tentang informasi kesehatan dan kehamilan. Lama kelamaan, apalagi setelah satu per satu bayi yang ada di kandungan terlahir ke dunia, makin banyak dan sering kami berbagi cerita. Bukan hanya dunia perbayian atau makanan dan panci yang kami bahas, lika-liku kehidupan rumah tangga dan hubungan dengan ibu mertua pun tercakup dalam obrolan kami. Entah mengapa, sepertinya banyak di antara kami yang merasa cukup aman dan nyaman untuk mengungkapkan unek-unek terdalam yang tak mungkin diceritakan di lingkungan lainnya.

Tahun demi tahun berlalu, tak terasa, anak-anak kami yang dahulu sama-sama masih di rahim kami masing-masing telah melewati masa menyusui, batita, balita, hingga kini bersiap memasuki bangku sekolah dasar. Grup kami masih ada dan rasanya kedekatan itu tak berkurang sama sekali. Tidak hanya saling mendoakan saat ada yang berulang tahun, kami juga berusaha saling membantu jika ada yang ditimpa musibah, seperti yang memang banyak terjadi di mana-mana selama masa pandemi ini. Sama seperti LFM, komunitasku yang satu ini pun seakan telah menjelma menjadi keluarga besar lainnya bagiku.

Reuni Setelah Dua Tahun Melahirkan (Sebelum Pandemi)

Komunitas Hobi

Sesuai nama (kepanjangan)nya, LFM mungkin dapat dianggap sebagai komunitas hobi. Namun, kalau kupikir-pikir lagi, kategori itu tidak cocok bagiku yang sebetulnya memiliki hobi lain yang jauh lebih "kental": menulis. Anehnya, kebutuhan akan komunitas menulis tak pernah betul-betul kupikirkan dengan serius sampai awal tahun ini. Apakah ini karena pandemi? Atau karena umur? 😁

Pucuk dicinta, ulam tiba. Aku bertemu dengan dua komunitas menulis sekaligus yang baru saja dibentuk: Mamah Gajah Ngeblog (MGN) dan Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa). Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, keduanya merupakan subgrup dari komunitas ITB Motherhood (aku sudah lama bergabung di grup induknya ini, tetapi tidak aktif karena jarang mengakses Facebook). 

Logo Komunitas MaGaTa

Poster Pertama Tantangan Blogging MGN 

Berkat MaGata maupun MGN yang rutin menyelenggarakan tantangan, aku "dipaksa" untuk konsisten berlatih menulis dan berusaha menghasilkan tulisan-tulisan yang lebih baik daripada sebelumnya. Di MaGaTa, aku dan teman-temanku tak bosan belajar tentang kepenulisan dan kebahasaan. Sementara itu, di MGN, kami terus belajar tentang seluk beluk dunia blog. Aku belajar, belajar, belajar lagi bersama teman-teman dan bidang yang dipelajari adalah hobi terbesarku. Wajar, dong, aku sangat betah menjadi anggota kedua grup ini? 

Karena itulah, walau terbilang baru lahir, kedua komunitas ini pun sah tergolong ke dalam kategori komunitas yang kucintai. Tanpa komunitas-komunitas ini, entah seperti apa keseharian dan kehidupan yang kujalani. Terima kasih, MaGaTa dan MGN! Terima kasih juga, YogaUI Batch 6! Terima kasih, LFM!

Aku mencintai kalian! Aku tresno karo kowe! Abdi bogoh ka anjeun! Aishiteru! Saranghaeyo! Te quiero! Ana Ahibuk! Ich liebe dich! I love you! 

Nah ... bagaimana denganmu? Adakah komunitas-komunitas yang awet dan istimewa di hati? Ceritakan juga, ya!

