Gw nggak akan deh, menyebut diri sebagai blogger. Alasannya sederhana: karena kayaknya gw orang paling nggak konsisten sedunia dalam memelihara kelangsungan hidup blog gw….haha.
Tulisan sebelum ini sebenarnya dipost lebih dari 2 tahun yang lalu, jadi selama tahun 2010 dan 2011 gw dengan sukses nggak mengeposkan apapun di blog ini doong (kebanggaan yang aneh)! Tapi lalu gw sadar, ternyata di tahun 2010 pernah 3x bikin tulisan yg dipublikasikan... di facebook (notes), lalu sekali di penghujung 2011. Padahal keduanya seharusnya juga terekam di blog ini, tapi kok nggak ada ya? Sungguh sebuah misteri! Nah, karena gw KADANG-KADANG suka ngerapihin arsip gitu, jadilah pada tampilan terakhir ini, setelah copy-paste keempat tulisan lama itu, nyaris nggak ketahuan kaan gw pernah absen dua tahun dari 'rumah' yang satu ini...hihihi (nggak penting pisaan).
Oke, balik ke topik ketidakkonsistenan. Sebenernya bukan blog aja, sih. Gw emang nggak bakat konsisten berinteraksi dengan dunia maya. Mau blog, blog mikro, milis, semuanya pasti ada masanya buat gw. Kalo lagi niat banget ya rajiiin nongol, kalo nggak ya nggak. Mungkin mirip-mirip resolusi gitu kali, ya. Kan banyak tuh yg udah pada males bikin resolusi tahunan karna banyakan gagalnya daripada berhasilnya…hehehe. Ini teringat cerita beberapa teman bahwa resolusi yg suka gagal tuh yg berhubungan dengan kekonsistenan dalam perbaikan gaya hidup: olahraga, diet, dsb. Nah kalo buat gw, biasanya ya resolusi untuk konsisten blogging, aktif di milis, dsb dsb.
Oh, sebenernya ada nih yg ngebantu: kehadiran smartphone. Benda mungil yg sehari-hari keberadaannya nggak jauh-jauh dari tangan ini bisalaah membantu gw untuk lebih rajin bls email, bermicroblogging, atau sekadar nongol di social media. Tapi kalo milis dan blog? Tetep yeuh, males banget tersambung dan nulis dari smartphone.
Soal nulis sendiri sih sebenarnya lumayan konsisten. Bisa jadi apa yg gw tulis jg seharusnya dipos di blog. Tapi instead of doing that, gw malah kekep sendiri tulisan-tulisan itu di notebook, pake password segala. Mungkin emang ada masanya gw senang berbagi kisah hidup, ada kalanya yaa…sudahlah, konsumsi pribadi aja deh. Bukan berarti tiap gw diam berarti lagi ditimpa masalah superberat yg berupa aib juga sih. Eh, apa iya ya? Ah, nggak juga, ah…. (Apa sih Dy???) *labil*
Ada satu hal tentang menulis yang bikin gw kepikiran banget sebenarnya, yaitu menulis hal yang berhubungan dengan orang lain. Sejauh ini kalo gw inget-inget, gw seneng-seneng aja menulis apapun yang hubungannya cuma sama diri sendiri. Tapi yg namanya doyan mikir dan nulis, sebenarnya apa aja gw tulis. Kejadian yg nimpa orang lain, hal yang terjadi antara gw dan orang lain, cerita orang lain ke gw….semuanya. Gatel banget ini otak maupun tangan kalo nggak mikirin dan menuangkannya dalam tulisan. Tapi saat tulisan selesai, gw bisa tercenung lama, cuma meratiin si hasil tulisan dan kemudian memutuskan untuk menyembunyikan tulisan tersebut. Iya, gw penakut. Kalo tulisan gw ada hubungannya sama orang lain dan ada unsur negatif di dalamnya (opini negatif, fakta yg merupakan aib, dll), mending milih nggak ada yang baca selain gw deh, sampai kiamat.
