Senin, 26 April 2021

Perempuan Inspiratif dalam Buku "Cinta yang Berpikir"

Bagiku, tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini lebih menantang daripada biasanya. Karena adanya peringatan Hari Kartini di bulan April, tema yang diusung adalah perempuan. Namun, ada tambahan "atribut" yang cukup unik, yaitu ulasan buku. Berbeda dengan ulasan biasa, kali ini ulasan buku yang kami tulis harus memuat sosok perempuan inspiratif yang berhubungan dengan buku tersebut: sang penulis buku atau tokoh di dalamnya.

Memilih Bintang Utama

Sebagai penikmat dan kolektor buku, sebenarnya tak sulit bagiku menemukan buku yang ditulis oleh perempuan atau memuat tokoh perempuan. Penulis perempuan itu banyak ... bukankah aku salah satu di antaranya? Namun, kecuali diam-diam mengidap penyakit narsisisme kronis, mana mungkin aku mengulas sosokku dan bukuku sendiri? Aku pun masih cukup tahu diri untuk tidak menawarkan atau meminta temanku yang lain untuk mengulas karyaku. Alasannya jelas sekali: label "inspiratif" itu teramat jauh dari buku maupun sosokku sendiri, kira-kira mungkin sejauh Bimasakti dengan galaksi lain.

Nah ... sebenarnya aku juga bingung memilih sosok perempuan inspiratif dari buku-buku yang pernah kubaca. Dari novel-novel, tokoh perempuan yang menginspirasi bagiku terlalu banyak. Aku mengidolakan mulai dari tokoh fiktif bernama Georgina alias George dalam cerita petualangan Lima Sekawan hingga almarhumah Ibu Ainun Habibe dalam buku biografi Habibie Ainun. Begitu pula dengan para penulis perempuan yang kutahu. Aku mengagumi mulai dari penulis buku anak lokal Watiek Ideo hingga sastrawati dunia Jhumpa Lahiri. Jadi, siapa yang harus kupilih sebagai bintang utama kali ini?

Pencerahan kutemukan saat aku menjalani rutinitas harianku dan merenunginya: peranku sebagai orang tua dari anak-anak pesekolah rumah alias homeschoolers. Jika diingat-ingat lagi, keseharian yang aku, suamiku, dan anak-anakku lalui cukup banyak dipengaruhi ilmu-ilmu parenting yang sekarang cenderung mudah diperoleh dari berbagai sumber. Berbagai buku, kursus, pelatihan, talkshow, webinar, kulwapp, dan sumber lainnya menyumbang cukup banyak pengetahuan yang kami butuhkan --sebagai orang tua zaman sekarang-- dalam mengasuh dan mendidik anak. Di antara semua itu, satu sumber yang cukup besar pengaruhnya bagi kami adalah buku karya Ellen Kristi yang berjudul Cinta yang Berpikir: Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason (Edisi Revisi).   

Salah Satu Buku Kesayanganku 

Sang Penulis dan Sumbangsihnya untuk Negeri

Ellen Kristi atau yang akrab dipanggil dengan sebutan "Mbak Ellen" adalah seorang ibu, praktisi homeschooling, dan pegiat sebuah lembaga swadaya masyarakat. Perempuan asli Semarang ini juga pernah berprofesi sebagai dosen Filsafat di Universitas Diponegoro. Selain menulis buku Cinta yang Berpikir, ia membangun berbagai komunitas Charlotte Mason (CM) dan membuat situs Charlotte Mason Indonesia (CMid). Dengan berbagai jalan itulah, Mbak Ellen melambungkan nama Charlotte Mason, seorang tokoh perempuan pendidik yang hidup di era Victoria, di dunia pendidikan di Indonesia.  