Sabtu, 27 Februari 2021

Kembali Ngeblog

Apa kamu ngeblog juga sepertiku? Sejak kapan? Bagaimana perjalanannya? Apakah konsisten? Apakah sempat berhenti? Apakah masih dilakukan sampai sekarang? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi menarik bagiku sejak "Alasan Kembali Ngeblog" ditetapkan sebagai topik tantangan ngeblog pertama tahun ini di komunitas Mamah Gajah Ngeblog, sebuah wadah bagi para perempuan alumni kampus S1-ku dulu yang doyan menulis di blog. Untuk menjawab tantangan tersebut, kutulislah hasil pengembaraan pikiranku ini.

Ketika pertama kali mulai mengenal blog pada tahun 2005, aku memberlakukannya seperti buku harian kedua. Blog tidak kuisi sedetail buku harian, tetapi kujadikan sarana untuk mengekspresikan perasaan-perasaan khusus. Tentu saja, aku sadar bahwa sebenarnya saat ngeblog, aku berharap ada orang lain yang membaca tulisanku.  

Berapa pun komentarnya, siapa pun yang memberikannya, aku bahagia tiap kali ada yang berkunjung ke blog-ku. Rasanya seperti ada tamu yang datang ke rumah! Sebagai orang yang melalui masa kanak-kanak dan remaja sebelum internet cukup terkenal, aku terkagum-kagum pada luasnya interaksi sosial yang terjadi berkat terciptanya rumah-rumah di dunia maya ini. 

Kemunculan berbagai media sosial seperti Friendster dan Facebook (FB) tidak membuat kesenanganku ngeblog teralihkan. Aku bahkan membuat blog kedua saat akan menikah untuk membedakan tema besar tulisan-tulisanku. Detail persiapan lamaran dan pernikahan dulu kuceritakan di 'rumah' yang kurencanakan sebagai blog keluarga itu. Sayang, tak lama kemudian, 'tanah tempat berdirinya rumah' itu tak berumur panjang. Untung, isi rumahnya masih dapat kuselamatkan. Setelah menikah, aku 'membangun rumah bersama' lainnya, tetapi terlalu malas untuk memindahkan 'isi rumah' yang lama. Lagipula, aku sudah punya segudang cerita baru: perjuangan untuk hamil.

Pengalaman infertilitasku dan suami selama tujuh tahun mendominasi blog keluarga kami. Sementara itu, blog pribadi ini agak terlupakan karena aku terlalu asyik bermain di sana. Awalnya, seperti biasa, aku menulis dengan tujuan murni hanya untuk meringankan kepala dan hati. Bertahun-tahun gagal hamil bukan hal yang mudah kuterima. Kalau unek-unek itu tidak kukeluarkan, bisa-bisa penyakitku bertambah parah!

Siapa sangka, ternyata tidak sedikit yang menyambut curhat tersebut. Blog kami dikunjungi mulai dari teman-teman dekat yang ingin tahu sekaligus peduli dan berempati, hingga orang-orang tak dikenal yang berdatangan karena diarahkan oleh mesin pencari. Kebanyakan dari mereka serupa seperti kami, juga mengalami masalah fertilitas, dan mengungkapkan kegembiraannya saat menemukan cerita-cerita kami terkait hal itu (kurang lebih alasannya: karena waktu itu belum banyak orang Indonesia yang dengan senang hati bilang-bilang "Gue mandul, nih!").

Merasa tulisan-tulisanku dicari dan berguna bagi banyak orang, aku pun ketagihan menulis di blog. Tidak hanya blog keluarga tersebut, blog pribadi ini juga kembali kuisi dengan rutin. Kegiatan ini kutekuni lagi sejak aku melanjutkan kuliah tingkat magister di bidang yang jaraknya sejauh bumi dan mars dengan program sarjanaku. Kejutan demi kejutan yang kutemukan sebagai mantan anak IPA yang berkelana di dunia humaniora membuat kepala dan dadaku sering 'panas' ... hahaha. Sekali lagi, kalau yang seperti ini tidak segera dikeluarkan, b-a-h-a-y-a!

Semangatku mengisi blog-blog yang kukelola terus terpelihara hingga ... alhamdulillah, aku dan suami akhirnya diamanahi untuk merawat seorang anak. Kebetulan, anak pertama kami itu lahir bukan dari kandunganku, melainkan dari hati kami. Ya, kami mengadopsinya dari panti asuhan. 