Kalo ada yg nanya tentang penerbitan buku gw yg berikutnya….yah, kuranglebih itulah masalahnya. Kebanyakan tulisan gw didasarkan pada kenyataan atau dengan kata lain apa yg gw benar-benar tahu, lihat atau alami sendiri. Tapi ya namanya hidup kan nggak sendiri, berhubungan terus sama manusia lain. Jadi jelas banyak di antara pengalaman gw yg tersangkutpaut dengan oranglain sehingga dalam tulisan juga nyebut-nyebut mereka. Dan sayangnya, nggak semuanya bersifat positif ketika gw sangat ekspresif :(
Kadang gw suka ngayal jg….gmana kalo gw bertransformasi menjadi penulis yang jujur berani tanpa kebanyakan mikir dalam ‘bersuara’ lewat tulisan…tapi sepertinya gw lebih merasa kalo itu bukan diri gw yg sebenarnya. Lah, kalo bukan gw yg sebenarnya, apanya yang jujur? Itu sih menipu diri sendiri. Nggak akan bahagia dunia akhirat, tampaknya. Jadi diri sendiri aja deh.
salam riang!
- H e i D Y -
HIDUP itu INDAH
ketika sadar untuk mensyukuri dan memaknai hidup
Kamis, 05 Januari 2012
Kamis, 22 Desember 2011
Ketika Hati Tersakiti
Maaf, ini hanya tulisan sok tahu hasil sebuah perenungan pribadi. Mohon tidak berharap terlalu banyak.
Ketika hati tersakiti, ada tiga proses yang kutahu. Ternyata 'memaafkan' dan 'sembuh dari sakit hati' itu adalah dua hal yang berbeda. Lalu dengan 'kembali seperti semula', menjadi tiga hal.
Memaafkan itu harus, wajib bagi orang-orag yang beriman pada Tuhan Yang Maha Pemaaf.
Bisa dibiilang, kasarnya, "Tuhan aja maafin, masa manusia nggak. Sombong bener..."
Tapi mungkin kata-kata di atas bisa dibalik juga: "Nggak segampang itu gue sanggup maafin! Emang gue Tuhan!"
Yah, dua sikap itu bisa terjadi pada manusia normal, tergantung derajat sakit hatinya. Sikap kedua mungkin lebih mudah dihindari oleh kaum sufi, yang sungguh membuat iri diriku dan siapapun yang masih merasa tergolong 'rakyat jelata', yang keimanan dan ketaqwaannya masih naik turun Gunung Semeru (kenapa pula Semeru??). Dengan demikian, solusi untuk masalah yang satu ini jelas: tingkatkan iman dan taqwa (gampaang, tapi ngomongnya doang!).
Sembuh dari sakit hati itu biasanya pasti, hanya saja waktu perolehannya bervariasi.
Ada yang dalam sejam bisa langsung sembuh, ada yang baru sanggup seabad kemudian. Sungguh beruntung orang-orang yang tergolong tipe pertama. Hidup nggak pernah susah. Orang-orang ini bisa jadi sejak lahir sudah beruntung, atau baru-baru saja. Entahlah. Tapi yang jelas, mereka tergolong manusia-manusia yang bersyukur.
Bersyukur? Ini juga kedengerannya gampang. Coba bayangkan hal yang paling buruk yang tak pernah kita inginkan terjadi. Yakin, tak sepatah kata pun selain syukur meluncur dari mulutmu?
Lupakan. Kau takkan pernah tahu kekuatan itu, sampai musibah itu benar-benar terjadi. Dan saat semua itu terlewati dengan luka yang telah menutup, barulah kau tahu: kau sudah sembuh. Dan selamat, kau mampu masuk dalam golongan yang beruntung itu: manusia-manusia penuh rasa syukur.
