Minggu, 11 November 2012

nikmat vs ujian dan kebahagiaan sejati

Lazimnya, seseorang berduka saat mengalami hal yang buruk dari kacamata duniawi: kehilangan anggota keluarga, harta benda, pekerjaan, jabatan, nama baik, martabat, dan lain sebagainya. Lazimnya pula, seseorang bersenang hati ketika mendapatkan hal-hal yang terasa nikmatnya di dunia: mendapatkan kemudahan dalam berbagai urusan duniawi, memperoleh pekerjaan, dilimpahi kekayaan, dikaruniai anak dan pasangan hidup, dihormati orang lain, dan seterusnya.

Sementara itu, yang lebih jarang terjadi adalah berbahagia saat mengalami kesulitan dalam hidup dan sebaliknya, prihatin dan takut saat memperoleh begitu banyak nikmat duniawi. Manusiawi sekali, tentu. Begitu menyengsarakannya sebuah penyakit atau musibah di dunia, hingga yang otomatis terucap mungkin berupa keluhan, ratapan, bahkan pertanyaan pada Tuhan: mengapa Engkau menimpakan cobaan seperti ini kepadaku? Begitu memabukkannya segala nikmat di dunia, hingga terlupakan sama sekali bahwa sesungguhnya itulah ujian yang sebenarnya dari Tuhan, apakah kita akan larut dalam kesenangan hingga melupakanNya.

Masih kuingat momen saat lulus sidang sarjana sekitar tujuh tahun yang lalu. Setelah berbulan-bulan mengerjakan tugas akhir dengan 'penuh darah dan airmata',  hari itu aku menyampaikan kabar baik tersebut dengan sukacita pada Mama. Namun ternyata Mama justru seolah kuat-kuat menarikku agar tidak terbang atau melambung tinggi. Meskipun Mama tahu betul perjuanganku saat menulis skripsi, tanggapannya di akhir sangat kalem dan mengajakku untuk bersikap serupa. Aku sama sekali masih tak mengerti saat itu.  Bukankah wajar seseorang bersukacita di saat-saat tertentu? Apalagi setelah melewati dan mengalami begitu banyak kesusahan! Karena itulah, waktu itu aku hanya menganggap Mamaku orangtua yang 'nggak seru'. Astaghfirullah...maaf ya Maa..

Pertama kali aku mulai belajar tentang hal ini kira-kira enam tahun yang lalu, ketika aku jatuh sakit dan harus diopname di rumah sakit. Sebagai seseorang yang tak kuat menahan sakit, kegelisahan, kekesalan, kesedihan sekaligus ketakutan terus terungkap dari sikapku. Mama yang mendampingikulah yang mengingatkanku untuk tidak memikirkan dan melakukan apapun dalam segala ketidakberdayaanku saat itu selain bersyukur. Haa, bersyukur? Aku bingung sekali waktu itu. Memangnya apa yang dapat kusyukuri dalam kondisi yang demikian? Aku lupa sama sekali bahwa seseorang yang sabar dalam sakitnya dapat menjadi sangat dekat dengan Tuhannya dan kemudian dilunturkan dosa-dosanya. Pantas saja ada orang-orang yang dapat 'berdamai' dan begitu berbahagia saat jatuh sakit. Ia melihat limpahan berkah di sana, dan seperti itulah yang sikap yang diharapkan Mama dariku.

Setelah itu, aku semakin rajin 'diajak belajar' oleh Mama dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami maupun sekitar kami. Subhanallah, semakin nyata kebesaran Allah yang kusaksikan begitu aku mencoba mengubah cara pandangku terhadap satu demi satu hal. Betapa seseorang yang kehilangan jabatan dalam pekerjaan justru telah diselamatkan dan mendapat perlindungan Allah dari segala keburukan yang mengintai, betapa seseorang yang kehilangan harta bendanya sesungguhnya sedang disucikan dan dibantu untuk menuju kebaikan dunia akhirat.

Teorinya sih gampang: bersyukur saat merasa susah. Kenyataannya, saat datang hal yang sama sekali tak enak rasanya dan tak pernah terbayangkan sebelumnya, tetap saja kita dapat bereaksi seperti lazimnya manusia: berduka sedalam-dalamnya. Duka itu bahkan dapat membawa kita pada pertanyaan yang menunjukkan betapa lemahnya iman kita: "Kenapa kau berikan musibah ini, ya Allah??" Bahkan Mama, yang kuanggap sudah mumpuni dalam hal ini, pernah kusaksikan sendiri berada dalam titik ini. Sungguh tak tega melihatnya...

Hal sebaliknya sebenarnya lebih sulit lagi: prihatin, waspada, serta memohon ampunan dan perlindungan Allah justru ketika dihadapkan pada berbagai nikmat di dunia. Lihat saja, bukankah lebih sulit menemukan seorang pejabat negara yang terlihat khawatir ketika menerima sebuah jabatan ketimbang yang tampak begitu senang? Bukankah lebih sulit bagi kita untuk beristighfar ketimbang bersukacita saat dilimpahi kekayaan materi? Padahal sesungguhnya di balik segala nikmat itu, terkandung cobaan yang sebenarnya yang jika tak terjawab dengan baik dapat mendatangkan musibah yang lebih menyengsarakan dunia akhirat!

Namun, ada kabar baik bagi orang-orang yang sudah pernah mengalami kesusahan luar biasa atau musibah yang terasa cukup 'dahsyat' di dunia. Jika pernah berada pada titik terendah, merasa sangat terhinakan, dan tetap selalu mengingat Tuhan hingga saat kondisi itu berbalik, semua hal di atas menjadi sedikit lebih mudah dipahami. Seorang yang pernah dihinakan akan mampu melihat bahwa nikmat dunia dalam bentuk apapun hanya ada karena ridho Allah dan sewaktu-waktu dapat dicabut kembali. Ia juga takkan mampu terbebas sama sekali dari kewaspadaan dalam hati, takkan mampu melambungkan rasa sukacitanya, dan takkan mampu mengabaikan doa mohon ampunan serta lindungan Allah karena tahu betul bahwa nikmat itu sesungguhnya adalah ujian dan suatu saat nanti akan menjadi pengantar musibah jika disalahgunakan. Ah, sekarang aku mengerti mengapa dulu Mama berusaha keras agar aku tak besar kepala dengan kesarjanaanku. Kupahami pula bahwa sebenarnya pelajaran ini sejalan dengan pesan kearifan lokal masyarakat Jawa yang turun temurun diteruskan dari eyang-eyangku: Ngguyu aja keliwat, mengko mundhak nangis ('tertawa jangan berlebihan, nanti menangis'), jroning suka kudu eling lan waspada ('dalam kegembiraan harus tetap ingat dan waspada').