Sama halnya dengan hamil dan melahirkan biasa, adopsi tidak pernah menjadi cerita yang biasa-biasa saja. Jelas ada berjuta kisah yang ingin kuceritakan sejak awal, tetapi aku terpaksa menahan diri. Kupikir, meskipun kami mengadopsinya secara legal dan terbuka (kami bebas membicarakan semuanya sehari-hari, tidak ada yang ditutup-tutupi), aku harus menunggunya hingga cukup dewasa untuk mempertimbangkan dan mengizinkanku berbagi cerita yang menyangkut dirinya. Momen itu pun datang setelah aku melahirkan adiknya. 

Ya, melahirkan. Akhirnya Allah Swt. juga mengamanahi kami seorang anak kandung tak lama setelah kami mengasuh si sulung (tepatnya, setelah ia minta 'adik tapi bukan dari panti, dari perut Bunda aja'). Ada jutaan bahan cerita lainnya yang siap kubagikan pada dunia setiap harinya, mulai dari tips memlih clodi sampai kisah sukses toilet training dalam dua hari. Namun, hingga detik ini, sebagian besar di antaranya masih tetap bertahan sebagai draf, belum berhasil diselesaikan dan dipublikasikan. 

Sama dengan mendambakannya, mengasuh anak ternyata bukan hal yang sederhana bagiku. Bahkan, di antara seluruh perjalananku sebelumnya, masa-masa sejak menjadi ibulah masa yang paling menantang. Tidak terbayang olehku sebelumnya, bahwa menjadi ibu itu sebegininya. Masalah alergi (aku dan si bungsu) yang tidak selesai-selesai sejak melahirkan lima tahun yang lalu, masalah penyesuaian dengan si sulung yang juga entah kapan beresnya, hingga masalah nafsu pribadiku untuk aktif di banyak tempat membuatku melupakan ngeblog, aktivitas yang sebenarnya selalu kucintai dan kurindukan.

Aku tidak pernah berhenti menulis, tentu, karena masih rutin menjurnal untuk diri sendiri. Selain sangat penting, kegiatan itu amat mudah bagiku karena aku tidak perlu banyak berpikir saat melakukannya. Tidak ada orang lain yang ikut membacanya, bahkan aku sendiri pun jarang membaca ulang setelah selesai menuliskannya. Ini tentu berbeda dengan menulis di blog yang memang 'minta dibaca' orang lain. Dengan begitu banyak pertimbangan saat menulis dan menyuntingnya, tidak heran jika menulis di blog membutuhkan waktu lima hingga sepuluh kali lipat lebih banyak. 

Ah, tidak ada waktu .... begitu pikirku selama bertahun-tahun, hingga tak terasa ... enam tahun berlalu tanpa sama sekali ada tulisan baru di blog pribadi ini (nasib blog keluarga pun setali tiga uang, meski masih lebih ramai pengunjung). Sesekali ada perasaan ingin 'membersihkan debu dan jaring laba-laba' dari rumah-rumah dunia maya ini, tetapi munculnya bersamaan dengan rasa malu. Jika diumpamakan, ini seperti perasaan sungkan untuk mulai bicara lagi setelah sekian lama bermusuhan dengan seseorang. 

Karena itulah, rasanya bagaikan mendapat hadiah kejutan begitu aku menemukan komunitas Mamah Gajah Ngeblog. Bak sahabat yang muncul dan menawarkan peran sebagai penengah, Mamah Gajah Ngeblog berhasil membuatku membuang semua gengsi dan akhirnya berdamai dengan lancar dengan blog-ku ini. Tidak hanya membuatku sekadar mengisi blog lagi, grup ini juga mulai membukakan mataku tentang seluk beluk ngeblog. Enam belas tahun sejak pertama kali membuat blog, baru sekarang aku tahu bahwa ngeblog itu lebih dari sekadar menulis. 


