Tampilkan postingan dengan label keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keseharian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Memaknai Sang Tantangan

Selamat pagi, Februari!
Alhamdulillah. Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah membangunkanku kembali dari tidur dan mengijinkanku untuk menyapa dan menjalani sebuah hari baru. Khusus hari ini, itu berarti kesempatan untuk menjumpai awal bulan yang baru.

Seringkali berjalannya waktu menjadi tidak terasa. Sebulan telah berlalu sejak pergantian tahun masehi terakhir. Bahkan, bagiku, rasanya seperti baru kemarin jantung ini berpacu saat berusaha menyelesaikan tesis sembari sesekali melirik halaman terakhir di tahun 2013: Bulan Desember. Jika iseng-iseng langsung 'melompat' ke halaman kedua di kalender tahun 2014 ini, semua seolah terasa seperti sulap: tiba-tiba saja aki sudah sibuk memikirkan wisuda :D

Sekali lagi, alhamdulillah. Adanya target yang dikejar beserta upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapainya itulah yang membuat waktu dan kesempatan menjadi begitu berharga. Kemudian, lebih jauh lagi: menjadikan hidup dan usia yang diberikan penuh makna.

Aku pernah merasakan hal yang sebaliknya: pada suatu masa, terjebak dalam rutinitas tanpa target istimewa dalam waktu dekat. Berkebalikan dengan apa yang kurasakan belakangan ini, saat itu waktu terasa berjalan sangat lambat! Kebosanan pun menghinggapi diri. Tak jarang saya berharap jam bergerak lebih cepat sehingga saya bisa segera beristirahat. Tak terpikir bahwa itu berarti esok hari pun datang lebih cepat dan aku juga akan segera bertemu kembali dengan rutinitas yang saya hindari itu. Hahaha... *prihatin pada diri sendiri*

Waktu. Kesempatan. Usia. Tak jarang terlontar doa agar Tuhan memberikannya lebih banyak, seolah keberuntungan kita terletak pada 'jatah yang lebih': semakin beruntung orang yang usianya lebih panjang, yang lebih berkesempatan, atau yang mendapat waktu lebih banyak. Saat berjibaku dengan tesis bulan lalu pun saya masih rajin membatin mengapa sehari itu tidak lebih dari 24 jam. Maklum, sepertinya waktu itu logika hanya kugunakan untuk mengerjakan riset dan tidak untuk hal-hal lainnya. 

Aku lupa bahwa ada banyak orang-orang yang berusia sangat lanjut dan hampir sudah tidak dapat melakukan kegiatan apa pun yang justru berharap agar Tuhan segera memanggil mereka. Aku bahkan lupa pada pengalaman sendiri yang kuceritakan di atas, ketika diberikan waktu yang berlimpah tetapi justru membencinya. Aku lupa bahwa pada akhirnya, berkah tidak bergantung pada besarnya kesempatan-kesempatan yang diberikan, tetapi pada bagaimana kita mampu memanfaatkannya.

Maka, sekali lagi, alhamdulillah. Mari bersyukur ketika waktu, kesempatan, atau bahkan usia terasa semakin terbatas. Mari melipatgandakan syukur saat menyadari bahwa dalam keterbatasan itu, ada target tertentu dan langkah-langkah yang kita maksimalkan demi mencapainya. Ada perjuangan di sana dan semoga diridhai sebagai ibadah. Hanya dengan demikian, kita merasakan hidup yang sebenarnya.

Khusus terkait bulan Januari yang baru saja berlalu, aku berterima kasih pada kehadiran tantangan #30tulisan yang telah turut andil dalam 'menghidupkan' diriku di bulan itu. Meskipun tidak masuk ke dalam daftar kegiatan yang kuprioritaskan (karena tergeser oleh beberapa kepentingan lain), ia tetap sebuah tantangan yang memperkaya hidup saya pada masa tersebut. Karena itu, kusampaikan selamat pada semua teman yang juga sempat turut mencoba menjawab tantangan itu. Bagaimana pun hasilnya, aku yakin mereka, dengan prioritas kesehariannya masing-masing, memperoleh manfaat dari tantangan tersebut. Kemudian, tentunya saya bersorak lebih keras untuk yang benar-benar menyelesaikan #30tulisan karena mereka sangat membanggakan! Mudahan-mudahan dari keberhasilan menyelesaikan tantangan yang tidak ringan itu mereka dapat menarik pelajaran berharga untuk kehidupan masing-masing. Aamiin.

