Kamis, 22 Desember 2011

Ketika Hati Tersakiti

Maaf, ini hanya tulisan sok tahu hasil sebuah perenungan pribadi. Mohon tidak berharap terlalu banyak.

Ketika hati tersakiti, ada tiga proses yang kutahu. Ternyata 'memaafkan' dan 'sembuh dari sakit hati' itu adalah dua hal yang berbeda. Lalu dengan 'kembali seperti semula', menjadi tiga hal.

Memaafkan itu harus, wajib bagi orang-orag yang beriman pada Tuhan Yang Maha Pemaaf. Bisa dibiilang, kasarnya, "Tuhan aja maafin, masa manusia nggak. Sombong bener..." Tapi mungkin kata-kata ini dapat dibalik juga: "Nggak segampang itu gue sanggup maafin! Emang gue Tuhan!"

Yah, dua sikap itu bisa terjadi pada manusia normal, tergantung derajat sakit hatinya. Sikap kedua mungkin lebih mudah dihindari oleh kaum sufi, yang sungguh membuat iri diriku dan siapapun yang masih merasa tergolong 'rakyat jelata', yang keimanan dan ketaqwaannya masih naik turun Gunung Semeru (kenapa pula Semeru??). Dengan demikian, solusi untuk masalah yang satu ini jelas: tingkatkan iman dan taqwa (Gampaang...ngomongnya!).

Sembuh dari sakit hati itu biasanya pasti, hanya saja waktu perolehannya bervariasi. Ada yang dalam sejam bisa langsung sembuh, ada yang baru sanggup seabad kemudian. Sungguh beruntung orang-orang yang tergolong tipe pertama. Hidup nggak pernah susah. Orang-orang ini bisa jadi sejak lahir sudah beruntung, atau baru-baru saja. Entahlah. Tapi yang jelas, mereka tergolong manusia-manusia yang bersyukur.

Bersyukur? Ini juga terdengar gampang. Coba bayangkan hal yang paling buruk yang tak pernah kita inginkan terjadi. Yakin, tak sepatah kata pun selain syukur meluncur dari mulutmu?

Lupakan. Kau takkan pernah tahu kekuatan itu, sampai musibah itu benar-benar terjadi. Dan saat semua itu terlewati dengan luka yang telah menutup, barulah kau tahu: kau sudah sembuh. Dan itu berarti selamat, karena kau sudah mampu masuk dalam golongan yang beruntung itu: manusia-manusia penuh rasa syukur.

Kembali seperti semula....nah, ini yang belum tentu. Bisa jadi lebih baik tidak, demi kemudahan memaafkan dan kelancaran proses penyembuhan si sakit hati. Bukankah satu hubungan yang begitu menguras energi jiwa dan raga demi menjaganya dan lebih dekat pada maksiat itu tidak lebih baik daripada menghindari hubungan tersebut demi kebaikan dunia akhirat bagi masing-masing pihak? Dengan demikian, memaklumi dan menghormati pilihan sikap setiap orang dalam mengatasi urusan perasaannya mungkin merupakah keputusan terbijak.


Rasa sakit hati karena disakiti itu tidak enak, jelas. Tapi, pernahkah terpikir? Lebih tak enak lagi untuk yang menyakiti kemudian menyesal...pasti selalu ingin memutar balik waktu! Karena itu, kurasa memaafkan dan segera sembuh adalah satu wujud welas asih terhadap orang-orang yang telanjur menyakiti..terutama yang tak sengaja dan sesungguhnya menyayangi kita.

Yang bingung atau kaget sama pemikiran ini mungkin akhlaknya seindah malaikat, ya. Maklum, ini terpikir olehku yang jelas sering juga khilaf menyakiti perasaan orang. Dan kalau meningat-ingat apa yg kulakukan itu, dibandingkan dengan rasa jika jadi yang disakiti, hmmm...mendingan memilih yang kedua, deh. Serius.

Rasa tersiksa karena menyesal telah menyakiti itu tak bisa dihapus, kecuali memutar balik waktu, kembali ke masa lalu. Mustahil, kan. Beda halnya dengan rasa tersiksa karena disakiti yang sesungguhnya adalah kuasa orang yang tersakiti itu. Dan secara moral jelas, kedudukan orang terdzhalimi itu lebih tinggi.

Pada kasus tertentu, ternyata proses di atas bisa dialami secara terbalik demi kebaikan dunia akhirat, demi cinta tak bersyarat pada yang menyakiti, separah apapun luka yang ia timbulkan: kembali seperti semula - memaafkan - sembuh.

Ah, apa sih sebetulnya yang sedang kulakukan? Entah apa simpulan yang ingin kucari dari perenungan ini.

Hanya satu yang jelas, sejak dulu: apapun yang terjadi, sebagaimanapun tersakitinya sang hati, bukan masalah besar jika nur-Nya yang menjaga tak terkotori apapun jua. Nah, siapa manusia yang sanggup mendekati kesempurnaan itu?



19 Desember 2011

Untuk siapapun pemilik hati-hati yang tersakiti dan menyesal karena telanjur menyakiti, semoga ingat untuk kembali pada keadaan tersucinya...yang hanya terisi oleh sifat-sifat Penciptanya.

Dengan cinta - H e i D Y


Terimakasih kepada pencipta gambar yang saya unduh dari sini!

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanallah sungguh saya terkesan dengab tulisan ukhti. karena saya mengalami hal yang nyata seperti tulisan ukhti "pernah menyakiti" dan "disakiti" itulah kehidupan. Alhamdulillah sy kmbali k jalanNya dan lebih bnyk belajar mengambil hikmah dari semua peristiwa. Semoga ukhti dan keluarga sllu dlm lindunganNya.

Heidy Kaeni mengatakan...

Anonim,

Terimakasih sudah mampir, membaca dan mengomentari tulisan ini. Meski tak tahu persis apa pengalaman Anda, tapi sepertinya saya bisa ikut merasakan. Terimakasih atas doanya yang tulus, saya doakan juga Anda dan keluarga selalu dirahmati Allah SWT serta diberikan kemudahan untuk menggapai sukses dan bahagia dunia akhirat. Amin.

Hikmatunnisa 28 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hikmatunnisa 28 mengatakan...

Semoga aku termasuk dari bagian manusia yang selalu memaafkan kemudian menyembuhkan luka, amin.

Hikmatunnisa 28 mengatakan...

Semoga aku termasuk dari bagian manusia yang selalu memaafkan kemudian menyembuhkan luka, amin.

Hikmatunnisa 28 mengatakan...

Semoga aku termasuk dari bagian manusia yang selalu memaafkan kemudian menyembuhkan luka, amin.