Jadi, itulah kenapa selama ini ada komunitas-komunitas blogger, yang berbeda dari komunitas menulis biasa? Jadi, itulah kenapa ada banyak sayembara blog, yang berbeda dari lomba menulis lainnya? Jadi, itulah kenapa blogger juga termasuk profesi, dengan umur yang jauh lebih senior (dan semoga panjang) daripada youtuber, selebgram, dan lainnya? Ke mana saja ya, aku selama ini?

Menyadari semua itu, motivasiku untuk kembali ngeblog seolah mendapat siraman bensin. Begitu banyak teman baru yang keren-keren dan menginspirasiku untuk turut berkarya, meramaikan dunia persilatan ... eh, kancah blog ini. Mungkin takkan terhitung jumlah alasan yang tepat di baliknya. Namun, mari setidaknya mulai dari alasan yang terkecil dan paling sederhana: karena aku menulis untuk hidup, dan hidup untuk menulis.

 pada suatu hari nanti

jasadku tak ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau tak kan kurelakan sendiri

("Pada Suatu Hari Nanti", puisi karya alm. Sapardi Djoko Damono)


Salam ngeblog,

- H e i D Y -


Hore! Artikel ini menjadi artikel juara keempat dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Februari 2021


 



Rabu, 08 Agustus 2012

Tulis saja!

Seorang sahabat saya berkata bahwa ia tidak punya rasa kepercayaan diri untuk menulis. Waktu itu ia baru tahu bahwa kadang-kadang saya memajang tulisan saya di blog sehingga dapat dibaca semua orang. Sejenak saya termangu memikirkan kata-katanya. Kemudian saya mengerti.

Saya mengerti karena kadang ketidakpercayaan diri itu terjadi pada saya. Dan saya tahu mengapa itu bisa terjadi. Ketidakpercayaan diri berarti meragukan diri sendiri dalam suatu hal. Dulu saya pernah tidak percaya diri mengemudikan mobil di jalan raya. Saat itu saya baru belajar dan masih meragukan kemampuan saya sendiri dalam hal menyetir. Saya juga masih tidak percaya diri jika meluncur sendiri di atas es di tengah arena ice skating.  Tentu saja karena saya tidak pernah secara khusus belajar ice skating dan memang jarang sekali melakukannya. Wajar kan jika kemampuan saya melakukannya masih sangat meragukan?

Lalu bagaimana dengan ketidakpercayaan diri untuk menulis? Setiap orang yang sudah lulus SD dan tidak terisolir dari peradaban pasti bisa menulis. Adalah aneh, jika ada yang meragukan kemampuan diri sendiri untuk menulis. Apa yang ditakutkan? Pensil patah saat menulis? Listrik mati saat mengetik? Lalu?

Saya tidak percaya tentang ketidakpercayaan diri untuk menulis. Yang saya percaya terjadi adalah ketidakpercayaan diri untuk memperlihatkan hasil tulisan kepada orang lain. Tidak percaya diri memamerkan hasil tulisan tangan mungkin berkaitan dengan indah tidaknya tulisan tangan itu sendiri. Tapi saya yakin bukan itu maksud sahabat saya. Yang ia ragukan adalah jalinan makna yang termuat dalam tulisannya. Oya, dalam hal ini yang saya maksud adalah karangan bebas, bukan sejenis karya tulis ilmiah.

Apa yang diragukan dari isi tulisan sendiri? Mungkin keraguan apakah isi tulisan itu dapat diterima orang lain. Atau bahkan, keraguan apakah orang lain akan menilai isi tulisan itu baik atau indah. Keraguan apakah isi tulisan itu dianggap berbobot oleh orang lain. Pokoknya yang berhubungan dengan orang lain, orang lain, dan orang lain. Sekali lagi: ORANG LAIN.  

Maka, bukankah tidak tepat jika masalah ini disebut ketidakpercayaan diri untuk menulis? Kurasa yang sesungguhnya terjadi adalah ketidakpercayaan diri untuk memuaskan orang lain melalui tulisan kita. Mari bertanya lagi pada diri sendiri: memangnya untuk apa kita menulis? Mengapa menjadikan orang lain sebagai kiblat?