Nah. Untuk kita semua, selamat memulai hari yang baru dan mengejar tantangan-tantangan lainnya! Semangat hidup, semangat berjuang!

Salam,
-H e i D Y-

Selasa, 28 Januari 2014

Di Balik Keribetan yang Terus Berlanjut

Apakah keribetan terkait tesis berakhir bersamaan dengan lulusnya saya di ujian tesis lalu? Tentu tidak. Sesaat setelah dinyatakan lulus, saya gagal langsung mendapatkan tanda tangan para penguji di lembar pengesahan karena nama dekan yang saya tuliskan tidak tepat. Karena bukan orang yang menyepelekan ketepatan penulisan nama seseorang, sebenarnya saya cukup malu dengan kesalahan itu. Beberapa penyesalan sempat terlintas. Namun, akhirnya saya cukup 'terhibur' setelah ingat bahwa kesalahan itu dapat dimaklumi karena sang dekan baru diganti dan penulisan gelarnya di situs universitas belum diperbarui sehingga memang tidak ada contoh tepat penulisan nama lengkap dan gelar beliau (baca: bukan salah guee!).

Salah satu faktor penting yang membuat saya luar biasa repot adalah terlalu mepetnya jarak antara ujian tesis dengan batas akhir penetapan kelulusan dari universitas. Sudah ditetapkan lulus oleh ketua program studi jelas sudah sangat melegakan, tetapi perjuangan belum berakhir karena belum tentu ketetapan tersebut disetujui oleh pihak universitas. Masih ada beberapa syarat yang harus diurus untuk memperoleh persetujuan tersebut: pengunggahan fail tesis, penyerahan tesis cetaknya, pengurusan bukti bebas pinjam pustaka, pendaftaran wisuda, dan seterusnya.

Ah. Penyebutan syarat-syarat di atas sungguh terasa gampang dan 'biasa', sekarang, setelah sebagian besar di antaranya dibereskan. Coba kalau ditanya kemarin-kemarin, kemungkinan besar saya akan menjawabnya dengan penuh drama karena memang hampir tidak ada yang dilalui tanpa cerita. Dimulai dengan kegagalan mendapat tanda tangan para penguji 'yang sudah terkumpul manis' pada hari yang sama dengan ujian tesis, usaha keesokan harinya harus diwarnai dengan drama terjebak banjir, ponsel tertinggal, dan mengejar dosen yang sedang lokakarya di luar kampus. Ketika sudah sempat bernapas lega karena mendapat kabar bahwa tanda tangan dekan dapat diperoleh tanpa menunjukkan tesis cetak yang telah terjilid dengan hardcover, tiba-tiba 3 jam sebelum jam administrasi kampus berakhir saya dikabari hal yang sebaliknya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana dalam waktu sesempit itu akhirnya saya bisa selamat menyelesaikan revisi, membereskan semua berkas, menyetir Bekasi-Depok, mengurus pencetakan lebih dari 200 halaman isi tesis dan penjilidan dengan hardcover, dan menyerahkannya pada si sekretaris dekan yang plin-plan itu. Segala puji dan syukur saya panjatkan pada Allah SWT dan tentu saja saat itu saya tidak menemukan alasan untuk berterima kasih pada, apalagi memuji, sekretaris tersebut.

Untuk menyetujui kelulusan mahasiswa, pihak universitas tempat saya berkuliah perlu memeriksa apakah mahasiswa yang bersangkutan sudah menyerahkan tesis ke perpustakaan, baik dalam bentuk fail pdf maupun cetaknya. Karena keduanya tak mungkin dilakukan tanpa tanda tangan dekan di lembar pengesahan, mendadak saya menyaksikan fenomena baru: para mahasiswa yang mencari-cari, menanyai, dan membicarakan dekannya. Dan saya termasuk di antaranya.

