Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Di Balik Keribetan yang Terus Berlanjut

Apakah keribetan terkait tesis berakhir bersamaan dengan lulusnya saya di ujian tesis lalu? Tentu tidak. Sesaat setelah dinyatakan lulus, saya gagal langsung mendapatkan tanda tangan para penguji di lembar pengesahan karena nama dekan yang saya tuliskan tidak tepat. Karena bukan orang yang menyepelekan ketepatan penulisan nama seseorang, sebenarnya saya cukup malu dengan kesalahan itu. Beberapa penyesalan sempat terlintas. Namun, akhirnya saya cukup 'terhibur' setelah ingat bahwa kesalahan itu dapat dimaklumi karena sang dekan baru diganti dan penulisan gelarnya di situs universitas belum diperbarui sehingga memang tidak ada contoh tepat penulisan nama lengkap dan gelar beliau (baca: bukan salah guee!).

Salah satu faktor penting yang membuat saya luar biasa repot adalah terlalu mepetnya jarak antara ujian tesis dengan batas akhir penetapan kelulusan dari universitas. Sudah ditetapkan lulus oleh ketua program studi jelas sudah sangat melegakan, tetapi perjuangan belum berakhir karena belum tentu ketetapan tersebut disetujui oleh pihak universitas. Masih ada beberapa syarat yang harus diurus untuk memperoleh persetujuan tersebut: pengunggahan fail tesis, penyerahan tesis cetaknya, pengurusan bukti bebas pinjam pustaka, pendaftaran wisuda, dan seterusnya.

Ah. Penyebutan syarat-syarat di atas sungguh terasa gampang dan 'biasa', sekarang, setelah sebagian besar di antaranya dibereskan. Coba kalau ditanya kemarin-kemarin, kemungkinan besar saya akan menjawabnya dengan penuh drama karena memang hampir tidak ada yang dilalui tanpa cerita. Dimulai dengan kegagalan mendapat tanda tangan para penguji 'yang sudah terkumpul manis' pada hari yang sama dengan ujian tesis, usaha keesokan harinya harus diwarnai dengan drama terjebak banjir, ponsel tertinggal, dan mengejar dosen yang sedang lokakarya di luar kampus. Ketika sudah sempat bernapas lega karena mendapat kabar bahwa tanda tangan dekan dapat diperoleh tanpa menunjukkan tesis cetak yang telah terjilid dengan hardcover, tiba-tiba 3 jam sebelum jam administrasi kampus berakhir saya dikabari hal yang sebaliknya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dalam waktu sesempit itu akhirnya saya bisa selamat menyelesaikan revisi, membereskan semua berkas, menyetir Bekasi-Depok, mengurus pencetakan lebih dari 200 halaman isi tesis dan penjilidan dengan hardcover, dan menyerahkannya pada si sekretaris dekan yang plin-plan itu. Segala puji dan syukur saya panjatkan pada Allah SWT dan tentu saja saat itu saya tidak menemukan alasan untuk berterima kasih pada, apalagi memuji, sekretaris tersebut.

Untuk menyetujui kelulusan mahasiswa, pihak universitas tempat saya berkuliah perlu memeriksa apakah mahasiswa yang bersangkutan sudah menyerahkan tesis ke perpustakaan, baik dalam bentuk fail pdf maupun cetaknya. Karena keduanya tak mungkin dilakukan tanpa tanda tangan dekan di lembar pengesahan, mendadak saya menyaksikan fenomena baru: para mahasiswa yang mencari-cari, menanyai, dan membicarakan dekannya. Dan saya termasuk di antaranya.