Bagi saya, menulis bebas (seperti ini) adalah satu kesempatan membebaskan jiwa. Juga meringankan beban pikiran atau perasaan. Jika menghadapi banyak masalah dalam keseharian, menulis bisa menjadi terapi yang menyehatkan jiwa. Tak perlu membawa-bawa sampah dalam otak atau hati. Cukup tuangkan semuanya dalam tulisan, beres. Nah, jadi, apa hubungannya dengan orang lain?

Mari menulis untuk diri sendiri. Tulis saja! Soal menyiarkan tulisan kepada dunia adalah lain perkara. Siapa bilang semua tulisan harus ditunjukkan? Bukankah itu gunanya buku harian dan fasilitas kata sandi pada komputer?


 Tulis saja!
-       H e i D Y -

Kamis, 05 Januari 2012

Antara ‘ngeblog’ dan ‘nulis’

Baiklah. Saya tidak akan menyebut diri sebagai blogger. Alasannya sederhana: karena sepertinya sayalah orang paling tidak konsisten sedunia dalam memelihara kelangsungan hidup blog yang dimiliki….haha.

Tulisan sebelum ini sebenarnya diposkan lebih dari 2 tahun yang lalu, jadi selama tahun 2010 dan 2011 saya dengan sukses tidak mengeposkan apapun di blog ini doong (kebanggaan yang aneh)! Tapi lalu saya sadar, ternyata di tahun 2010 pernah 3x bikin tulisan yg dipublikasikan... di facebook (notes), lalu sekali pula di penghujung 2011. Padahal keduanya seharusnya juga terekam di blog ini, tapi entah bagaimana saya tidak menemukannya. Sungguh sebuah misteri. Nah, karena saya KADANG-KADANG suka beres-beres arsip, jadilah pada tampilan terakhir ini, setelah copy-paste keempat tulisan lama itu, nyaris tidak ketahuan kaan saya pernah absen dua tahun dari 'rumah' yang satu ini...hihihi (nggak penting pisaan).

Oke, balik ke topik ketidakkonsistenan. Sebenernya bukan blog aja, sih. Saya memang tidak bakat konsisten berinteraksi dengan dunia maya. Mau blog, blog mikro, milis, semuanya pasti ada masanya buat saya. Kalau lagi asyik ya rajin nongol, kalau lagi-malas-saja ya jangan harap.

Mungkin ini mirip-mirip resolusi gitu kali, ya. Kan banyak tuh yang sudah malas membuat resolusi tahunan karena lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya:D Saya teringat cerita beberapa teman bahwa resolusi yang suka gagal biasanya yang berhubungan dengan kekonsistenan dalam perbaikan gaya hidup: olahraga, diet, dsb. Nah kalo buat saya, biasanya ya resolusi untuk konsisten blogging, aktif di milis, dsb dsb.

Oh, sebenernya ada nih yang cukup membantu: kehadiran smartphone. Benda mungil yg sehari-hari keberadaannya tidak jauh-jauh dari tangan ini bisalaah membantu saya untuk lebih rajin balas surat elektronik, bermicroblogging, atau sekadar nongol di social media. Tapi kalo milis dan blog? Tetap dong, malas kalau harus tersambung dan nulis dari smartphone.


Soal menulis sendiri sih sebenarnya saya lumayan konsisten. Bisa jadi apa yang saya tulis juga seharusnya dipos di blog. Tapi instead of doing that, saya malah simpan sendiri tulisan-tulisan itu di notebook, pake password segala. Mungkin memang ada masanya saya senang berbagi kisah hidup, ada kalanya yaa…sudahlah, konsumsi pribadi saja deh. Bukan berarti tiap saya diam berarti lagi ditimpa masalah superberat yang berupa aib juga sih. Eh, apa iya ya? Ah, nggak juga, ah…. (Apa sih Dy???) *labil*

Ada satu hal tentang menulis yang membuat saya kepikiran sekali sebenarnya, yaitu menulis hal yang berhubungan dengan orang lain. Sejauh ini kalau saya ingat-ingat, saya sih senang-senang saja menulis apapun yang hubungannya cuma sama diri sendiri. Tapi yangg namanya doyan mikir dan nulis, sebenarnya apa saja saya tulis. Kejadian yang menimpa orang lain, hal yang terjadi antara saya dan orang lain, cerita orang lain ke saya….semuanya.