Kembali seperti semula....nah, ini yang belum tentu. Bisa jadi lebih baik tidak, demi kemudahan memaafkan dan kelancaran proses penyembuhan si sakit hati. Bukankah satu hubungan yang begitu menguras energi jiwa dan raga demi menjaganya dan lebih dekat pada maksiat itu tidak lebih baik daripada menghindari hubungan tersebut demi kebaikan dunia akhirat bagi masing-masing pihak? Dengan demikian, memaklumi dan menghormati pilihan sikap setiap orang dalam mengatasi urusan perasaannya mungkin merupakah keputusan terbijak.
Rasa sakit hati karena disakiti itu nggak enak, jelas. Tapi, pernahkah terpikir?
Lebih nggak enak lagi untuk yang menyakiti kemudian menyesal...pasti selalu ingin memutar balik waktu! Karna itu, kurasa memaafkan dan segera sembuh adalah satu wujud welas asih terhadap orang-orang yang telanjur menyakiti..terutama yang tak sengaja dan sesungguhnya menyayangi kita.
Yang bingung atau kaget sama pemikiran ini mungkin akhlaknya seindah malaikat, ya. Maklum, ini terpikir olehku yang jelas sering juga khilaf menyakiti perasaan orang. Dan kalau meningat-ingat apa yg kulakukan itu, dibandingkan dengan rasa jika jadi yang disakiti, hmmm...mending milih yang kedua deh, serius.
Rasa tersiksa karena menyesal telah menyakiti itu nggak bisa dihapus, kecuali muter balik waktu, kembali ke masa lalu. Mustahil, kan. Beda halnya dengan rasa tersiksa karena disakiti yang sesungguhnya adalah kuasa orang yang tersakiti itu. Dan secara moral jelas, kedudukan orang terdzhalimi itu lebih tinggi.
Pada kasus tertentu, ternyata proses di atas bisa dialami secara terbalik demi kebaikan dunia akhirat, demi cinta tak bersyarat pada yang menyakiti, separah apapun luka yang ia timbulkan: kembali seperti semula - memaafkan - sembuh.
Ah, apa sih sebetulnya yang sedang kulakukan? Entah apa simpulan yang ingin kucari dari perenungan ini.
Hanya satu yang jelas, sejak dulu: apapun yang terjadi, sebagaimanapun tersakitinya sang hati, bukan masalah besar jika nur-Nya yang menjaga tak terkotori apapun jua. Nah, siapa manusia yang sanggup mendekati kesempurnaan itu?
19 Desember 2011
Untuk siapapun pemilik hati-hati yang tersakiti dan menyesal karena telanjur menyakiti, semoga ingat untuk kembali pada keadaan tersucinya...yang hanya terisi oleh sifat-sifat Penciptanya.
Dengan cinta - h e i D Y
Ketika hati tersakiti, ada tiga proses yang kutahu. Ternyata 'memaafkan' dan 'sembuh dari sakit hati' itu adalah dua hal yang berbeda. Lalu dengan 'kembali seperti semula', menjadi tiga hal.
Memaafkan itu harus, wajib bagi orang-orag yang beriman pada Tuhan Yang Maha Pemaaf.
Bisa dibiilang, kasarnya, "Tuhan aja maafin, masa manusia nggak. Sombong bener..."
Tapi mungkin kata-kata di atas bisa dibalik juga: "Nggak segampang itu gue sanggup maafin! Emang gue Tuhan!"
Yah, dua sikap itu bisa terjadi pada manusia normal, tergantung derajat sakit hatinya. Sikap kedua mungkin lebih mudah dihindari oleh kaum sufi, yang sungguh membuat iri diriku dan siapapun yang masih merasa tergolong 'rakyat jelata', yang keimanan dan ketaqwaannya masih naik turun Gunung Semeru (kenapa pula Semeru??). Dengan demikian, solusi untuk masalah yang satu ini jelas: tingkatkan iman dan taqwa (gampaang, tapi ngomongnya doang!).