Yang membuat jantung seolah berlari adalah kesimpangsiuran soal batas waktu penyerahan tesis ke perpustakaan. Kalender akademik pun tiba-tiba tidak dapat dipercaya. Setelah beberapa kali dikecewakan oleh kesibukan dekan dan kejutekan sekretarisnya, pihak-pihak lain pun diberondongi pertanyaan serupa oleh jutaan mahasiswa (ini majas hiperbola, untuk mendapatkan fakta: kurangi beberapa nol-nya hingga terasa wajar), "Kapan sih, Pak/Bu, tanggal terakhir penyerahan tesis dan penetapan kelulusan?" Jangan heran jika jawaban yang didapat pun bervariasi dari "tidak tahu" sampai "kapan saja boleh" (yang mungkin sekali diucapkan sembari dalam hati ia berkata, 10 tahun lagi juga boleh, tapi kelulusan mahasiswa lain saat itu, bukan Anda yang jadi mahasiswa sekarang!).

Setelah tanda tangan dekan berhasil diperoleh, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah memindai lembar bertandatangan tersebut dan menggabungkannya dengan isi tesis lainnya untuk diunggah ke situs perpustakaan. Ini saya lakukan di tanggal yang sama persis tertera di kalender akademik sebagai 'batas akhir pengunggahan tesis'. Luar biasa seru jantungannya. Apalagi ketika langkah pengunggahan tidak sesederhana yang disangka, dan setelah memahami dan menyelesaikan semuanya, si akun kadaluarsa, semua yang dikerjakan lenyap, dan saya harus mengulang dari awal. SEDAP.

Masih banyak keribetan lainnya yang kalau saya ceritakan detailnya satu per satu mungkin bisa jadi satu novel lagi. Namun tentulah saya tahu diri. Untuk apa membuat novel khusus soal ini? Siapa yang mau beli? Apa manfaatnya? 

Dari pertanyaan terakhir di atas (Apa manfaatnya?), saya mendapat pencerahan. Segala keribetan yang saya lalui, termasuk yang diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan bodoh saya sendiri dan sempat membuat frustasi sesungguhnya dapat menjadi manfaat. Maklum, pada dasarnya saya ini orang yang nggak mau rugi. Segala sesuatu itu harus bermanfaat. Jadi, yang kelihatannya merugikan pun harus dicongkel-congkel semaksimal mungkin hingga ada manfaatnya. PASTI ADA! *keukeuh*

Memang, saya tidak akan menulis novel bertemakan 'keribetan terkait tesis demi ditetapkan lulus oleh universitas' yang saya yakin tak akan dilirik penerbit mana pun, apalagi calon pembeli. Namun, saya tetap berusaha menulis 'cerita bersambung' mengenai pengalaman-pengalaman saya secara terperinci dan akan saya bagi-bagikan secara gratis pada teman-teman yang mengejar kelulusan di semester berikutnya. Dengan demikian, saya berharap ada yang belajar dari pengalaman saya sehingga semua keribetan itu tidak percuma dan saya tidak terus-menerus menyesali berbagai kesalahan bodoh yang terlanjur dilakukan.

Nah. Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kerepotan atas suatu hal? Pernah melakukan kesalahan-kesalahan bodoh? Geram dan menyesalinya kalau teringat lagi? Jangan! Ceritakanlah, terutama pada mereka yang berkemungkinan besar mengalaminya juga. Cegahlah agar mereka tidak mengulang kesalahan yang sama. Melalui upaya ikhlas yang seperti ini, mudah-mudahan beban penyesalan kita sedikit terangkat atau bahkan perlahan-lahan terlupakan.

Di balik segala jenis keribetan, pasti ada sebuah (atau bahkan banyak) pelajaran. Dan tugas kita yang mengalaminya adalah meneruskannya hingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Semoga.
 

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqtuni, disahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)


Salam, 
-H e i D Y-

Sabtu, 23 Juni 2012

Nikmatnya Masa UAS Kemarin

Tepat setelah posting terakhir saya yang terlalu sombong tentang bagaimana saya masih suka mengakali kesempitan yang terjadi di masa-masa perkuliahan, saya mendapati diri saya tiba-tiba berada pada ruang yang tak bercelah sama sekali. Sungguh memang Tuhan Maha Adil!