Yang membuat jantung seolah berlari adalah kesimpangsiuran soal batas waktu penyerahan tesis ke perpustakaan. Kalender akademik pun tiba-tiba tidak dapat dipercaya. Setelah beberapa kali dikecewakan oleh kesibukan dekan dan kejutekan sekretarisnya, pihak-pihak lain pun diberondongi pertanyaan serupa oleh jutaan mahasiswa (ini majas hiperbola, untuk mendapatkan fakta: kurangi beberapa nol-nya hingga terasa wajar), "Kapan sih, Pak/Bu, tanggal terakhir penyerahan tesis dan penetapan kelulusan?" Jangan heran jika jawaban yang didapat pun bervariasi dari "tidak tahu" sampai "kapan saja boleh" (yang mungkin sekali diucapkan sembari dalam hati ia berkata, 10 tahun lagi juga boleh, tapi kelulusan mahasiswa lain saat itu, bukan Anda yang jadi mahasiswa sekarang!).

Setelah tanda tangan dekan berhasil diperoleh, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah memindai lembar bertandatangan tersebut dan menggabungkannya dengan isi tesis lainnya untuk diunggah ke situs perpustakaan. Ini saya lakukan di tanggal yang sama persis tertera di kalender akademik sebagai 'batas akhir pengunggahan tesis'. Luar biasa seru jantungannya. Apalagi ketika langkah pengunggahan tidak sesederhana yang disangka, dan setelah memahami dan menyelesaikan semuanya, si akun kadaluarsa, semua yang dikerjakan lenyap, dan saya harus mengulang dari awal. SEDAP.

Masih banyak keribetan lainnya yang kalau saya ceritakan detailnya satu per satu mungkin bisa jadi satu novel lagi. Namun tentulah saya tahu diri. Untuk apa membuat novel khusus soal ini? Siapa yang mau beli? Apa manfaatnya? 

Dari pertanyaan terakhir di atas (Apa manfaatnya?), saya mendapat pencerahan. Segala keribetan yang saya lalui, termasuk yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan bodoh saya sendiri dan sempat membuat frustasi sesungguhnya dapat menjadi manfaat. Maklum, pada dasarnya saya ini orang yang nggak mau rugi. Segala sesuatu itu harus bermanfaat. Jadi, yang kelihatannya merugikan pun harus dicongkel-congkel semaksimal mungkin hingga ada manfaatnya. PASTI ADA! *keukeuh*

Memang, saya tidak akan menulis novel bertemakan 'keribetan terkait tesis demi ditetapkan lulus oleh universitas' yang saya yakin tak akan dilirik penerbit mana pun, apalagi calon pembeli. Namun, saya tetap berusaha menulis 'cerita bersambung' mengenai pengalaman-pengalaman saya secara terperinci dan akan saya bagi-bagikan secara gratis pada teman-teman yang mengejar kelulusan di semester berikutnya. Dengan demikian, saya berharap ada yang belajar dari pengalaman saya sehingga semua keribetan itu tidak percuma dan saya tidak terus-menerus menyesali berbagai kesalahan bodoh yang terlanjur dilakukan.

Nah. Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kerepotan atas suatu hal? Pernah melakukan kesalahan-kesalahan bodoh? Geram dan menyesalinya kalau teringat lagi? Jangan! Ceritakanlah, terutama pada mereka yang berkemungkinan besar mengalaminya juga. Cegahlah agar mereka tidak mengulang kesalahan yang sama. Melalui upaya ikhlas yang seperti ini, mudah-mudahan beban penyesalan kita sedikit terangkat atau bahkan perlahan-lahan terlupakan.

Di balik segala jenis keribetan, pasti ada sebuah (atau bahkan banyak) pelajaran. Dan tugas kita yang mengalaminya adalah meneruskannya hingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Semoga.
 

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqtuni, disahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)


Salam, 
-H e i D Y-

Jumat, 24 Januari 2014

Di Balik Gelar


"Selamat yaaa udah luluuus!!"
"Alhamdulillah, makasiih!"
"Lega dan seneng banget yaa pastii udah luluus, apalagi nilainya baguuus,"
"Alhamdulillah... iya seneng dan lega, lalu berganti dengan ketegangan dan kekhawatiran lainnya.."