Sembuh dari sakit hati itu biasanya pasti, hanya saja waktu perolehannya bervariasi.
Ada yang dalam sejam bisa langsung sembuh, ada yang baru sanggup seabad kemudian. Sungguh beruntung orang-orang yang tergolong tipe pertama. Hidup nggak pernah susah. Orang-orang ini bisa jadi sejak lahir sudah beruntung, atau baru-baru saja. Entahlah. Tapi yang jelas, mereka tergolong manusia-manusia yang bersyukur.
Bersyukur? Ini juga kedengerannya gampang. Coba bayangkan hal yang paling buruk yang tak pernah kita inginkan terjadi. Yakin, tak sepatah kata pun selain syukur meluncur dari mulutmu?
Lupakan. Kau takkan pernah tahu kekuatan itu, sampai musibah itu benar-benar terjadi. Dan saat semua itu terlewati dengan luka yang telah menutup, barulah kau tahu: kau sudah sembuh. Dan selamat, kau mampu masuk dalam golongan yang beruntung itu: manusia-manusia penuh rasa syukur.
Kembali seperti semula....nah, ini yang belum tentu. Bisa jadi lebih baik tidak, demi kemudahan memaafkan dan kelancaran proses penyembuhan si sakit hati. Bukankah satu hubungan yang begitu menguras energi jiwa dan raga demi menjaganya dan lebih dekat pada maksiat itu tidak lebih baik daripada menghindari hubungan tersebut demi kebaikan dunia akhirat bagi masing-masing pihak? Dengan demikian, memaklumi dan menghormati pilihan sikap setiap orang dalam mengatasi urusan perasaannya mungkin merupakah keputusan terbijak.
Rasa sakit hati karena disakiti itu nggak enak, jelas. Tapi, pernahkah terpikir?
Lebih nggak enak lagi untuk yang menyakiti kemudian menyesal...pasti selalu ingin memutar balik waktu! Karna itu, kurasa memaafkan dan segera sembuh adalah satu wujud welas asih terhadap orang-orang yang telanjur menyakiti..terutama yang tak sengaja dan sesungguhnya menyayangi kita.
Yang bingung atau kaget sama pemikiran ini mungkin akhlaknya seindah malaikat, ya. Maklum, ini terpikir olehku yang jelas sering juga khilaf menyakiti perasaan orang. Dan kalau meningat-ingat apa yg kulakukan itu, dibandingkan dengan rasa jika jadi yang disakiti, hmmm...mending milih yang kedua deh, serius.
Rasa tersiksa karena menyesal telah menyakiti itu nggak bisa dihapus, kecuali muter balik waktu, kembali ke masa lalu. Mustahil, kan. Beda halnya dengan rasa tersiksa karena disakiti yang sesungguhnya adalah kuasa orang yang tersakiti itu. Dan secara moral jelas, kedudukan orang terdzhalimi itu lebih tinggi.
Pada kasus tertentu, ternyata proses di atas bisa dialami secara terbalik demi kebaikan dunia akhirat, demi cinta tak bersyarat pada yang menyakiti, separah apapun luka yang ia timbulkan: kembali seperti semula - memaafkan - sembuh.
Ah, apa sih sebetulnya yang sedang kulakukan? Entah apa simpulan yang ingin kucari dari perenungan ini.
Hanya satu yang jelas, sejak dulu: apapun yang terjadi, sebagaimanapun tersakitinya sang hati, bukan masalah besar jika nur-Nya yang menjaga tak terkotori apapun jua. Nah, siapa manusia yang sanggup mendekati kesempurnaan itu?
19 Desember 2011
Untuk siapapun pemilik hati-hati yang tersakiti dan menyesal karena telanjur menyakiti, semoga ingat untuk kembali pada keadaan tersucinya...yang hanya terisi oleh sifat-sifat Penciptanya.
Dengan cinta - h e i D Y
Langgan:
Entri (Atom)