Sampailah aku pada simpulan bahwa sesungguhnya di dunia ini tak ada kesedihan maupun kebahagiaan yang sejati. Bahkan seseorang yang selalu berusaha berbuat kebajikan, berpegang pada ajaran agama dan melangkah lurus di jalan Allah setiap saat pun dapat merugi jika semua itu dirasakannya sebagai kebahagiaan sejati hingga tak mungkin ada keburukan yang 'menjatuhkan'nya. Terlebih jika itu membuatnya besar kepala, tinggi hati dan merasa dirinya telah suci, paling benar dan jauh lebih baik daripada orang lain. Betapa orang seperti itu kelak dapat lebih hina kedudukannya daripada seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing bagiku menunjukkan bahwa tak ada celah barang sedikit pun bagi seorang pun untuk sombong dan berhenti mensucikan diri selama masih hidup di dunia. Karena sesungguhnya akhir itu lebih baik daripada permulaan (QS. 93:4), karena kebahagiaan sejati itu hanya di akhirat dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridhoiNya. Semoga kita diridhoi untuk menjumpai akhir waktu kita masing-masing di dunia ini dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin yaa Rabb...


Mari belajar bersama.
- H e i D Y -

Sabtu, 22 September 2012

Demi Satu Suara

Pada putaran pertama Pemilihan Gubernur DKI tahun ini, saya dapat memberikan suara dengan mudah meski tidak mendapat kartu pemilih dan surat undangan. Hanya dengan berbekal KTP, petugas tempat pengambilan suara (TPS) di RT saya secara ramah mempersilakan saya duduk menunggu mereka mencari nama saya di Daftar Pemilih Sementara (DPS). Ketika beberapa menit kemudian nama saya ditemukan, saya pun diperbolehkan mencoblos. 

Alhamdulillah, kekhawatiran saya beberapa hari sebelumnya karena tidak mendapat kartu pemilih dan surat undangan ternyata tidak beralasan. Asal punya kemauan datang ke TPS di RT tempat kita terdaftar sebagai warga, ternyata apa yang sudah menjadi hak kita ya tidak lari kemana-mana.

Namun, ternyata keyakinan saya itu diuji kembali pada putaran kedua. Lagi-lagi saya tidak mendapat kartu pemilih dan surat undangan. Sempat saya dan suami beberapa kali mendatangi rumah pak RT tetapi tidak berhasil menemuinya karena beliau sedang tidak di rumah (sibuk betul!). Pada beberapa warga sekitar yang kebetulan sedang duduk-duduk di dekat rumah pak RT itu, saya bercerita bahwa saya ingin menanyakan perihal kartu pemilih dan surat undangan yang belum saya terima. 

Alangkah leganya saya ketika beberapa warga lain di RT saya itu menyatakan hal yang sama: "Saya juga nggak dapet kok, Mbak! Emang banyak yang nggak dapet!" Wah, ternyata memang 'kacau beliau' pembagian kartu dan surat itu di RT saya. Ya sudah, berarti memang saya ditakdirkan hanya berbekal KTP lagi saat datang ke TPS pada putaran kedua.

Oya, saya juga sempat terancam tidak dapat menggunakan hak suara saya karena kuliah yang saya ikuti setiap hari Kamis ternyata tidak libur meski kampus sudah menyatakan bahwa itu hari libur. Padahal, dosen saya juga semangat mau mencoblos. Namun, semangatnya mengadakan kuliah juga tidak kalah. Setelah sempat mencari alternatif hari pengganti tetapi tidak berhasil, akhirnya ditetapkanlah kami tetap kuliah di hari putaran kedua Pilkada DKI. Kebijakan yang tersisa adalah memundurkan jam kuliah: yang seharusnya mulai pukul 9 menjadi mulai pukul 10 pagi.

Hari pesta demokrasi yang ditunggu-tunggu tiba. Sampai di TPS, saya langsung mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang saya katakan saat ingin memilih di putaran pertama dulu: saya hanya berbekal KTP, tidak dapat kartu pemilih dan surat undangan. 

"Wah, ya tidak bisa, Mbak. Harus ada dua itu kalau mau nyoblos," kata salah satu petugas (Petugas 1) dengan entengnya. 

"Waktu putaran pertama saya juga nggak dapet, tapi tetap bisa nyoblos hanya dengan bawa KTP ini," protes saya. "Waktu itu nama saya tidak ada di DPT (Daftar Pemilih Tetap) tapi ada di DPS,"

"Ya itu kan putaran pertama mbak, sekarang sudah tidak boleh lagi," Petugas 2 menimpali.

"Sekarang sudah tidak ada DPS, mbak. Karena sudah putaran kedua, yang jadi pemilih dianggap sudah fix yang di DPT ini," Petugas 3 menambahi pula. 

Saya mulai kesal. Rasanya seperti dikeroyok ramai-ramai! 

"Lho tapi kan saya datang dan memilih waktu putaran pertama! Memangnya tidak dicatat bahwa saya termasuk pemilih? Kenapa dong nama saya tidak dipindah ke DPT lalu saya diberi undangan??" protes saya bertubi-tubi.

"Nah ... itulah mbak, sepertinya nggak direkap lagi oleh KPUnya," kata entah petugas yang mana.

Saya merasakan pipi, kepala, dada memanas berjamaah. Astaghfirullah .. saya tidak boleh meledak di sini ... tidak boleh! 

"Terus ... jadi saya harus gimana, dong?" Susah payah saya menahan ratusan kata lain yang sebetulnya sudah ada dalam pikiran saya.  

"Yaa nggak bisa milih mbak, kami juga nggak bisa apa-apa di sini. Itu bukan kewenangan kami!" 

"Pokoknya nggak berani ngapa-ngapain deh Mbak, kami ini disumpah!" 

Saya memperhatikan jawaban-jawaban dan raut-raut wajah tak peduli itu. Mereka semua duduk, saya berdiri (dengan culun: memanggul tas ransel, satu tangan menenteng botol minuman dan tangan lain mengewer-ewer KTP). Saya memandang mata mereka, mata mereka semua sibuk terpaku pada berkas-berkas yang ada di meja. Sebuah sopan santun yang luar biasa mengagumkan, bukan?

"Ya kalau emang mau nyoblos coba aja Mbak cari orang KPU di kelurahan, tanya ke mereka," salah satu mengusulkan. Tetap tanpa memandang saya.

"Tapi belum tentu akhirnya bisa juga, sih. Tapi kalau emang kepingin banget milih, ya coba aja deh." sambar yang lainnya. Sungguh kalimat yang menguatkan dan menentramkan hati, ya? 

"Ya pokoknya terserah Mbak, kalau mau coba ke kelurahan ya sekarang. Jam satu siang kami sudah harus tutup dan menghitung suara,"

Saya melirik jam tangan saya. Masih ada waktu kira-kira satu setengah jam sebelum kuliah dimulai. Perjalanan saya naik angkot ke kampus paling cepat memakan waktu sekitar satu setengah jam juga. Yang saya maksud paling cepat adalah dalam kondisi si angkot tidak lama ngetem dan jalan yang dilalui tidak macet. Sementara itu, kelurahan berjarak sekitar dua kilometer dari TPS. Jika saya naik angkot, mungkin sampai kampus tepat ketika dosen membubarkan kelas. Akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek. Tidak hanya untuk pergi ke kelurahan, tapi untuk kemudian kembali ke TPS (jika ternyata memang dapat memilih) dan/atau untuk mencapai terminal Kampung Rambutan agar saya bisa langsung menaiki angkot ke kampus saya di Depok.