Gatel banget ini otak maupun tangan kalo tidak memikirkan dan menuangkannya dalam tulisan. Tapi saat tulisan selesai, saya bisa tercenung lama, cuma memperhatikan si hasil tulisan dan kemudian memutuskan untuk menyembunyikan tulisan tersebut. Ya, saya penakut. Kalau tulisan saya ada hubungannya sama orang tertentu (beserta identitasnya yang sulit disamarkan) dan ada unsur negatif di dalamnya (opini negatif, fakta yang merupakan aib, dll), mending milih tidak ada yang baca selain saya deh, sampai kiamat.

Beberapa teman pernah bertanya tentang penerbitan buku saya ya g berikutnya….yah, kuranglebih itu pulalah masalahnya. Kebanyakan tulisan saya didasarkan pada kenyataan atau dengan kata lain apa yang saya benar-benar tahu, lihat atau alami sendiri. Tapi ya namanya hidup kan tidak sendiri, berhubungan terus sama manusia lain. Jadi, jelas banyak di antara pengalaman saya yang tersangkutpaut dengan orang lain sehingga dalam tulisan juga pasti menyebut-nyebut mereka. Dan sayangnya, tidak semuanya bersifat positif ketika saya sangat ekspresif :(

Kadang saya suka berkhayal juga….gimana kalau saya bertransformasi menjadi penulis yang jujur berani tanpa kebanyakan mikir dalam ‘bersuara’ lewat tulisan? Eh tapi sepertinya saya lebih merasa kalau itu bukan diri saya yang sebenarnya, sih. Lah, kalau bukan saya yang sebenarnya, apanya yang jujur? Itu menipu diri sendiri, bukan? Takkan bahagia dunia akhirat, tampaknya. Yasudah. Jadi diri sendiri aja deh.


salam riang!
- H e i D Y -


Terimakasih pada pencipta gambar! Saya unduh dari sini.

Selasa, 19 Mei 2009

KBBI kami yang tercinta

Sempat selama berbulan-bulan setelah menempati rumah berdua saya dan suami, saya tidak pernah membuka Kamus Bahasa Indonesia!

Tentu saja Kamus Bahasa Indonesia yang sering saya buka dulu tidak saya bawa ke rumah ini. Itu kan milik orangtua saya, walaupun saya yakin bahwa anggota keluarga selain saya hampir tidak pernah membaca kitab itu. Bahkan adik saya yang masih pelajar sekali pun (sungguh ajaib dan mengherankan, mengingat saya begitu menggandrungi kamus ini sejak duduk di bangku sekolah...ah, apa justru sayalah yang ajaib?).

Ada rasa rindu dan kehilangan. Tapi tidak, saya tidak terlalu terganggu. Mungkin karena pada masa itu, seluruh pikiran dan tenaga saya habis untuk bergelut di dunia kerja saya yang baru : marketing research. Sebagai researcher, bahkan tidak pernah membaca kamus Bahasa Indonesia sepertinya sama sekali bukan masalah. Kamus Bahasa Inggrislah yang disarankan untuk ditelan jika ingin lancar dan sukses dalam bekerja di sana.

Lalu, saya mengambil unpaid leave. Saya kembali menulis. Dan walaupun sesekali beberapa perpustakaan saya jadikan sebagai kantor, rumah tetap menjadi markas utama.