Itulah yang saya rasakan. Saya tidak membantah jika kelulusan saya dari sekolah terakhir menimbulkan rasa senang dan lega. Namun, di saat yang sama, muncul ketegangan dan kekhawatiran lainnya berkaitan dengan pemberian gelar itu sendiri. Ini serupa halnya dengan pengalaman saya sembilan tahun yang lalu. Dalam ijazah S1, saya melihat tulisan berikut di bawah pernyataan pemberian gelar kepada saya:
beserta segala hak dan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut.

Seperti halnya pada suatu jabatan, posisi, dan sebagainya, ada kewajiban tertentu yang melekat pada gelar akademik seseorang. Makin tinggi pendidikannya, makin besar pula porsi kewajiban yang dituntut darinya untuk dapat berguna bagi dunia. Dengan kata lain, tanggung jawabnya semakin berat.

Hal yang sama berlaku pula di bidang akademik. Beberapa waktu yang lalu, seorang teman sempat mencurahkan perasaanya tentang nilai kurang memuaskan yang diperolehnya. Wah, itu sih "keahlian" saya terkait pengalaman lulus pas-pasan di jaman S1 dulu ... hahaha. Saya bilang, itu sebenarnya sebuah nikmat juga yang harus disyukuri. Mahasiswa yang dapat nilai A dan yang dapat nilai C, misalnya, bebannya tentu berbeda. Yang nilainya C, kalau bilang banyak lupa tentang ilmunya, harap maklum. Nah, apa jadinya kalau ‘si A’ yang bilang begitu?

Itulah mengapa saya tidak dapat sepenuhnya merasa lega begitu dinyatakan dapat menyandang satu lagi gelar akademik. Saya tidak akan tenang hingga saya dapat mengamalkan ilmu yang saya peroleh, hingga dapat bermanfaat bagi lingkungan. Begitu pula dengan perasaan senang yang berlebihan, apalagi ketika orang lain mengaitkannya dengan nilai yang sangat tinggi di transkrip. 

Bohong kalau saya mengaku tidak senang. Tentu saja saya senang dan bangga karena pencapaian itu diperoleh dengan perjuangan. Akan tetapi, saya juga memiliki perasaan tegang dan khawatir. Dapatkah saya mempertanggungjawabkannya? Dari sebuah nilai mata kuliah yang baik, saya melihat adanya pengakuan dosen pengampu terhadap penguasaan saya atas mata kuliah tersebut. Dengan demikian, diharapkan pula kemudian saya mampu menebar manfaat yang besar dari perolehan ilmu tersebut.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pandangan tentang gelar akademik tak ubahnya cara pandang tentang kenaikan jabatan atau posisi tertentu dalam pekerjaan. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk melihat hal tersebut bukan sebagai nikmat, melainkan sebagai ujian. Yah, melihatnya memang harus dengan mata hati, bukan mata duitan. Hanya dengan demikian, orang dengan kekuasaan yang dipercayakan padanya paham betul bahwa itu berarti ia dipercaya pula untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Hanya dengan demikian pula, orang tersebut tahu, daripada kenaikan jabatan itu sendiri, yang lebih layak menjadi cita-citanya adalah berhasil mempertanggungjawabkannya dan mengamalkannya untuk kepentingan orang banyak.

Alhamdulillah, perjuangan berkuliah di jenjang S2 telah menuntun pada kelulusan dan berbuah gelar magister yang berhak saya sandang. Namun, seperti halnya kenaikan jabatan, rasanya sungguh berdosa jika saya mematok perolehan gelar akademik tersebut sebagai mimpi atau cita-cita saya. Di balik gelar itu, ada kewajiban pada masyarakat dan yang menjadi cita-cita saya adalah berhasil menunaikannya, atas ridho Allah Swt. Mohon doanya, ya!

Oh, mari doakan pula para penyandang "gelar kekuasaan" di negeri kita ini. Semoga mereka menyadari betul tanggung jawab yang dipercayakan pada mereka dan dapat menunaikan kewajiban tersebut dengan baik. Aamiin.