Dalam prakata yang ditulisnya untuk buku Cinta yang Berpikir, Mbak Ellen bercerita tentang panggilan jiwanya untuk menuliskan pemikiran-pemikiran Charlotte Mason perihal pendidikan. Menurut Mbak Ellen, dari sosok guru perempuan yang berkepribadian mengagumkan itu, telah lahir ide-ide yang kaya, mendalam, dan menakjubkan. Semua ide itu terekam dalam beberapa jilid buku tebal dan banyak sekali artikel lepas yang ditulisnya.

Sebenarnya, Mbak Ellen yakin bahwa cara terbaik bagi siapa pun yang ingin mendalami pemikiran-pemikiran Charlotte Mason adalah membaca langsung tulisan-tulisan beliau. Akan tetapi, karena mempertimbangkan pemakaian bahasa Inggris klasik dalam ribuan halamannya dan kekentalan muatan filsafat dalam tulisan-tulisan tersebut, beliau memutuskan untuk  membuatkan "jembatan"nya melalui buku Cinta yang Berpikir. Dengan kata lain, Mbak Ellen berharap buku ini dapat membantu orang tua, guru, atau praktisi pendidikan lainnya di tanah air dalam mempelajari gagasan-gagasan Charlotte Mason.

Buah Pemikiran Sang Guru

Sosok Charlotte Mason sebagai guru yang luar biasa diperkenalkan di bagian prolog buku Cinta yang Berpikir. Berbeda dengan kebanyakan guru pada zamannya yang lebih otoriter dan gemar menggunakan kekerasan fisik, Charlotte Mason selalu bersikap penuh kasih dan bijaksana dalam mendidik murid-muridnya. Alih-alih melihat anak sebagai kertas kosong yang harus diisi oleh orang dewasa yang mendidiknya, beliau mengibaratkan anak sebagai obor yang hanya menunggu pemantik agar apinya dapat berkobar. 

Dengan meyakini tiap anak lahir dengan kelengkapan nurani, hasrat, emosi, dan bakat masing-masing, Charlotte Mason berpandangan bahwa tugas orang tua dan guru hanyalah memaksimalkan setiap kekuatan dan mengatasi segala kelemahan mereka. Dengan percaya bahwa tiap anak terlahir setara dan menyimpan potensi kecerdasannya masing-masing, ia menolak pemikiran yang mendiskrimasi ras, gender, atau kalangan sosial tertentu dalam mendapatkan hak pendidikan. Charlotte juga menegaskan bahwa pendidikan rumah harus diutamakan dan orang tualah, bukan guru, yang paling bertanggung jawab dalam membesarkan anak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dunia. 

Sejatinya, metode pendidikan yang digagas oleh Charlotte Mason dapat dipakai dalam konteks pendidikan berbasis keluarga maupun sekolah formal. Namun, buku Cinta yang Berpikir lebih dimaksudkan Mbak Ellen sebagai manual dalam pendidikan keluarga yang menyoroti orang tua sebagai penanggung jawabnya. Karena itulah, pemikiran Charlotte Mason yang dibukukan dalam serial Home Education menjadi sumber utama penulisan buku Cinta yang Berpikir ini. 

Isi yang Kaya

Mbak Ellen juga mengakui bahwa selain tulisan karya Charlotte Mason tersebut, pengalaman bersama anak-anaknya dalam menerapkan metode CM serta berbagai bacaan dari para pemikir dan praktisi pendidikan lainnya juga turut memperkaya isi buku Cinta yang Berpikir. Kemudian, demi memudahkan para pembaca, muatan yang sangat padat tersebut diklasifikasikannya menjadi tiga bagian besar: sekilas filosofi, sekilas kurikulum, dan sekilas komparasi. Di bagian awal buku (sebelum prolog), diuraikannya pula secara jelas gambaran tiap bagian dan rekomendasi urutan membacanya untuk mendapatkan pemahaman yang mudah, utuh, dan tepat sasaran.