Jadi, akhirnya saya kembali berkesempatan mengunjungi lapak ini setelah masa perkuliahan semester genap yang lalu berakhir. Sebenarnya Ujian Akhir Semester sudah selesai sejak dua minggu yang lalu, sih. Tapi lalu saya menghabiskan hari-hari berikutnya untuk terlalu kaget, terpesona hingga terbingung-bingung sendiri atas perubahan yang terjadi :D

Perubahan masa, maksud saya. Dari masa ketika otak saya dipenuhi berbagai jenis pekerjaan yang harus diselesaikan beserta tenggat waktunya ke masa saat tiba-tiba tidak ada yang memaksa saya harus menyelesaikan apa pada tanggal berapa dan berapa. Segalanya seperti tercerabut tiba-tiba, berbarengan. Rasa ini sangat mirip dengan di awal masa sebelumnya, ketika segala hal yang harus dikerjakan seperti serempak berjatuhan. Waktu itu rasanya seperti ada puluhan pohon yang dijejalkan dalam kepala ini. Lalu sekarang, semua pohon itu dicabut begitu saja. Hmmmm...

Dalam masa ujian akhir semester kemarin, saya tidak hanya ditenggelamkan oleh tumpukan makalah penelitian. Hal lain yang memenuhi pikiran dan perasaan saya adalah murid-murid yang membutuhkan bimbingan ekstra dalam rangka UAS juga, urusan registrasi S2 suami yang terpaksa diwakilkan pada saya karena yang bersangkutan sendiri masih di tengah laut, serta urusan mengontrakkan, merenovasi, dan mengosongkan rumah lama. Semua terjadi dalam waktu yang bersamaan! Subhanallah sekali, kan.

Berbagai jenis gerutuan sempat saya lontarkan. Kenapa jadwal UAS anak-anak SMA itu harus berbarengan dengan jadwal UAS saya sendiri? Kenapa sejak jaman kami kuliah S1 DUA BELAS TAHUN yang LALU sampai sekarang suami akan kuliah magister, Institut TEKNOLOGI Bandung tetap memberlakukan sistem pendaftaran manual?? Sungguh memalukan! Dan kenapa jadwalnya harus sangat sempit dan lagi-lagi, berbarengan dengan UAS saya? Dan kenapa suami tidak bisa pulang saat ada orang yang ingin mengontrak rumah kami?

Oya, lalu ada bonus lagi: laptop saya, satu-satunya komputer yang ada di rumah, sukses tidak bisa dinyalakan pada suatu malam menjelang tenggat waktu pengumpulan makalah. Dan saat itu bukan hanya gerutuan lagi yang keluar, melainkan air mata berderai-derai. Hahahaha.



Saya sungguh-sungguh berharap tidak akan mengalami masa-masa seperti itu lagi. Namun, saya sadar bahwa sesungguhnya saya sangat berdosa karena lalai bersyukur pada masa tersebut. Tidak hanya kesusahan yang saya alami. Begitu banyak nikmat, anugerah tak terduga juga diturunkan pada masa itu.

Meskipun datang pada masa yang merepotkan, ada orang yang akhirnya mau menyewa rumah kami jelas sebuah anugerah. Saya pun sadar untuk segera mengerem keluh kesah saat sibuk menyiapkan urusan penyewaan, renovasi dan pindahan itu.

Lalu soal urusan pendaftaran S2 di ITB. Tentu saya tetap mengkritik keras prosedur yang sangat tidak efisien itu. Namun hikmah di balik segala kerepotan itu adalah perkara lain. Saat itu, bukan saja saya yang menjadi kesal. Hamdan pun jadi gelisah. Jadwal pendaftaran yang tak sesuai dengan jadwal kerjanya jelas hal di luar kuasanya sendiri. Lalu nikmat itu pun diturunkan. Demi menyelesaikan semua persoalan, kami bekerjasama. Saya menyelesaikan segala urusan pendaftaran S2nya, kemudian Hamdan membantu saya dalam menyelesaikan semua makalah saya. Mulai dari membantu berpikir, mengumpulkan data dari potongan koran di kapalnya, sampai ikut begadang, menemani dan menyemangati saya dari jauh. Sungguh romantis tak terkira.