Kehilangan itu mulai mengganggu, terus dan semakin menjadi-jadi seiring dengan semakin banyaknya halaman tulisan saya yang bertambah. Lalu ibarat tak mendapat nasi, saya pun mencari penggantinya. Saya membuat diri kenyang dengan berpuluh-puluh kumpulan cerpen, novel, buku sejarah, dan sebagainya. Tapi kemudian saya sadar pada apa yang sedang saya lakukan : saya sedang berusaha mengganti nasi dengan sayur dan daging yang sama sekali bukan makanan pokok! Kenyang sih kenyang, tapi tentu masih ada satu unsur nutrisi yang tetap tak terpenuhi. Dan suatu saat, ini bisa jadi masalah bagi saya.

Maka, saya pun mengajukan usul itu pada suami. ”Menurutmu, kita butuh KBBI, tidak?”

Jangan heran kenapa saya bertanya begitu. Salah satu kesamaan terindah saya dan dia adalah kecintaan kami pada buku. Dulu, kami memiliki perpustakaan pribadi masing-masing. Kini setelah kami menikah, kedua perpustakaan itu pun menjadi satu, milik bersama. Ada beratus-ratus buku koleksi kami, dan hebatnya, jarang sekali ada judul ganda di dalamnya.


Ya, selera kami memang berbeda. Dia pecinta buku-buku sejarah dan politik, sementara saya mencintai buku anak-anak, remaja, dan sastra. Setelah hidup bersama, kami saling menulari satu sama lain.

Nah, bagaimana dengan Kamus Bahasa Indonesia? Baik saya maupun suami tidak menyumbangkannya ke perpustakaan bersama kami.

Saya tahu saya membutuhkan kamus itu, tapi saya tidak tahu bagaimana halnya dengan dia. Jika dia keberatan dan menurutnya ’tidak ada juga tidak apa-apa’, maka saya berniat akan mengusahakannya sendiri.

Ternyata, dia setuju untuk memilikinya juga! Walau dia tahu sayalah yang akan paling banyak menguasai kamus itu, dia tak keberatan membelikan buku tebal yang harganya tentu tak murah itu. Olala, betapa senangnya hati saya.

Saat akhirnya datang kesempatan untuk kembali mengunjungi pasar buku murah favorit kami (Palasari, Bandung), kami pun membeli kamus itu.

”Ada KBBI, Pak?” tanya saya pada penjual buku langganan saya.
”Yang terbitan apa, neng? Balai Pustaka atau Gramedia?”
”Wah, ada yang dari Gramedia juga? Saya malah baru tahu!”
“Ada neng, baru terbit tahun lalu, edisi keempat,”
“Alhamdulillah,”


Kegembiraan saya meluap mendengar adanya edisi terbaru KBBI. Bukankah ini satu bukti kemajuan peradaban bangsa ini? Saya lalu menanyakan perbedaannya, termasuk soal harga. Alangkah kagetnya saya waktu tahu bahwa terdapat selisih harga sampai kira-kira dua ratus ribu rupiah.

“Kenapa bisa beda sejauh itu, Pak?”
“Yang lebih murah itu sebenarnya karna BJ, neng,” kata si bapak penjual buku ini tiba-tiba berbisik, dengan satu telapak tangan nyaris menutupi mulutnya.
“Hah? Be-Je? Apa itu, pak?”
”Bajakan, neng,”
Astaghfirullah! Saya merasakan emosi yang berkecamuk, hingga sesaat tak bisa berkata apa-apa.

Entah kepada siapa sebenarnya amarah ini saya tujukan. Kenapa saya marah, sebenarnya ada beberapa alasan yang mendorongnya sekaligus.

Satu. Saya benci pada pembajakan. Walaupun ada hal-hal yang masih sulit untuk benar-benar saya bersihkan (pengakuan dosa: saya masih punya lagu MP3, anime dan serial film barat hasil pemberian teman yang mereka dapat entah dari mana saja), tapi saya berusaha untuk sebisa mungkin menghindarinya. Yang jelas, saya tidak akan pernah membeli CD lagu, movie, apalagi BUKU bajakan. Dan sebuah KAMUS BESAR...terpikirkah bagaimana sulit proses penyusunannya? Bisakah siapa saja, sembarang orang menciptanya? Tidak, saya yakin. Saya sendiri tidak yakin mampu jika diberi kesempatan itu. Sungguh, saya tahu betapa berharganya sebuah karya cipta itu. Maka setidaknya dengan membeli, saya memberikan bentuk penghargaan yang saya mampu pada si pencipta. Sementara dari orang-orang yang terlalu memusingkan atau mengagungkan prinsip ini, dikeruklah keuntungan oleh pihak ketiga yang tak bertanggung jawab : si pembajak.