Salam,

-          H e i D Y -

Kamis, 23 Januari 2014

Di Balik Kelulusan




Baiklah. Ini kelanjutan dari cerita yang saya publikasikan sebelumnya: Di Balik Tesis. Di akhir tulisan itu, saya sempat minta didoakan karena akan menghadapi ujian akhir tesis yang sekaligus menjadi syarat terakhir untuk lulus dari program magister yang saya ikuti. Rasanya kok ya tidak sopan kalau setelah itu, saya tidak ‘lapor’.  

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Minggu lalu, tepatnya pada hari Rabu, 15 Januari 2014, saya dinyatakan lulus setelah berhasil mempertahankan tesis saya dalam ujian tesis tersebut. Kenapa ada kata ‘mempertahankan’, komentar iseng seorang teman. Ya karena memang itulah yang terjadi saat sidang. Keputusan meluluskan atau tidak meluluskan seorang mahasiswa dari sidang itu didasarkan pada kemampuannya mempertanggungjawabkan apapun yang ditulisnya dalam tesis. Apa maksudnya kalimat A dan tabel B, lalu mengapa menggunakan metode C dan bukan D, dan seterusnya, harus dapat dijelaskan dengan baik. Setelah argumen-argumen yang diajukan tidak terbantahkan, saat itulah dapat dikatakan bahwa tesis tersebut berhasil dipertahankan.

Hingga sebelum ujian dimulai, sesungguhnya ada satu kekhawatiran saya yang sangat sulit disingkirkan terkait tesis yang saya ajukan. Penelitian saya adalah kajian wacana kritis, sebuah studi yang bersifat interdisipliner. Meskipun berangkat dari ilmu linguistik yang saya tekuni, dalam perjalanan saya harus ‘menyebrang’ ke ilmu filsafat dan psikologi. Jadi, apa yang saya hasilkan bukan sesuatu yang telah ada ‘pedoman standar’nya dalam  bidang ilmu tertentu, melainkan hasil menyarikan beberapa ‘resep’, menyesuaikan dengan bahan-bahan yang saya punya, dan meramu semuanya hingga menjadi jenis hidangan baru ala saya. Melihat penelitian beberapa teman lain yang sejak awal sudah jelas ‘rumus’nya, juga mengingat kembali riset saya sendiri di bidang ilmu eksakta pada tahap sarjana dulu, saya sempat tidak percaya diri dengan tesis yang saya ajukan.

Saat ujian telah berlangsung, pemahaman atas hal itu baru saya temukan, bersamaan dengan meluncurnya penjelasan-penjelasan yang saya berikan pada dewan penguji terkait riset yang saya lakukan. Tidak adanya pertanyaan penguji yang tidak bisa saya jawab mengingatkan saya pada pesan seorang sahabat (yang sudah lebih dulu mengalami apa yang namanya sidang tesis) beberapa hari sebelumnya, “Inget yang paling tahu tentang tesis lo cuma lo, jadi ga usah grogi ya”. Ternyata terbukti, memang tidak ada alasan untuk grogi menghadapi sidang tesis jika kita memang mengerjakan sendiri tesis tersebut. Karena kita sendiri yang mengerjakan, tentu kita tahu paham betul apa isi tesis itu dan mengapa dilakukan sedemikian rupa. Dengan kata lain, otomatis kita dapat mempertanggungjawabkannya.

Kelegaan saya semakin bertambah ketika penguji terakhir berkata, “A hanya punya teori umum tentang B dan tidak merujuk khusus tentang C, tetapi Anda dapat dengan kreatif membuat jembatan dari teori A ke teori-teori lainnya hingga berhasil merumuskan mengenai C,” Alhamdulillah, ternyata usaha saya mendapat apresiasi, bukan caci maki.