Sesungguhnya, para petugas TPS itu sudah berhasil menanamkan rasa pesimis pada saya. Saya mendatangi kantor kelurahan sama sekali tidak dengan semangat membara. Memang masih berharap, tetapi tidak berharap besar. Saya berpikir mungkin saja pada akhirnya saya tetap tidak bisa memilih, tapi setidaknya saya berniat dan berusaha. Kalau saya memang tidak bisa meminta hak saya, setidaknya saya melaporkannya ke petugas KPU. 

Sampai di kantor kelurahan, seorang petugas KPU menyapa saya dengan sangat ramah dan tergopoh-gopoh mencari meja dan kursi untuk melayani saya. Setelah mendapat perlakuan yang tidak enak di TPS, tentu saja saya sama sekali tak menyangka mendapatkan pelayanan seperti itu dan merasa senang sekali. Hati saya langsung terhibur. Saya pun mengutarakan apa yang saya alami. Dan..kembali tidak disangka-sangka pula, sang petugas langsung marah!

Sang petugas KPU bukan marah kepada saya. Begitu saya selesai bercerita, ia langsung mencari nomor telepon ketua RT saya. Ekspresinya tampak penuh napsu marah saat berusaha menelepon si Pak RT...hihihi, lucu sekali. Eh, maaf, harusnya saya tidak senang saat orang dipenuhi amarah, ya? Namun apa boleh buat, saat itu setelah apa yang saya alami, spontan saya merasa terhibur sekali, sih!

Menurut sang petugas KPU, sudah jelas seharusnya saya bisa memilih. Nama saya memang tidak ada di DPT, tetapi bukankah ada di DPS? Apalagi saya sudah memilih saat putaran pertama. Nama-nama pemilih di DPS tidak berubah dan di putaran kedua DPS tetap digunakan, bukan hanya DPT seperti kata petugas TPS tadi. 

Ketua RT saya ternyata susah sekali dihubungi. Akhirnya, sang petugas KPU membuatkan saya surat yang menyatakan bahwa saya diperbolehkan menggunakan hak pilih saya hanya dengan berbekal KTP jika nama saya ada di DPS dan menambahkan dengan tegas bahwa DPS itu ada di salah satu dokumen yang pada hari sebelumnya telah ia berikan pada para petugas di TPS.  

"Saya sudah berikan pada mereka! Di lembar A-5! Harusnya ADA! Haduh, gimana sih...nggak denger atau apa waktu saya kasih pengarahan??" kata sang petugas KPU geram sendiri ketika saya ceritakan bahwa para petugas di TPS menyatakan saat ini sudah tidak ada DPS.

Saya meninggalkan kantor kelurahan diantar dengan ucapan sang petugas KPU yang melegakan: "Pokoknya bisa, Mbak, kalau nama ada di DPS," 

Saya pun minta tukang ojek kembali mengantar saya ke TPS. Setiba di TPS (dengan melewati segerombol warga yang senyum-senyum menyapa dan tertawa melihat saya yang diantar ojek kembali lagi), saya langsung menyerahkan surat pernyataan dari petugas KPU kepada petugas di TPS. Mau tahu bagaimana reaksi mereka?

"Nah, kalau ada surat gini kan enak," komentar salah satu petugas pendek, seraya langsung menyuruh petugas lainnya mengambil lembar A-5 yang disebut-sebut dalam surat. 

Saya terbengong-bengong. Sudah, begitu saja? Katanya tadi DPS tidak ada? Jadi itu bohong? Tadi itu maksudnya saya sedang diplonco atau apa?? Tapi seingin apapun saya mengutuk mengomeli mereka, tentu saja saya tidak mengungkapkan jeritan hati itu. Saya datang untuk mencoblos, titik. Bukan untuk cari musuh. 

Lagipula, saya masih harus menunggu mereka menelusuri kembali nama saya di DPS. Meskipun seharusnya nama saya pasti ada di DPS yang tidak berubah sejak putaran pertama itu, sampai detik saya mengenggam surat suara yang menjadi hak saya, apapun bisa terjadi. Apapun yang membuat saya tetap tidak dapat memberikan suara. Ya sudah, daripada menyalurkan napsu marah-marah, saya putuskan untuk berdoa saja dalam hati agar saya dapat menggunakan hak suara saya. Agar usaha saya ke kantor kelurahan dan bantuan petugas KPU tadi tidak sia-sia. Agar keterlambatan saya pergi kuliah tak terbuang percuma. 

Kira-kira setelah setengah jam yang terasa seperti setengah bulan itu, akhirnya salah satu petugas memberikan surat suara kosong kepada saya. Alhamdulillaah! Saya melangkah masuk ke bilik suara dengan perasaan antara tak percaya, senang dan terharu penuh syukur, juga geli! Geli karena membayangkan siapa tahu ada orang-orang yang membicarakan saya yang semangat sekali ingin mencoblos selembar kertas, sementara beberapa ratus warga DKI lainnya dengan santai memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

Di akhir hari itu, sepulang kuliah (Oya. Saya tidak terlambat mengikuti kuliah. Dosen saya yang bule tetapi sudah berKTP DKI dan juga menggunakan hak suaranya itu menunggu saya selama 1,5 jam sebelum memulai kuliahnya! Subhanallah yaa??), saya mendengar kabar yang menggembirakan. Hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa DKI Jakarta akan segera dipimpin gubernur baru. Selain itu, ada pula kabar dari TPS tempat saya memilih: selisih perolehan suara antara kedua calon SANGAT TIPIS. Nah, hayo siapa tadi yang menertawakan saya? Coba, siapa yang bersemboyan "apalah arti sebuah suara"?

Satu suara itu berarti. Dan syukurlah, saya membuat diri saya sendiri berarti.


Semangat Jakarta Baru!
- H e i D Y -

Rabu, 19 September 2012

Selamat memilih, DKI JAKARTA

Pertama-tama saya sampaikan terimakasih banyak kepada  (ehm...udah seperti sambutan resmi, belum?) teman-teman yang bukan warga DKI Jakarta tetapi tetap setia meramaikan dunia nyata maupun dunia maya dengan doa dan dukungan yang tulus untuk kebaikan DKI Jakarta dan kami para warganya. 

Pagi tadi, seorang teman memberikan saran penting di twitter : shalat istikharah dan cari info sebelum memilih calon gubernur DKI pada pilkada besok. Alhamdulillah, saya sudah melakukannya jauh-jauh hari. 

Sejak putaran pertama selesai dan saya mendapati cagub pilihan saya tidak lolos ke putaran kedua, saya langsung giat mencari informasi tentang para cagub yang ikut serta dalam putaran kedua pilkada DKI ini. Yang saya gunakan pertama kali adalah twitter, sarana tercepat bagi saya sekarang ini dalam menjaring informasi. 