Saran lain yang diberikan Mbak Ellen dalam membaca bukunya ini adalah membaca satu demi satu bab (terutama di bagian filosofi) secara perlahan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Tujuannya adalah agar kita dapat benar-benar meresapi pesan yang terkandung dalam tiap bab tersebut. Sebagai orang yang terbiasa membaca cepat dan banyak, aku merasa sangat sulit mengikuti petunjuk ini. Walaupun demikian, memang benar terasa manfaatnya ketika aku sukses melakukannya. Jelas pula rasanya berbeda dengan ketika aku buru-buru melahap dua atau tiga bab sekaligus. 

Selain karena kebiasaan, mungkin yang membuatku beberapa kali terlalu cepat membaca bab-bab di bagian pertama adalah karena beberapa pemikiran filosofis yang dipaparkan sebetulnya bukan baru pertama kali kudapatkan. Beragam pendekatan dan metode parenting yang telah kupelajari sebelumnya dari beberapa sumber sebetulnya juga bersinggungan dengan apa yang digagas oleh Charlotte Mason. Akan tetapi, setelah mencoba mengikuti petunjuk Mbak Ellen, aku menyadari hal yang esensial: sekadar tahu atau bahkan pernah dengar saja ternyata tidak cukup. 

Sebagai contoh, cobalah pikirkan, siapa sih yang tidak tahu di zaman sekarang bahwa anak merupakan titipan Sang Pencipta yang menjadi tanggung jawab utama orang tuanya? Bukankah mungkin hampir semua penduduk bumi saat ini setidaknya pernah mendengar prinsipnya? Namun, apakah dengan demikian, otomatis tiada lagi orang tua di dunia ini yang bersikap seolah-olah sang anak adalah harta miliknya yang bebas diatur menurut kewenangannya sendiri? 

Aku dan Para Titipan Ilahi

Oleh karena itulah, membaca perlahan secara berurutan (untuk yang kesekian kalinya) setiap bab dalam bagian pertama buku Cinta yang Berpikir ini sama sekali tidak membuang-buang waktu bagiku. Aku merasa diingatkan kembali dan rasanya sikapku dalam berhubungan dengan anak-anak pun turut terpengaruh. Setiap gagasan berharga yang terkandung di dalam buku ini selalu menggugahku ketika aku meresapinya perlahan-lahan.

"Sepertiga hasil pendidikan disumbang oleh atmosfer rumah tangga, yakni ide-ide yang memancar dari kepribadian kedua orang tuanya, yang mereka jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari." - Charlotte Mason 

Menurut Mbak Ellen, cara membaca secara acak dapat diterapkan ketika memasuki bagian kedua buku Cinta yang Berpikir. Bagian yang berjudul "Sekilas Kurikulum" ini memaparkan konsep dan instruksi untuk menerapkan pendidikan anak usia sekolah menurut kurikulum CM, yang juga kerap disebut "kurikulum pembangunan watak 12 tahun". Luas dan seimbangnya kurikulum CM dapat terlihat dari beragam subjek pelajaran yang dibahas secara khusus. Di antaranya ada membaca, menulis, tata bahasa, pendidikan agama, sejarah, sastra dan puisi, kewarganegaraan, bahasa asing, musik dan seni, sains, matematika dan logika, pendidikan jasmani, hasta karya dan keterampilan praktis, serta bacaan dan kegiatan bebas. Semua bidang pelajaran -beserta berbagai kegiatan yang disarankan di dalamnya- ini tetap memiliki satu target besar, yaitu pemuliaan karakter anak. 

Di bagian kurikulum, kita dapat menemukan bahasan khusus tentang living books, ikon metode CM yang makin populer belakangan ini. Istilah living books merujuk pada pustaka yang mengandung ide-ide berharga yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya. Charlotte berpendapat bahwa penuturan gagasan secara baik, tepat, dan indah wajib ada dalam setiap buku bacaan anak. Keberadaan buku-buku dengan kriteria seperti ini dianggap sangat penting dalam kurikulum CM. Setiap praktisi metode CM diharapkan selalu menyediakannya, dalam bentuk buku fiksi maupun nonfiksi, untuk menunjang tiap bidang pelajaran.  