Saya jadi teringat kata-kata Mama dulu saat saya dan Hamdan baru menikah. Pencapaian apapun setelah berumah tangga bukanlah pencapaian suami atau istri sendiri, melainkan pasti pencapaian bersama. Jika salah seorang di antaranya sukses berkarya, misalnya, maka sesungguhnya itu adalah karya berdua. Pun jika salah seorang di antaranya lulus S3, maka sebenarnya gelar doktor itu milik keduanya! Dan sekarang saya pun baru benar-benar merasakan maksud kata-kata Mama itu. Subhanallah, alhamdulillah :)

Sekarang, saya ingin bersungguh-sungguh menikmati kelegaan ini. Menurut hemat saya, hal seperti ini memang harus diresapi. Karena jika tidak, gampang sekali saya tergelincir menjadi manusia yang tak tahu bersyukur. Saat penuh, mengeluh. Saat kosong, mengeluh lagi. Lalu keluh-keluh tak disadari sebagai ketidakbersyukuran karena alasan umum : ingin yang sedang-sedang saja. Blah.

Siapa bilang bersyukur itu gampang? Bukankah manusia yang penuh dengan rasa tak puas dan mudah iri adalah jenis makhluk yang harus terus berusaha seumur hidupnya untuk belajar bersyukur? Tidak selalu melihat ke atas atau hal yang lebih enak mungkin adalah satu cara yang bisa ditempuh. Sungguh saya merasakan ketersiksaan itu ketika otak dipenuhi pikiran-pikiran seperti "Coba ada ini..., coba kalau ini bisa begitu...". Ketika semua keluh kesah itu dieliminasi dan saya fokus menikmati hikmah yang berlimpah, secara otomatis saya pun lebih berbahagia :)

Ah, sungguh saya orang yang teramat sangat beruntung. Alhamdulillah...

Mari bersyukur!
- H e i D Y -

Terimakasih pada pencipta gambar! Saya unduh dari sini.

Rabu, 14 Maret 2012

kesempitan dan kesempatan

Saat ini saya sedang menikmati kesibukan saya sehari-hari: kuliah, mengajar, menulis, serta menjalankan program kehamilan.

Di antara semua yang saya sebut di atas, kegiatan terkait perkuliahanlah yang paling membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Orang-orang yang sudah melalui jenjang S2 apalagi S3 tentu tahu ya, kesibukan belajar di tingkat ini bukan lagi soal padatnya jam kuliah atau praktikum atau tutorial atau sebangsanya, tapi soal bertumpuknya target baca, tugas menulis, presentasi serta penelitian. Padahal tatap muka di kelasnya sendiri sih hanya setengah dari beban mahasiswa S1..

Saya mengambil program reguler untuk magister, yang berarti bukan program eksekutif/karyawan. Tidak dari dulu say tahu kalau perbedaan kedua program ini bukan hanya soal waktu tatapmukanya saja, melainkan juga bagaimana sistem pembebanan matakuliahnya.

Kalau di kelas eksekutif, perkuliahan biasanya dibuat dengan sistem modul, yang berarti mahasiswa belajar intensif untuk satu mata kuliah saja (misal, mata kuliah A) hingga diujiankan selama beberapa pertemuan, baru kemudian pada masa berikutnya diganti dengan mata kuliah lainnya, misalnya mata kuliah B. Dengan kata lain, tiap mata kuliah dibebankan satu persatu, bergantian. Sistem ini memang cocok untuk mahasiswa yang sambil bekerja penuh waktu, karena itulah disebut kelas karyawan atau eksekutif. Memang terlalu berat sepertinya jika sambil bekerja, masih harus memikirkan beban beberapa mata kuliah sekaligus.

Sementara itu, di kelas magister reguler seperti yang saya ambil saat ini, tentunya perkuliahan berlangsung seperti umumnya program kuliah S1 reguler: ada beberapa mata kuliah yang diambil sekaligus dan diujiankan per semester. Karena ada beberapa mata kuliah, ya sehari-harinya tentu para mahasiswa tidak mungkin hanya memikirkan beban satu mata kuliah saja: sambil mengerjakan makalah mata kuliah A, teringat tugas baca mata kuliah B, lalu juga kuis untuk mata kuliah C. Karena itulah mahasiswa kelas reguler amat disarankan untuk tidak keterlaluan sibuk dalam hal-hal selain perkuliahan, kecuali memang ia amat sangat mahir terampil dalam multitasking dan pintar (yang jelas bukan saya!)