Namun, saya betul-betul kaget dan pusing sekali ketika sebuah akun anonim yang saya ikuti sebelumnya karena sering memberi informasi segar dan terpercaya justru membuat kultwit yang bertolak belakang 180 derajat dengan kultwit-kultwit sebelumnya. Saya menghabiskan beberapa jam memikirkannya karena mendapati informasi-informasi baru yang dahsyat. Sampai pusing tujuh keliling, deh! 

Saya pun membicarakannya dengan suami, keluarga, dan sahabat lalu meneruskan usaha pencarian informasi lagi dari berbagai sumber. Akhirnya dapat. Ada beberapa sumber yang bisa membuktikan bahwa akun anonim yang saya ikuti itu ternyata akun bayaran yang profesional dan punya strategi licik untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. 

Ternyata memang berbahaya jika mempercayai satu pihak saja. Dan ada sebuah pelajaran lainnya bagi saya: perlu lebih tekun mencari informasi dari dunia nyata. Kadang di jaman teknologi informasi sekarang, kita jadi malas. Padahal hanya mengandalkan dunia maya itu berbahaya! Kalau mencari testimoni tentang seseorang, ternyata kita perlu mengusahakan betul-betul untuk mencarinya dari yang kita kenal di dunia nyata dan kenal langsung juga dengan orang tersebut. Kalau tidak ada juga, yah setidaknya yang mengalami langsung kiprahnya. Tapi sekali lagi: orang nyata, bisa dikenali nama aslinya, bertanggungjawab atas kata-katanya. Yang hobi main di twitter, cek juga akun-akun lain yang berseberangan pendapat. Banyak juga kok yang berani tidak anonim dan memberi kesaksian yang terpercaya untuk membantah atau memberi sanggahan dengan bukti-bukti yang masuk akal. 

Memang, yang Maha Tahu Kebenaran hanya Tuhan. Tapi hati-hatilah jika nama Tuhan dibawa-bawa dalam usaha propaganda secara profesional (baca: oleh akun bayaran). Sebagai penulis sekaligus mahasiswa linguistik, saya tahu persis bahwa ada ilmu dan teknik khusus untuk membuat sebuah wacana terpercaya. Ilmu bahasa, sosiologi, psikologi, sampai agama bisa dimanfaatkan demi menarik simpati. Waspadalah!

Bagi muslim, yang paling betul memang shalat istikharah, percaya pada Allah SWT. Doanya adalah memohon agar pikiran dan perasaan dijernihkan dari pengaruh-pengaruh negatif. Lalu gunakan hati yang bening itu untuk bijaksana memilah segala informasi yang terus datang dari segala penjuru. Sekali lagi, BIJAK.

Saya tidak bilang pemilih yang bijak itu pasti memilih calon A dan bukan B atau sebaliknya. Yang bijak itu yang mengakui kelebihan dan kekurangan kedua calon dan memilih dengan sadar. Bukan karena pengaruh sepihak. Saya akan memilih berdasarkan suara hati dan saya sadar segala resiko yang menyertai harapan pada cagub pilihan saya. Semoga yang lain pun begitu.

Pilihan saya juga tidak berhubungan dengan keyakinan bahwa sang cagub tersebut yang menang. Mungkin saja tidak, tapi ini suara saya. Siapapun yang terpilih nanti, semoga perlindunganNya tetap diturunkan untuk DKI Jakarta tercinta. Jika pilihan saya kalah sekarang, mungkin itulah yang terbaik dengan alasan yang tak seorang pun tahu kecuali Tuhan Sang Maha Perencana. Semoga ... semoga, hanya rahmat dan ampunan untuk kita semua, bukan sebentuk azab. Aamiin yaa Rabb...


Selamat memilih bagi yang berhak!
- H e i D Y -

Kamis, 06 September 2012

Budaya dan Kebudayaan


Pada tulisan sebelumnya, saya sempat menyebutkan mata kuliah berjudul Teori Kebudayan yang saya ambil di semester pertama yang telah berlalu. Itu adalah mata kuliah  menarik dan cukup berjasa dalam 'mengantarkan' saya ke gerbang ilmu linguistik sebagai salah satu cabang ilmu humaniora. Nah, pada semester kedua ini, kelas yang pertama saya masuki adalah Bahasa, Kognisi dan Budaya. Judul mata kuliah yang lebih menarik lagi bagi saya (dan dosennya merupakan dosen favorit yang dulu pernah mengajar saya di program matrikulasi)! Semoga saya bisa memaksimalkan kegiatan belajar saya dan ilmu yang saya peroleh dari mata kuliah ini.

Bahasa, Kognisi, dan Budaya. Berdasarkan rancangan silabus, kami akan membahas tentang konsep teori kebudayaan pada pertemuan-pertemuan awal di kelas ini. Hitung-hitung sebagai pemanasan untuk saya sendiri, saya akan berbagi sekilas pendahuluan tentang definisi dari kebudayaan itu sendiri. Pengetahuan ini saya peroleh dari kuliah Prof. Benny Hoedoro Hoed, salah satu pengampu mata kuliah Teori Kebudayaan yang saya sebut sebelumnya.  

Dari berbagai definisi, kita dapat melihat kebudayaan dalam sebuah continuum yang menonjolkan kebudayaan sebagai pandangan antara idealistic view (gagasan) dan materialistic view (entitas fisik). Ada berbagai teori yang dikenal dalam ruang lingkup Ilmu Pengetahuan Budaya, seperti filsafat, susastra, kajian teks, sejarah, psikolinguistik, linguistik kognitif, semiotik, pragmatik, sosiolinguistik, antropologi linguistik, antropologi, arkeologi, dan teori adaptasi. Yang lebih dulu disebutkan (filsafat, susastra, …) lebih dekat pada padangan idealistik, sementara yang disebutkan belakangan lebih mendekati pandangan materialistik (…., arkeologi, teori adaptasi).

Istilah kebudayaan sendiri dapat dibedakan dari peradaban dan budaya. Kata kebudayaan yang merupakan kata benda berpadanan dengan culture dalam Bahasa Inggris. Kata budaya dapat berstatus sebagai kata benda yang berpadanan dengan custom atau kata sifat yang berpadanan dengan kata cultural. Baik custom maupun cultural merupakan bagian dari culture, dan di dalamnya termasuk pula apa yang kita kenal dengan habit (kebiasaan). Sementara itu, istilah peradaban erat kaitannya dengan adab  (civilization) dan beradab (civilized). Peradaban biasanya dihubungkan dengan pendidikan dan merupakan pandangan yang subjektif, bukan objektif.

Kemarin di pertemuan pertama kelas Bahasa, Kognisi dan Budaya, dosen saya, Dr. Felicia N. Utorodewo, menyinggung kembali istilah budaya dan kebudayaan. "Segala sesuatu yang dipelajari dan diberi arti itu kan budaya," katanya. Kemudian ia memberi contoh kecil : sebuah kedipan mata.  