Poin penting lainnya dalam proses belajar CM adalah bernarasi. Menurut Charlotte, kegiatan ini merupakan proses belajar yang penting karena menuntut kemampuan untuk meringkas, mengklasifikasi, menyimpulkan, menimbang, memvisualisasi, memilah, dan menggarap suatu gagasan. Anak yang terlatih bernarasi akan mampu menyampaikan apa yang diserapnya dalam tatanan kalimat yang runtut dan mudah dipahami orang lain. 

Hal lain yang kusukai dari bagian kurikulum di buku Cinta yang Berpikir ini adalah adanya penjelasan mengenai tujuan disarankannya kegiatan tertentu. Kurasa tiap orang tua atau guru yang ingin mengikuti kurikum ini memang diharapkan mengutamakan penghayatan atas prinsip-prinsip dasarnya. Selanjutnya, setiap praktisi dapat lebih leluasa mencari atau menciptakan variasi penerapannya sesuai dengan konteks keperluannya masing-masing.

Di bagian terakhir yang berjudul "Sekilas Komparasi", Mbak Ellen memberikan bonus pengetahuan berupa perbandingan antara CM dengan beberapa metode pendidikan lainnya, seperti Montessori, Waldorf, dan unschooling classical education. Paparan singkat tentang beragam metode tersebut tentu akan makin mengenyangkan para pembaca buku ini. Namun, bagiku pribadi, bagian itu justru kuanggap sebagai salah satu kekurangan buku ini. 

Tiada Gading yang Tak Retak

Kebetulan, CM memang bukan metode pendidikan yang pertama kali kupelajari begitu memutuskan akan melakukan homeschooling beberapa tahun yang lalu. Perkenalan dengan metode Montessori dan Waldorf sudah kulalui terlebih dahulu. Aku pun mulai berusaha mendalami keduanya secara serius  berbarengan dengan perkenalanku dengan CM (aku sudah menyelesaikan pendidikan diploma Montessori dan sedang bersiap untuk melakukan hal yang sama pada Waldorf). Kurasakan adanya perbedaan antara kesan sekilas dengan wawasan menyeluruh tentang metode-metode tersebut. 

Uraian perbandingan yang diberikan Mbak Ellen dalam bagian terakhir buku Cinta yang Berpikir memang tidak salah, tetapi jauh dari lengkap dan menyeluruh. Jika diumpamakan, ini seperti melihat gajah hanya dari bagian ekornya sehingga belalai dan gadingnya yang indah tidak terlihat. Menurutku, kesalahpahaman dapat timbul, terutama bagi para pembaca yang sama sekali belum mengenal metode-metode selain CM itu. Lebih jauh lagi, aku khawatir orang-orang akan kehilangan ketertarikan untuk menggalinya lebih dalam, padahal ini bukan sikap yang bijaksana dalam dunia pendidikan.

Akhir Kata

Di atas kekurangan itu, aku merasa buku Cinta yang Berpikir (Edisi Revisi) tergolong buku yang layak dan sangat bermanfaat untuk dimiliki oleh tiap praktisi pendidikan. Sesuai dengan judulnya, buku ini dapat menyadarkan atau mengingatkanku kembali bahwa  perasaan cinta harus dilengkapi dengan pemikiran dan penghayatan yang mendalam agar dapat membuahkan pendidikan yang arif dan bijaksana. Dari buku ini pula, kutemukan tak sedikit inspirasi dari dua perempuan yang hidup di tempat dan zaman yang jauh berbeda: Charlotte Mason dan Ellen Kristi.