Keterlaluan sibuk mungkin bahaya, tapi mudah-mudahan tidak kalau hanya 'agak-agak' sibuk. Dan menurut saya, kesibukan saya tidak tergolong keterlaluan.

Tidak seperti sebelum mulai kuliah lagi dulu, kini saya tidak mengajar di sekolah formal. Tidak ada pekerjaan administratif tambahan yang menyita waktu dan tidak ada pula beban-beban lainnya terkait hubungan struktural dalam kelembagaan sekolah itu sendiri. Lalu saya juga hanya mengajar 2-3 jam sehari. Itu pun hanya 2 kali seminggu (dikurangi dari 4 kali seminggu atas anjuran suami sejak kami memulai kembali program kehamilan).

Namun dengan kemampuan multitasking saya yang buruk, kadang-kadang saya masih bisa agak kewalahan dengan kesibukan yang tidak seberapa itu. Buku untuk mata kuliah A yang harus di-review di tangan kiri, tangan kanan utak-atik slide presentasi untuk mata kuliah B, lesson plan di pangkuan, belum lagi memikirkan kuis mata kuliah C dan rencana kunjungan ke dokter.


Ada yang senang menulis agenda? Bagi saya, membuat pemetaan waktu bekerja dalam agenda cukup membantu (dan sangat menyenangkan), sih..tapi entah bagaimana tidak benar-benar efektif juga. Jadi meskipun misalnya saya sudah menjadwalkan untuk hanya mengerjakan A di suatu hari hingga selesai agar bisa mengerjakan B esok harinya, kenyataannya tidak selalu sesuai. Bisa jadi si A dikerjakan tapi tidak selesai, lalu esoknya tiba-tiba saja saya malah memegang pekerjaan C -.-'

Bagaimanapun, pekerjaan saya selalu selesai tepat waktu, alhamdulillah. Tenggat waktulah yang menyelamatkan saya dari ketidakefektifan mengerjakan sesuatu. Tenggat waktu yang semakin dekat selalu mampu membuat otak dan jari-jemari saya seolah tersihir...tiba-tiba mampu menulis 9 halaman dalam semalam, misalnya, padahal seharian sebelumnya setengah mati menghasilkan 3 halaman.

Selamat, memang, kalau tenggat waktu tiap pekerjaan tidak bersamaan. Sementara hidup tidak selalu sebahagia itu. Baru-baru ini, penundaan saya atas beberapa pekerjaan sekaligus membuat saya harus merelakan berkurangnya jam tidur selama 3 hari berturut-turut (padahal tidur itu maha penting bagi saya!) begitu tenggat waktu nyaris bertumpuk. Huah...kapok!

Akhirnya saya mencoba 'gaya hidup' baru. Tetap berpedoman pada si buku agenda tercinta, saya pun berusaha mematuhi rencana kerja yang saya buat sendiri. Belajar dari pengalaman, saya membuat banyak celah kosong di antara setumpuk rencana yang saya tulis. Maksudnya adalah untuk mewadahi sifat saya yang moody dan cepat bosan. Jadi pada celah waktu tersebut, saya bebas memilih mengerjakan apa saja yang saya inginkan pada saat itu, sebelum kembali pada pekerjaan yang telah direncanakan.

Hasilnya ternyata sungguh membahagiakan! Kegiatan menulis saya, misalnya, jadi semakin gencar dan lancar dengan cara begini (jangan heran ya kalau saya masih sempat ngeblog sebelum presentasi). Ketika saya sadar bahwa waktu saya sangat terbatas, saya jadi semakin cepat menghasilkan sebuah tulisan. Selesai menulis, saya pun kembali ke pekerjaan semula dengan berbahagia dan lebih cepat pula menyelesaikannya karena saya tidak ingin melewatkan 'celah bebas' lainnya :D

Nah, kurang lebih begitulah keseharian saya saat ini. Itulah salah satu alasan kenapa sebanyak apapun tugas kuliah, saya tidak mau meninggalkan kegiatan mengajar dan menulis (selain karena memang saya cinta mati pada kedua dunia itu). Jika melepasnya, belum tentu saya juga lebih konsentrasi kuliah, mungkin malah kurang bergairah karena tidak ada variasi, terlalu banyak keleluasaan, kurang tantangan...esshhh mudah-mudahan ini bukan bermaksud sombong dan takabur...