Mengapa kita mengedipkan mata? Jawaban menurut ilmu biologi adalah agar mata kita basah sehingga tidak terasa perih. Subhanallah, yaa. Pernah membayangkan jika kita tidak bisa berkedip sekali pun? Lalu sudahkah kita mensyukuri hal sekecil ini? 

Kedipan mata bisa terjadi kapan saja. Entah sudah berapa kali saya mengedipkan mata secara otomatis saat mengetik tulisan ini untuk tujuan yang telah disebutkan di atas. Namun, kedipan mata juga bisa terjadi pada kesempatan lain untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Misalnya saat sepasang suami istri ingin meninggalkan suatu acara di tengah orang banyak. Kedipan mata yang diberikan sang suami atau istri pada pasangannya menjadi kode dengan makna tersendiri. Saat itulah, kedipan mata telah menjadi sebuah budaya. Saat ia menjadi kode. Saat ia diberi arti tertentu. 

Jadi, segala sesuatu yang dipelajari dan diberi arti itu adalah budaya. Semoga ini dapat menjadi jawaban bagi siapa saja yang bertanya apakah dan mengapa bahasa merupakan bagian dari budaya. 

Lain lagi dengan kebudayaan. Mari mengingat suara adzan. Apa yang dirasakan oleh kelompok muslim yang berkewajiban untuk shalat setelah mendengar suara itu? Ada perasaan terpanggil untuk shalat. Semakin lama, jika belum juga menunaikan kewajiban itu, semakin gelisah. Dengan demikian, mendengar adzan ini telah menjadi suatu kebudayaan bagi para muslim, bukan hanya budaya. Mengapa? 

Menurut Kroeber & Kluckhohn, kebudayaan terdiri dari pola-pola, baik eksplisit maupun implisit yang dipelajari, diteruskan oleh tanda-tanda tertentu, membedakan dengan kelompok manusia yang lain, termasuk perwujudan dalam artefak-artefak. Inti penting dari kebudayaan terdiri dari ide-ide tradisional dan khususnya nilai yang tertanam. Lebih lanjut, sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai produk tindakan dan juga sebagai elemen-elemen yang mengkondisikan tindakan lebih lanjut.

Definisi kebudayaan dapat dipandang dari sudut antropologi dan ilmu-ilmu sosial. Dari sudut antropologi, kebudayaan berarti pengetahuan kompleks yang dipelajari, kepercayaan, seni, moral, hukum, dan budaya. Sementara itu menurut ilmu-ilmu sosial, kebudayaan merupakan segala yang ada di masyarakat yang lebih diteruskan secara sosial ketimbang secara biologis.

Mendapat pelajaran ini, saya pun mengerti ketika Prof Benny bercerita bahwa ia tidak dapat marah saat ingin membeli sesuatu di sebuah warung tradisional dan tidak ada orang yang mengantri. "Ya itu kan memang bukan kebudayaan mereka," tandasnya. Sebuah kebijaksanaan yang berasal dari pemahaman yang mendalam di tengah-tengah masyarakat yang beraneka warna. Masyarakat yang sebagian kelompok di antaranya masih bisa memelihara sikap jijik dan benci pada kelompok lainnya yang tak sama nilai. 

Terimakah kita disebut "tidak berbudaya" saat makan nasi dan lalapan sambal dengan tangan oleh kelompok masyarakat yang menganut aturan makan-harus-dengan-sendok-garpu? Lalu adilkah jika kita mencibir pula  pada kelompok manusia lain yang menganut ide atau nilai yang berbeda dengan kita?


Mari belajar memahami.
- H e i D Y -

Senin, 03 September 2012

IPA, IPB, IPS dan Humaniora

Saya bayar hutang dulu, deh. Ini janji saya yang ingin bercerita sekilas tentang perbedaan antara beberapa kelompok besar ilmu pengetahuan di dunia ini. Tentu saja ini bukan pemikiran saya sendiri. Wawasan ini saya peroleh dari  mata kuliah Teori Kebudayaan yang saya ambil di semester pertama kemarin. Salah satu dosen pengampu yang menyampaikannya pada saya adalah prof. Benny H. Hoed dan salah satu sumber pustaka yang saya gunakan adalah teks pengantar kuliah Teori Kebudayaan S2 oleh E.K.M. Masinambow.

Baiklah. Saya mulai, ya.

Ada perbedaan yang jelas antara Ilmu Pengetahuan Alam  (IPA), Ilmu Pengetahuan Budaya (IPB), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Humaniora.

Ilmu pengetahuan alam menemukan hukum-hukum alam sebagai sumber dari fenomena alam dan bersifat erklaren (menerangkan). Hukum-hukum yang berlaku dalam ilmu pengetahuan alam tidak pernah berubah (tetap). Hukum aksi-reaksi Newton yang terkenal itu, misalnya. Newton berhasil menemukan kaidah yang merupakan hukum alam. Sekali lagi, menemukan. Bukan menciptakan. Hukum alam adalah hukum tidak dapat diubah-ubah oleh manusia.  

Sementara itu, dalam ilmu pengetahuan budaya, manusia berlaku sebagai “objek” (etik jika dilihat dari luar) dan “subjek” (emik, yang berarti melihat dari dalam) sekaligus sehingga ilmu ini bersifat verstehen (memahami), dimana objek memandang dunia. 

Jika IPA menggunakan cara pendekatan "nomotetis" atau "ilmiah" dalam arti yang sempit, IPB bersifat ideografis (idealistik) dan materialistik atau sering tidak memakai empiri/realita (data yang diambil di kenyataan). Sebagai contohnya adalah suatu karya sastra yang merupakan pencerminan dari pemikiran sang pengarang. Jadi, fokus ilmu pengetahuan budaya adalah gagasan atau makna yang biasanya tertuang dalam wujud teks atau artefak-artefak. 

Tidak seperti ilmu pengetahuan budaya yang jelas terlihat berada pada kutub yang berlawanan dengan ilmu pengetahuan alam, terdapat sedikit kekaburan batas antara bidang ilmu pengetahuan budaya dan ilmu pengetahuan sosial. Ilmu pengetahuan sosial berfokus pada kajian hubungan atau interaksi antar manusia atau antar lembaga. Nah, salah satu penyebab kekaburan batas antara IPB dan IPS adalah implikasi dari konsep "kebudayaan" pada IPB dan konsep "masyarakat" pada IPS. Kebudayaan adalah fenomena sosial yang berhubungan erat dengan perilaku masyarakat yang menghayatinya. Sebaliknya, perbandingan pola-pola atau konfigurasi perilaku satu masyarakat dengan masyarakat lain tidak dapat dipahami tanpa mengaitkannya dengan kebudayaan. 

Bagaimana dengan humaniora atau ilmu pengetahuan kemanusiaan? Humaniora berkaitan dengan pendidikan untuk mencapai tingkat peradaban tertentu, yaitu humanities (kemanusiaan) dan human sciences (ilmu tentang manusia). Hal ini sebenarnya mengikuti pandangan para filsuf Yunani dan Romawi yang menggagas bahwa humaniora berkaitan dengan pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan sebetulnya bertujuan agar seseorang mampu mengembangkan potensi dirinya yang berbudi dan bijaksana secara sempurna. 