Meskipun studi yang saya tempuh kali ini benar-benar tidak mengecewakan minat saya, melaluinya sama sekali tidak mudah. Lebih-lebih pada saat mengerjakan tesis. Bukannya tidak pernah, saya disetani nafsu ingin menyerah dan bersantai-santai dulu. Namun, alhamdulillah, nafsu tersebut akhirnya dapat dikalahkan oleh motivasi yang kuat (baca: salah satunya yaitu membayangkan isi rekening yang akan terkuras terus jika tidak segera lulus ... hahaha). Ketika kesusahan yang dialami tidak juga berkurang, saya segera menguatkan sang hati dengan berkata padanya, “Kalau nggak susah seperti ini, apa artinya sekolah, nggak sekolah pun bisa. Kesusahan inilah yang menjadikan kelulusan nanti terasa indah. Makin pahit usahanya, makin manis hasilnya.” Lalu saya pun kembali pada nasihat lama, “....bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, dan selama beberapa waktu menunda segala kesenangan untuk satu tujuan: segera lulus.

Benarlah. Ketika ketua dewan penguji mengumumkan kelulusan saya dengan nilai yang tak disangka-sangka, saya hampir tidak bisa berkata-kata. Mungkin karena melihat reaksi saya, dosen saya itu langsung menambahkan sambil tersenyum, “Di sinilah terlihat bagaimana sebuah kerja keras terbayar manis, ya,” Huaaa ... makin manis, makin mau nangis.

Sesungguhnya ada satu hal yang sempat saya sesali, yaitu saya tidak lulus ramai-ramai dengan semua teman seangkatan yang telah berjuang bersama selama 2 tahun. Meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda, mereka semua mengalami berbagai cobaan yang tidak ringan dalam mengerjakan tesis masing-masing. Namun saya kembali teringat pada penghiburan yang saya berikan pada hati sendiri di atas. Semakin pahit perjuangannya, semakin manis kesuksesannya. Saya yakin, teman-teman saya yang sekarang masih berjuang sekuat tenaga mengerjakan tesis mereka kelak akan mendapatkan hadiahnya masing-masing, dengan keindahan tersendiri, hingga dapat lebih dalam memaknai kelulusannya.

Jadi, ada apa di balik kelulusan? Tentu saja, perjuangan.
Tanpa perjuangan, apakah sebuah kelulusan ada artinya?


Ditulis dengan segenap doa dan cinta untuk teman-temanku yang terus berjuang, semoga kalian dilimpahi semangat selalu. Semangat lulus!
-          H e i D Y - 

Senin, 13 Januari 2014

Di Balik Tesis



Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, tantangan #30tulisan selama sebulan sesungguhnya sudah dimulai sejak 1 Januari 2014. Namun, saya baru mencoba ikut kemarin. Ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, ada target lain yang jauh lebih mendesak untuk saya penuhi: penyelesaian tesis! Dan di balik tesis ada .... banyak kisah :D



Urusan pertesisan saya sebenarnya sudah dimulai sejak semester kuliah pertama di tahun 2012, yaitu dengan memikirkan topik penelitian. Namun, ternyata memilih topik tesis itu tidak semudah memilih baju dari lemari pakaian (karena membalikkan telapak tangan terlalu mainstream :p)! Berangkat dari minat dan perhatian saya pada dunia anak dan pendidikan, sebenarnya saya sudah punya banyak ‘koleksi’ topik riset yang dapat menghubungkan bidang-bidang tersebut dengan linguistik. Sayangnya, tidak perlu waktu lama untuk menemukan banyaknya kendala untuk mengembangkan topik-topik itu. Riset mengenai UN yang sempat saya minati, misalnya, terbentur masalah kerahasiaan data. Ada pula topik pemerolehan bahasa pada anak yang masih ‘seksi’ bagi saya hingga kini, tetapi menuntut waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit untuk menelitinya. Akhirnya, setelah mencapai semester ketiga, tepatnya pada bulan Maret 2013, barulah saya berjodoh dengan sebuah topik: kajian wacana kritis terhadap cerita rakyat Betawi dalam buku teks Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta untuk siswa SD.