Dua. Saya sepenuhnya mencintai ibu pertiwi, INDONESIA tercinta. Jika saya tidak terlalu ngotot mengecam orang-orang yang mencari hiburan dengan membeli film-film bajakan (saya masih sibuk mengecam diri sendiri yang juga belum 100% bersih), itu juga salah satunya karena saya sudah memastikan bahwa film tersebut bukan film karya anak bangsa ini. Dengan membeli produk buatan negeri sendiri, sudah hilang tambahan ongkos impor yang perlu saya bayar. Bukankah produk asli dalam negeri sudah pasti lebih murah daripada barang impor? Jika masih terasa mahal, saya mengingat bagaimana penghargaan saya akan menjadi dukungan agar para pencipta itu terus berkarya dan membawa kemajuan dan kejayaan bagi bangsa ini. Dan jka itu masih terasa mahal juga, saya teringat jalan raya dan fasilitas umum yang dapat saya nikmati (dan kebebasan saya untuk protes dan mengecam korupsi yang terjadi jika salah satunya dalam keadaan tak beres), teringat bahwa semua itu milik saya, hasil pemungutan berbagai jenis pajak, termasuk terhadap produk dalam negeri apapun yang saya beli. Uang saya tak akan pergi kemana-mana. Semuanya berputar di negeri ini. Dengan semua pertimbangan itu, mengapa masih tak rela membeli produk dalam negeri yang asli? Terlebih untuk sebuah KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA, yang memuat simbol-simbol peradaban bangsa ini.

Tiga. Saya memaklumi orang-orang yang menyetujui kedua prinsip di atas (menghindari produk bajakan dan menghargai produk dalam negeri) namun tak memiliki cukup kemampuan untuk melaksanakannya. Dalam hal ini sesungguhnya saya teringat pada pelajar yang butuh memiliki kamus tapi tidak punya cukup uang untuk membelinya. Hingga pada akhirnya ia membeli KBBI bajakan, entah kepada siapa saya harus marah : pemerintah yang tak bisa mengatasi masalah biaya pendidikan atau si pembajak sebagai pihak ketiga yang mengambil keuntungan dari jalan pintasnya?

Empat. Saya tidak mengerti pada orang-orang yang rela menghabiskan beratus-ratus ribu demi membeli novel-novel asing dan komik-komik (dari Asia, Amerika maupun Eropa) yang asli, namun hanya menginginkan versi bajakan untuk sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (”Soalnya biasanya nyarinya bajakan neng, yang lebih murah! Kalo komik atau novel, baru pasti pada nggak mau beli bajakan...”). Ya Tuhan, mungkinkah saya yang terlalu bodoh untuk bisa mengerti jalan pikiran mereka? Seseorang, tolong bantu berikan saya penjelasan tentang ini!

Dan kini di sinilah saya, pada pagi buta sebelum Subuh yang merupakan momen terbaik untuk mengurai ide-ide yang menggumpal dalam kepala ini menjadi rangkaian aksara bermakna, duduk menghadapi meja yang dibebani barang-barang tercinta dan kebanggan saya : komputer jinjing dan Kamus Besar Bahasa Indonesia ASLI.

Semoga saya pun bisa menciptakan karya-karya yang membanggakan dan bermanfaat bagi bangsa dan negeri ini.

Bangkitlah bangsaku, jayalah negeriku. Amiin.




Ditulis sebagai satu penghargaan kecil untuk buku yang memuat kekayaan ilmu, teknologi, dan seni sebagai simbol peradaban bangsa Indonesia : KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. Terimakasih telah memberi saya berjuta inspirasi!

- H e i D Y -