Dengan demikian, terlihat bahwa humaniora merupakan kelompok ilmu yang tercakup seluruhnya dalam ilmu pengetahuan budaya. Atau dengan kata lain, ia adalah anggota dari IPB. Sementara itu, ilmu pengetahuan budaya merupakan himpunan ilmu yang beririsan dengan ilmu pengetahuan sosial (sehingga sebagian anggotanya merupakan warga IPB dan IPS sekaligus). Lalu IPA...eh, sudah jelas ya tadi di atas. Ia berada pada kutub yang sama sekali berlawanan!


dari sarjana IPA yang sedang jadi mahasiswa humaniora,
- H e i D Y -






Sabtu, 01 September 2012

Jenis Buku Tata Bahasa


Ada begitu banyak wawasan baru yang saya dapatkan dari perkuliahan saya di program studi linguistik. Sebagai mahasiswa magister yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sarjana yang 'nyambung', perasaan saya berada di antara rendah diri dan amat sangat antusias. Saya pun ingin berbagi banyak hal baru yang saya dapatkan itu. Masalahnya, saya tak tahu harus mulai darimana! Tapi daripada terus berbingung-bingung sendiri dan akhirnya tak jadi-jadi berbagi, saya putuskan untuk tak terlalu ambil pusing soal si urutan (yang seharusnya diceritakan terlebih dahulu). Dari mana pun, jadilah. Harap maklum, semoga saja hal ini tak menularkan kebingungan saya pada siapapun :D
Kali ini saya ingin berbagi secuil tentang buku tata bahasa. Dari salah satu mata kuliah yang saya ambil semester lalu, saya memahami bahwa ternyata ada dua jenis buku tata bahasa (untuk bahasa apapun) yang beredar di toko-toko buku. Buku-buku tersebut dibedakan dari tujuan penulisannya. 
Buku tata bahasa yang bersifat deskriptif bertujuan untuk memaparkan sistem kaidah yang terpola dalam benak para penutur suatu bahasa. Dengan kata lain, tata bahasa ini bertujuan untuk mensistemkan struktur bahasa berdasarkan data empiris yang diperoleh dari para penutur suatu bahasa. Sementara itu, penulisan buku tata bahasa yang bersifat pedagogis bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah penguasaan siswa atas sistem kaidah dalam suatu bahasa dalam rangka pengembangan kemampuannya untuk memahami dan menggunakan bahasa tersebut. Dalam buku-buku tata bahasa jenis ini, penerapan kaidah-kaidah bahasa dalam ragam baku atau standar lebih diutamakan dan variasi bahasa umumnya tidak diajarkan untuk menghindari kebingungan siswa. 
Salah satu contoh buku tata bahasa yang bersifat deskriptif (dan sudah saya baca) adalah Tense karya Bernard Comrie. Salah satu hal yang dipaparkan Comrie dalam buku ini adalah teori bahwa urusan kala hanya sebatas hubungan peristiwa yang dinyatakan terhadap saat ujaran. Bahkan, apakah pernyataan peristiwa yang baru (mungkin) akan terjadi setelah ujaran dinyatakannya sebagai hal yang masih terbuka untuk didiskusikan lebih lanjut. Karena itulah, buku ini digunakan oleh para mahasiswa atau peneliti linguistik sebagai dasar untuk mempelajari dan meneliti lebih lanjut sistem kala pada suatu bahasa sebagai bagian dari tata bahasa itu sendiri.
Sementara itu, contoh buku tata bahasa yang bersifat pedagogis (dan kebetulan ada di rak buku saya) adalah Fundamentals of English Grammar karya Betty Schrampfer Azar. Buku ini hanya memaparkan kaidah-kaidah yang terdapat dalam tata bahasa Inggris, termasuk di antaranya pemakaian ujaran terkait dengan sistem kala dan aspek dalam bahasa Inggris. Seluruh kaidah tersebut bersifat baku dan menegaskan mana yang benar dan mana yang salah. Pembaca buku diajak untuk mengikuti kaidah tersebut, bukan untuk mendebatnya. Karena itulah, buku ini hanya digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pengajaran bahasa Inggris, yaitu guru dan siswa yang ingin menguasai bahasa Inggris. 
Nah, apakah saya berhasil membuat Anda bingung? :D


yang sedang penasaran terhadap ilmu bahasa,
- H e i D Y -

Jumat, 10 Agustus 2012

Menyederhanakan Demi Berbagi

      Seorang guru besar memprotes mahasiswanya yang bicara dan menulis secara tidak sederhana sama sekali. Ratusan istilah sulit dipergunakannya, dirangkai dengan rumit pula.  “Kamu ini ngomong apa, sih?”  kata sang guru pada muridnya itu.
    Sang murid tercengang. Kalau yang mengatakannya itu bukan profesor, ia takkan heran. Bagaimana mungkin gurunya yang jauh lebih berilmu itu tak memahami kata-katanya?
      Sang guru berkata lagi, “Jika tak bisa menyampaikan konsep yang rumit itu secara sederhana, aku tidak bisa meluluskanmu,”
      Sang murid sedih dan kecewa. Ia yakin telah memahami dan menguasai segala materi yang dibutuhkan untuk layak lulus ujian itu dan tak mengerti alasan sang guru tak merestuinya.
    Suatu hari, tak sengaja sang mahasiswa melihat gurunya dikelilingi banyak anak kecil usia sekolah dasar. Beliau tampak sedang asyik bercerita dan anak-anak itu antusias memperhatikan. Tertarik, sang murid datang mendekat.
       Teryata, gurunya yang bergelar profesor itu bukan sedang sekedar mendongeng. Sebenarnya ia sedang mengajarkan konsep FISIKA KUANTUM pada anak-anak kecil itu! Namun sangat mungkin, anak-anak itu bahkan sama sekali tak sadar bahwa mereka sedang belajar.
    Beberapa saat kemudian, sang profesor menyadari keberadaan mahasiswanya. Ia berpaling padanya dan berkata, “Mau melanjutkan ceritaku untuk mereka? Bisa sekaligus menjadi ujian perbaikanmu. Anak-anak ini jurinya. Jika mereka mengerti, maka kau lulus.”
     Anak SD menjadi jurinya? Saat itulah sang mahasiswa sadar. Tak peduli serumit apapun, setiap konsep atau pemikiran harus disampaikan sesederhana mungkin. Itulah level penguasaan tertinggi atas suatu ilmu.

Cerita di atas saya peroleh dari salah seorang dosen saya dulu. Ini hanya satu dari beberapa cerita yang ia gunakan untuk mengajarkan saya dan beberapa teman saya satu konsep penting sebelum kami memperoleh gelar sarjana.

Dulu sekali, saya mengira orang-orang yang cerdas itu tak terjangkau. Dengan perkembangan akal budi yang sempurna, pastilah buah pikir mereka adalah sesuatu yang sangat rumit, bernilai tinggi, sulit dipahami orang lain yang tak secerdas mereka. Cara berpikir ini perlahan berubah, salah satunya karena apa yang diajarkan dosen saya saat berbagi cerita di atas.