Sebetulnya topik yang akhirnya saya pilih tersebut berawal dari celetukan iseng suami saya beberapa bulan sebelumnya ketika media massa heboh memberitakan muatan buku ajar untuk anak SD itu, “Coba Dy, teliti ini dari linguistiknya!” Saat itu saya hanya tertawa menanggapinya. Siapa sangka, berbulan-bulan kemudian ternyata saya benar-benar berjodoh menjadikannya sebagai topik tesis! Tentu tepatlah jika setelah Allah SWT, terima kasih yang pertama saya tujukan pada suami. Topik itu cocok sekali dengan minat dan kemampuan saya: berhubungan dengan pendidikan, anak-anak, dan kajian kritis atas wacana, serta tidak membutuhkan biaya yang besar untuk menelitinya. Alhamdulillah.



Setelah mantap dengan topik, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana penelitian yang membuat saya kelimpungan setengah hidup. Ternyata memang bagian perencanaan sebuah penelitian merupakan setengah nyawa dari seluruh penelitian tersebut. Bersama teman-teman sejurusan, saya menghabiskan satu semester sendiri untuk menyusun proposal tesis. Itu pun ternyata masih jauh dari sempurna. Akibatnya, setelah seminar proposal, selama 2-3 bulan saya masih harus berkutat dengan alur pemikiran mengenai bagaimana riset saya dapat dilakukan. 

Masalah berikutnya adalah memikirkan bagaimana saya dapat menyajikan hasil riset dengan apik, atau dengan kata lain membuat orang yang membaca mudah memahami tesis saya. Setelah sempat ‘bongkar-pasang’ belasan kali, barulah saya menemukan cara yang tepat di awal Desember lalu. Padahal, draf lengkap pertama harus sudah diserahkan dua minggu kemudian. Saya merasa seperti ditugaskan dalam proyek pembangunan seribu candi Rara Jonggrang.




 

Syukurlah, saya tidak bernasib sama dengan Pangeran Bandung Bondowoso karena secara ajaib dapat memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan (tapi sungguh, saya tidak dibantu dedemit, lho). Namun, sembari menunggu sidang praakhir tesis (seminar hasil), saya tidak berhasil membayar hutang pada tubuh saya yang telah bekerja keras tanpa cukup istirahat. Satu-dua hal meminta sang tubuh untuk menunda istirahat yang diperlukan. Akibatnya tidak sulit ditebak. Saya jatuh sakit tepat seminggu sebelum sidang.



Awalnya saya berharap hanya mengalami gejala awal sakit dan dengan beberapa strategi dapat mencegahnya berkembang menjadi sakit ‘betulan’. Sayang, sepertinya tubuh sudah tidak dapat memaafkan keegoisan saya. Saya benar-benar sakit: sulit menelan dan bernapas, batuk, menggigil, lalu panas tinggi hingga melebihi 39C. Ini jauh di luar toleransi saya mengingat di hari-hari biasa, suhu tubuh normal saya selalu di bawah suhu normal orang pada umumnya. Mungkin karena itulah, kondisi tersebut sudah cukup untuk membuat saya sulit bangun dan mulai berhalusinasi (Hiiy!). Tiga hari sebelum sidang, alhamdulillah panas tubuh mulai stabil kembali. Namun, gejala lainnya belum hilang hingga saya masih tidak mungkin melakukan persiapan untuk sidang. Saya baru bisa menyusun tayangan presentasi sehari sebelum sidang dan nyaris tidak belajar apa-apa lagi. Hingga tiba di hari sidang, saya masih belum mampu bicara lebih dari enam kata tanpa batuk heboh dan mengeluarkan air mata. 




Selain masalah sakit, hal berikutnya yang ‘mengolahragakan jantung’ saya adalah absennya dosen pembimbing di masa-masa saya paling membutuhkannya. Setelah sidang praakhir, segunung perbaikan harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Entah mengapa pembimbing saya malah memilih waktu tersebut untuk cuti ke luar kota. Ini mirip sekali dengan pengalaman 8 tahun yang lalu saat akan menyelesaikan skripsi: dosen pembimbing skripsi saya tiba-tiba pergi umrah!! Nasib kok ya nggak jauh-jauh.