Maka dengan ini saya ucapkan selamat datang pada kesempitan, juga kesempatan yang semakin bermunculan di dalamnya! Semoga berkah dan saya bisa memanfaatkannya sebaik-baiknya, amiin.


Salam semangat!
- H e i D Y -

Terimakasih pada pencipta gambar! Saya unduh dari sini.

Minggu, 16 Mei 2010

Di mana saya sekarang?

Hai! Siapa yang merindukan sayaa?…..? *kedip-kedip centil*

Beberapa bulan yang lalu, saat saya masih berstatus pegawai swasta yang sedang mengambil unpaid leave dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah untuk tujuan menulis, saya sempat mengalami writer’s block dan menjadi gundah gulana karenanya. Inspirasi mampet dan gairah lebih banyak ‘tenggelam’ ketimbang ‘timbul’. Tak perlu waktu lama untuk menyelidiki dan mengetahui penyebabnya. Hanya dengan beberapa kali kontemplasi dan berdiskusi sana-sini, saya pun tahu bahwa kebuntuan itu disebabkan oleh minimnya sumber inspirasi.

Dari mana saja saya memperoleh inspirasi? Hidup saya sendiri? Bosan! Bukan berarti saya merasa hidup saya membosankan, astaghfirullah... Hidup saya luar biasa kok, alhamdulillah. Masalahnya, saya sudah menulis berlembar-lembar tentang berbagai hal dalam hidup saya. Saya haus akan sumber inspirasi lainnya!

Dalam masa itu, salah seorang sahabat saya sempat berkomentar sambil lalu, “Heidy....kamu itu nggak cocok hanya kerja di belakang meja. Kamu hidup untuk bersentuhan langsung dengan orang lain..untuk berbagi banyak hal secara langsung! Kurasa kamu ditakdirkan untuk itu!”

Kata-kata itu begitu ringan diucapkan, namun bermakna sangat dalam! Itu adalah kata-kata yang diucapkan hanya dalam hitungan detik, tapi membuat saya terhenyak dan termenung berhari-hari. Dan siapa sangka, ucapan itulah yang menjadi salah satu pendorong saya dalam mengambil salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya.
Saya kembali menceburkan diri ke dunia yang sebetulnya sangat kuat menarik minat saya tapi kemudian sempat saya tinggalkan dengan alasan ’ingin melihat dunia yang lebih luas dan mencari tantangan yang lebih besar’. Dunia pendidikan, itulah labelnya.

Untuk itu, saya menggenapkan shalat-shalat istikharah saya, memohon untuk diberikan kemantapan dalam memutuskan....dan saya pun mengundurkan diri dari pekerjaan saya di dunia market research, sebuah dunia yang sebetulnya juga sangat menarik, menawarkan luasnya wawasan ilmu dan jaringan sosial, tantangan dan karir yang berjenjang, serta penghasilan tetap yang cukup.

Waktu saya sudah benar-benar mundur (bukan lagi berstatus cuti, tapi resign), saya masih meraba-raba dalam membuat tahapan langkah untuk cita-cita saya di dunia pendidikan. Apa yang saya inginkan? Apa yang harus saya lakukan untuk itu? Dari mana saya harus mulai? Saat itulah, subhanallah, Allah menunjukkan jalan melalui seorang teman yang menawarkan lowongan pekerjaan sebagai guru sekolah.

Guru sekolah! Saya belum pernah benar-benar menjadi guru sekolah. Saya pernah menjadi guru privat, guru bimbel, guru di sebuah lembaga pendidikan non formal, tapi belum pernah menjadi guru sekolah. Saya ingat betul ketika melakoni peran guru di lembaga-lembaga itu, seringkali saya bertanya-tanya tentang guru sekolah. Sebesar apa tanggung jawab mereka? Apa saja yang mereka lakukan sebagai sosok kedua (setelah orangtua) yang bertatap muka paling banyak dengan para pelajar? Saya mungkin belum memutuskan untuk menjadi guru sekolah sampai akhir hayat kelak, tapi saya tahu betul...entah untuk berapa lama, dalam suatu masa hidup saya, saya harus menjadi guru sekolah.