Cerita lain yang disampaikan dosen saya adalah tentang para penemu dan penemuan-penemuannya. Serumit apapun proses penemuan atau penciptaan suatu benda, ketika tiba saatnya mengumumkan penemuan itu, harus ada penjelasan sederhana agar benda itu dapat diterima dan bermanfaat bagi banyak orang. Jika gagal dalam memberikan penjelasan sederhana, temuan sebagus apapun dapat menjadi tak berguna.  

Berbagi kerumitan itu ibarat menyajikan makanan mentah yang tak diolah. Bukankah menyakikan makanan mentah jelas jauh lebih mudah dan cepat ketimbang memasak? Karena itu, jangan meremehkan satu penyampaian yang sederhana. Kita tak pernah tahu seperti apa kerumitan di balik itu. Berbagi kerumitan itu mudah. Namun membaginya secara sederhana adalah keterampilan yang sebenarnya.

Oya. Jangan salah. Berbagi kerumitan memang tidak pernah dilarang. Tapi mungkin akan lebih bijaksana jika tak menujukannya pada banyak orang. Cukup pilih satu belahan jiwa atau beberapa orang terdekat untuk diijinkan melihat ‘kemalasan’ kita, yang harus cukup sabar untuk menghadapi kerumitan itu dan menyederhanakannya bersama-sama :D

Setelah hidup dengan segala kerumitannya, saatnya berbagi secara sederhana. Semoga kita dapat memperluas ladang amal kita dan Tuhan meridhoi.

Selamat berbagi!
-       H e i D Y -

Rabu, 08 Agustus 2012

Tulis saja!

Seorang sahabat saya berkata bahwa ia tidak punya rasa kepercayaan diri untuk menulis. Waktu itu ia baru tahu bahwa kadang-kadang saya memajang tulisan saya di blog sehingga dapat dibaca semua orang. Sejenak saya termangu memikirkan kata-katanya. Kemudian saya mengerti.

Saya mengerti karena kadang ketidakpercayaan diri itu terjadi pada saya. Dan saya tahu mengapa itu bisa terjadi. Ketidakpercayaan diri berarti meragukan diri sendiri dalam suatu hal. Dulu saya pernah tidak percaya diri mengemudikan mobil di jalan raya. Saat itu saya baru belajar dan masih meragukan kemampuan saya sendiri dalam hal menyetir. Saya juga masih tidak percaya diri jika meluncur sendiri di atas es di tengah arena ice skating.  Tentu saja karena saya tidak pernah secara khusus belajar ice skating dan memang jarang sekali melakukannya. Wajar kan jika kemampuan saya melakukannya masih sangat meragukan?

Lalu bagaimana dengan ketidakpercayaan diri untuk menulis? Setiap orang yang sudah lulus SD dan tidak terisolir dari peradaban pasti bisa menulis. Adalah aneh, jika ada yang meragukan kemampuan diri sendiri untuk menulis. Apa yang ditakutkan? Pensil patah saat menulis? Listrik mati saat mengetik? Lalu?

Saya tidak percaya tentang ketidakpercayaan diri untuk menulis. Yang saya percaya terjadi adalah ketidakpercayaan diri untuk memperlihatkan hasil tulisan kepada orang lain. Tidak percaya diri memamerkan hasil tulisan tangan mungkin berkaitan dengan indah tidaknya tulisan tangan itu sendiri. Tapi saya yakin bukan itu maksud sahabat saya. Yang ia ragukan adalah jalinan makna yang termuat dalam tulisannya. Oya, dalam hal ini yang saya maksud adalah karangan bebas, bukan sejenis karya tulis ilmiah.

Apa yang diragukan dari isi tulisan sendiri? Mungkin keraguan apakah isi tulisan itu dapat diterima orang lain. Atau bahkan, keraguan apakah orang lain akan menilai isi tulisan itu baik atau indah. Keraguan apakah isi tulisan itu dianggap berbobot oleh orang lain. Pokoknya yang berhubungan dengan orang lain, orang lain, dan orang lain. Sekali lagi: ORANG LAIN.  

Maka, bukankah tidak tepat jika masalah ini disebut ketidakpercayaan diri untuk menulis? Kurasa yang sesungguhnya terjadi adalah ketidakpercayaan diri untuk memuaskan orang lain melalui tulisan kita. Mari bertanya lagi pada diri sendiri: memangnya untuk apa kita menulis? Mengapa menjadikan orang lain sebagai kiblat?

Bagi saya, menulis bebas (seperti ini) adalah satu kesempatan membebaskan jiwa. Juga meringankan beban pikiran atau perasaan. Jika menghadapi banyak masalah dalam keseharian, menulis bisa menjadi terapi yang menyehatkan jiwa. Tak perlu membawa-bawa sampah dalam otak atau hati. Cukup tuangkan semuanya dalam tulisan, beres. Nah, jadi, apa hubungannya dengan orang lain?

Mari menulis untuk diri sendiri. Tulis saja! Soal menyiarkan tulisan kepada dunia adalah lain perkara. Siapa bilang semua tulisan harus ditunjukkan? Bukankah itu gunanya buku harian dan fasilitas kata sandi pada komputer?


 Tulis saja!
-       H e i D Y -

Selasa, 03 Juli 2012

Saya dan Sekolah

Setahun yang lalu, saya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Sebagai makhluk yang banyak maunya, kebimbangan sempat menghampiri saya ketika memilih jurusan. Memalukan deh, sudah setua ini tapi tak ada kemajuan dari dua belas tahun lalu. Yah...saya kira bingung gundah memilih jurusan itu cuma hak-nya para abg calon mahasiswa S1, bukan emak-emak yang sudah mau mengambil program magister.

Dua belas tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menceburkan diri ke sebuah jurusan ilmu kebumian, yang tentu saja menginduk pada ilmu pasti alam. Ada yang lucu (sebenarnya mau bilang bodoh, tapi tak enak hati) pada saya di masa itu. Sebelum tahu bahwa saya lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, saya mengambil ujian dan tawaran masuk tanpa tes dari beberapa perguruan tinggi swasta sebagai cadangan pilihan kuliah. Saya tidak bisa mengambil ilmu kebumian juga seperti pilihan pada UMPTN karena jurusan itu memang jarang ada, tetapi saya bersikeras memilih jurusan yang masih merupakan keluarga ilmu pasti alam. Teknik Kimia. Teknik Elektro. Teknik Informatika. Dan seterusnya. Sementara itu, tak sedikit teman saya yang memilih kuliah di jurusan ilmu sosial seperti Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, dan lain-lain, padahal mereka masuk dalam jurusan ilmu alam saat SMA. Saat itu saya yang amat tak berwawasan ini sungguh tidak habis pikir dengan keputusan mereka, sekaligus juga tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana ilmu selain ilmu pasti alam bisa menarik! Nah, cukup lucu (boleh juga dibaca: bodoh) kan saya waktu itu?