Saya masih ingat dulu, saking semangatnya mengerjakan skripsi, saya mendeklarasikan target lulus saya dengan pede selangit: “Saya PASTI wisuda OKTOBER ini!” Beberapa sahabat yang mendengarnya segera menegur. “InsyaAllah,” koreksi mereka. Sayang, waktu itu kesadaran saya masih tersesat entah di alam mana. Dalam hati, saya memandang remeh koreksi para sahabat. Saya masih meyakini bahwa persoalan saya dalam hidup ini hanya soal kemauan. Kalau saya sudah bertekad, apa sih yang bisa menghalangi, pikir saya sinis. Lalu, DJEGAR ... dosen saya pergi, penyelesaian skripsi terundur, dan saya baru lulus sidang sarjana di bulan November. Tuhan tidak menunggu lama-lama untuk memberi saya pelajaran.



Itu benar-benar pelajaran yang sangat berharga dan mudah-mudahan akan terus saya ingat sampai tua. Berbekal pelajaran itu pula, kali ini saya tidak berani mengulangi kesalahan yang sama. Ya, saya memang punya target untuk lulus dari program S2 tepat waktu, yaitu bulan Januari ini. Namun, saya tidak berani mengatakan bahwa pasti saya berhasil mencapainya. Oleh berbagai kondisi yang tidak menguntungkan (jatuh sakit, dosen cuti, dll), saya dibantu agar siap jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ajaibnya, keihlasan itu justru menuntun pada beragam kemudahan.



Dalam sidang praakhir tesis, presentasi saya tidak selesai. Setelah lebih banyak batuk daripada berkata-kata, saya diminta hanya mempresentasikan bagian simpulan. Kemudian saat sesi tanya-jawab, rasanya seperti sedang les privat dengan tiga dosen penguji karena mereka hanya menyampaikan berbagai saran dengan lemah lembut. Sama sekali tidak terasa seperti sidang!



Berikutnya, perihal bimbingan terakhir. Karena tidak dapat bertatap muka langsung, saya dibimbing melalui fasilitas chat dan email, yang ternyata jauh lebih lancar dan memuaskan daripada sesi-sesi bimbingan dengan bertatap muka. Bayangkan saja, chat bimbingan itu bisa terus berbalas selama berjam-jam sejak Subuh hingga larut malam (Semoga kebaikan dosen saya itu  mendapat balasan berkali lipat, aamiin).



Lalu ada pula hal-hal kecil tapi tak kalah penting seperti gardu PLN yang ‘memilih’ untuk meledak sesaat setelah saya selesai mengerjakan perbaikan draf akhir tesis. Lebih ajaib lagi, listrik yang mati sekompleks perumahan ‘menunggu’ saya pulang ke rumah, sampai di kamar, baru kemudian menyala lagi. Allahuakbar.  



Perjuangan saya terkait tesis sebenarnya belum selesai. Masih ada satu tahap lagi yang harus saya hadapi, yaitu ujian akhir tesis yang akan berlangsung lusa. Namun, mudah-mudahan saya sudah lebih tenang. Banyak sekali pelajaran yang telah menunjukkan bahwa kewajiban saya hanya sampai memaksimalkan usaha. Perkara hasil, itu sudah berada di luar kuasa saya dan tidak ada gunanya saya melakukan apapun selain berserah diri. Bagaimana pun hasilnya lusa, saya yakin itulah ketetapan yang terbaik dan semoga saya dapat segera memahami segala hikmahnya. Jika berkenan, mohon doakan, ya. Terima kasih banyak! :)





Salam,

- H e i D Y -

Gambar-gambar di atas bukan koleksi pribadi. Saya mengambilnya dari sini dan sini. Terima kasih!