Selain alasan tersebut di atas, ada alasan lain yang lebih besar mengapa saya memutuskan untuk menyandang profesi guru di sekolah ini. Sekolah tempat saya mengajar ini adalah sebuah sekolah dasar yang mengandung nama ’Islam’ dalam rangkaian nama yang disandangnya. Namun, sekolah ini lebih dari sekolah agama seperti yang selama ini saya bayangkan. Berdasarkan informasi awal yang saya peroleh, saya mengetahui bahwa gaya pembelajaran di sekolah ini mengadopsi gaya pembelajaran di beberapa sekolah sekaligus : sekolah alam, sekolah islam terpadu, sekolah swasta, hingga bahkan sekolah negeri. Hal ini pun terbukti ketika saya mencicipinya langsung.


Sungguh luar biasa. Sebagai seseorang yang selama ini lebih banyak mengenyam pendidikan di sekolah negeri (dari SMP sampai perguruan tinggi), saya takjub menyaksikan apa yang diperoleh anak-anak di sekolah ini. Mereka mendapatkan banyak pengalaman belajar yang tidak saya peroleh ketika di bangku sekolah. Mempelajari berbagai ilmu dengan memaksimalkan seluruh modal belajar (visual, auditori, kinestetik) dan ranah kompetensi (psikomotor, afektif, dan kognitif), menerapkan prinsip-prinsip islam dalam multi disiplin ilmu, menerapkan langsung ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, belajar berpikir kritis, belajar memahami konsep-konsep moral di balik peraturan, belajar menyelesaikan berbagai masalah sosial, dan masih banyak lagi!

Saya bisa belajar banyak hal dan insyaAllah turut berbagi banyak hal. Itulah yang menjadi motivasi saya bergabung dengan sekolah ini. Meskipun untuk itu, keikhlasan saya untuk mengorbankan banyak hal juga diuji.

Waktu dan tenaga adalah salah satu biaya terbesar yang harus saya keluarkan untuk memperoleh pelajaran yang saya inginkan di sini. Berbeda halnya dengan profesi guru bimbel yang pernah saya lakoni dulu, waktu dan tenaga saya di sini tidak hanya terpakai untuk menyiapkan problem set dan mengajar di depan kelas. Saya belajar bahwa untuk bisa memberikan dan mendapatkan hasil yang maksimal, persiapan yang dilakukan pun harus maksimal...mulai dari menggodok konsep, menyusun program, menurunkannya dalam bentuk unit&lesson plan, menyiapkan alat peraga, menyiapkan rencana cadangan, dan sebagainya. Belum lagi hal-hal di luar persoalan akademis yang sangat saya senangi sejak dulu : memfasilitasi anak untuk menyelesaikan masalah-masalahnya di luar masalah akademis.

Di tengah kelelahan fisik yang terkadang muncul dan komentar orang-orang di luar lingkungan ini tentang ’untuk apa saya membuang-buang uang di sini’, saya yakin bahwa saya sama sekali tidak merugi. Untuk yang peduli dan ikut memikirkan masalah pendapatan, terimakasih dan tidak perlu khawatir: saat ini saya sedang sekolah lagi, cari ilmu, bukan cari uang. Untuk yang peduli dan menyayangkan masih ’kecil’nya tantangan dan sumbangsih saya pada negeri dan dunia, terimakasih dan tolong bersabar. Doakan saja saya untuk terus berkembang, karena saya berjanji tak akan berhenti di sini.

Lalu bagaimana soal gairah dan inspirasi, hal pertama yang saya sebut dalam tulisan ini? Let’s hear the other good news, meskipun saya merasa belum bisa tersenyum senang. Tentu saja, alhamdulillah…dunia ini terbukti mendukung passion saya di bidang menulis dengan memberi banyak inspirasi. Kalau saya mengalami kebuntuan inspirasi di saat dulu sedang cuti dan punya banyak waktu untuk menulis, sekarang…inspirasi begitu melimpah ruah! Masalahnya, sekarang saya tidak punya cukup waktu untuk menulisnya.

So, any advice?

15 Mei 2010
- H e i D Y -

Terimakasih kepada sang pencipta gambar (saya unduh dari sini)!