Jangan mengira saya orang yang berbakat pintar apalagi jenius dalam bidang ilmu pasti. Bukan, sama sekali bukan! Sejak kecil saya memang menyenangi matematika, tapi saya lebih menggemari kegiatan mengarang dan lebih berjaya dalam kelas-kelas ilmu bahasa. Mungkin sikap kedua orangtua yang lebih mementingkan prestasi pada ilmu alamlah yang turut mempengaruhi pemikiran saya semasa SD hingga SMA. Saya pun mendapati nilai-nilai saya pun cenderung lebih baik untuk ilmu-ilmu pasti ketimbang ilmu sosial. Daripada bakat, saya lebih mencurigai itu sebagai hasil doktrinasi yang telah merasuki saya hingga ke tulang-tulang! Karena mengimaninya begitu kuat, tanpa sadar kan saya jadi berupaya lebih keras dalam pelajaran-pelajaran ilmu pasti alam dan mengabaikan kelompok ilmu sosial. Ya wajar dong, kalau nilainya jadi lebih bagus!

Saya mulai insaf, eh maksudnya mulai membuka mata, justru ketika baru mulai kuliah di jurusan ilmu bumi itu. Makin hari, makin terasa bahwa ternyata saya tidak bahagia mempelajari ilmu tersebut. Tidak bahagia, maka tidak sukses. Setengah mati saya berusaha menyelesaikan kuliah. Saya pun lulus lima tahun kemudian semata karena tekad pantang untuk mundur atau tidak menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Padahal kalau menuruti kajian ulang terhadap minat dan kemampuan, mungkin saya baru menjadi sarjana tujuh tahun kemudian, dari jurusan yang sama sekali berbeda di perguruan tinggi lainnya.

Lepas kuliah, saya langsung terjun ke dunia pendidikan. Saya tahu saya bukan pelajar yang baik, tapi saya 'merekam' dengan baik seluruh suka duka saya selama menjalani peran tersebut. Karena itulah saya bersemangat menjadi guru. Atau lebih tepatnya, saya sangat bersemangat ingin menjadi teman berbagi atau teman belajar untuk banyak orang.

Awalnya saya hanya mengajar matematika, bidang ilmu yang saya senangi sekaligus juga masih bisa 'dihubungkan' dengan latar belakang pendidikan sarjana saya. Lambat laun setelah memiliki pengalaman sebagai guru, saya juga mengajar bidang ilmu yang lebih saya cintai lagi: bahasa. Maka jadilah saya dikenal oleh murid-murid saya sebagai guru matematika dan/atau guru bahasa. Sebagian murid tak tahu saya pun mengajar bahasa, sementara sebagian lagi justru tak tahu saya mengajar matematika. Belakangan barulah ada kelompok siswa yang mengetahui kedua 'wujud' saya tersebut :D
Ketika baru menyandang gelar sarjana, sempat terpikir bahwa mungkin saya takkan pernah sekolah lagi. Kapok! Berhasil tidak drop out saja sudah prestasi luar biasa bagi saya waktu itu. Juga rasanya sudah capek sekali, tujuh belas tahun terus menerus sekolah (TK tidak dihitung, karena waktu itu alhamdulillah saya masih merasa bermain-main saja di sana, bukan sekolah). Pokoknya, tak pernah terbayang sama sekali bahwa saya akan kembali bersekolah.

Sekitar lima tahun kemudian, barulah terbersit keinginan saya untuk bersekolah lagi. Jika saat baru lulus SMU dulu saya merasa harus kuliah ya karena semua orang (baca: teman-teman saya pada umumnya) kuliah, kali ini berbeda. Kali ini, saya kuliah karena memang merasa benar-benar ingin kuliah lagi. Meski saya percaya bahwa ilmu dapat diperoleh dari mana saja, saya merasa bahwa makhluk seperti saya ini lebih cocok belajar melalui lembaga pendidikan formal, dimana kurikulum studi pun telah dirancang sedemikian rupa dan dapat membantu saya pula dalam kegiatan belajar secara mandiri. Tanpa bantuan itu, saya tidak yakin dapat menentukan langkah pencarian ilmu itu secara tepat, urut dan lengkap.

Namun bagian yang membingungkan, seperti yang telah saya sebut di awal tulisan ini, adalah ketika saya memilih jurusan berikut universitasnya. Saya ingin kuliah di jurusan pendidikan atau psikologi karena ingin memperkuat kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Universitas yang saya incar untuk jurusan-jurusan pendidikan ini tidak terletak di dalam negeri. Keinginan saya yang lain adalah menguasai ilmu tentang bahasa, satu bidang yang sangat saya sukai tetapi selama ini belum pernah saya berkesempatan untuk mempelajarinya secara khusus. Untuk jurusan yang satu ini, saya merasa bisa memilih universitas di dalam atau luar negeri.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal selama hampir setahun (Book...lama yah mikirnya!!), pilihan saya akhirnya jatuh pada yang kedua, yaitu program studi linguistik di sebuah universitas dalam negeri. Bagi yang penasaran dan tak tahu apa itu linguistik, saya jelaskan pada kesempatan lain saja, ya!

Tentang keinginan yang pertama, sebagai orang yang amat sangat bahagia berkarya di bidang pendidikan, wajar kan jika saya belum membuang minat tersebut? Pada satu kesempatan, saya sempat menceritakan hal ini pada beberapa teman. Jika umur masih panjang, jika ada rezeki, jika ada kesempatan, kelak saya juga ingin bersekolah di jurusan pendidikan atau psikologi, mengambil program magister lagi. Sebagian besar teman saya itu tercengang, tak habis pikir. Buat apa saya sekolah S2 lagi? Kenapa bukan S3?? Pokoknya, waktu itu mendadak saya merasa dianggap sinting. Hahahaha.

Setali tiga uang dengan saat saya baru lulus sarjana dulu, kini pun saya sama sekali tak terpikir untuk melanjutkan sekolah hingga jenjang S3. Keinginan saya untuk sekolah lagi di bidang pendidikan kelak adalah pada jenjang yang sama, yaitu S2. Lagipula latar belakang pendidikan saya sama sekali tidak linier (antara S1 dan S2, apalagi jika nanti langsung S3). Inilah yang berbeda dari teman-teman yang telah secara khusus berniat untuk mempelajari ilmu yang telah mereka pilih secara konsisten sejak dulu hingga sedalam-dalamnya, menapaki jenjang hingga setinggi-tingginya. Dan yang terpenting, kini yang saya kejar dalam bersekolah adalah luas bentangan ilmu serta pengalamannya. Bukan gelarnya ;)

Ah, tulisan ini sudah panjang. Maaf, seperti biasa, saya lupa waktu jika sudah menulis. Insya Allah lain kali saja saya ceritakan pengalaman-pengalaman seru saya berkenalan dengan ilmu non pasti alam, ya!

Salam semangat! Semangat sekolah bagi yang ingin!
- H e i D Y -

* Gambar saya ambil dari sini. Terimakasih pada penciptanya!