Data Buku

Judul: Cinta yang Berpikir - Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason
Penulis: Ellen Kristi
Penyunting: Willy Chrisna Dinata
Desainer Sampul: Eunike Nugroho
Penerbit: Ein Institute
Tahun Terbit: 2016 (Edisi Revisi)
Jumlah Halaman: xviii + 263 halaman


Artikel ini mendapat penghargaan "10 besar Terbaik Tantangan Blogging April 2021" dari Komunitas Mamah Gajah Ngeblog

 

15 komentar:

Andina mengatakan...

Sepertinya must read untuk yang mau belajar/menerapkan homeschooling ya. Ternyata teh Heidy mendalami Montessori hingga ambil diploma, wow

Nathalia DP mengatakan...

Keren banget ya, mbak ellen ini merangkum gagasan-gagasan dari charlotte mason...
Padahal kalau penjelasannya enggak komprehensif enggak perlu dibandingkan dengan metode lain ya...

Heidy Kaeni mengatakan...

@Andina: Oh iyaa ... lumayan terkenal emang ini buku di kalangan keluarga homeschool .. tapi sebenarnya menurutku isinya baik untuk diketahui, dipahami, dan diterapkan oleh orang tua mana pun siih. Oh hehe itu ambil diplomanya sebenarnya krn emang penasaran bgt dulu pingin tahu keseluruhan metodenya kayak apa XD

@Nathalia: Iyaa, aku pun takjub dengan bahasa beliau dalam menceritakan kembali gagasan2 CM sampai cukup mudah dicerna (walau aku juga belum pernah liat sendiri buku dalam bahasa Inggris klasiknya).

Nuhuun udah pada jalan-jalan ke mari yaa

Shanty Dewi Arifin mengatakan...

Sudah lama pengen baca buku ini tapi belum kesampaian juga. Alhamdulillah sudah diresumekan Heidy di sini.

Dini Yudison mengatakan...

Saya punya bukunya, tapi ga beres beres bacanya 😅.
Terima kasih sudah mengulas buku ini, setidaknya bikin saya ingat kalau punya buku ini

Lenny Martini mengatakan...

Sering penasaran sama metode CM dan living books nya. Ini sepertinya buku yang bagus untuk memulai menguak penasaran itu ya? Cari ah. Makasih ya Heidy sudah menulis ulasannya.

Affina M mengatakan...

Teteh ini keren banget reviewnya. Duh andai aku bw dulu sebelum nulis, jadi ga persis sama bukunya hehe, makasih insightnya teh.

Afina Raditya mengatakan...

Hai mbak Heidy.. Ulasannya menarik banget.. Buku ini udah lama punya. Tapi kok rasanya berat banget bahasanya ya pas awal2 baca. Tau buku ini juga dari temen yg anaknya HS. Berbekal penasaran ingin baca tapi belum beres juga, kayanya baru beberapa halaman aja deh hahaha.. semoga suatu saat ada ketertarikan membaca buku ini lagi yang sekarang masih nongkrong di rak buku bersama buku yang belum selesai lainnya.

Risna (Risna.info) mengatakan...

banyak memang metode pendidikan di rumah, buku Cinta yang Berpikir lumayan merangkumnya dan bisa jadi referensi kalau penasaran sama homeschool. Tapi sampai skrg kayaknya ga masuk ke penerbit bear ya buku-buku homeschool

Heidy Kaeni mengatakan...

Eh perasaan udah balas komentar ini dulu, kok ga muncul ya. Maap, Teh Shanty ... alhamdulillah, semoga berguna. Nuhhn Teh Shanty, udah ninggalin jejaak

Heidy Kaeni mengatakan...

Hihihii ...ayo bacaa, tuntaskaan 😆

Heidy Kaeni mengatakan...

Betul Teh, buku ini lebih dr cukup menurutkua utk membuka tabir itu, hehe. Sama2 Teh Lenny, makasiih udah ninggalin jejak di sinii.

Heidy Kaeni mengatakan...

Lhaa masaa ... emang bukunya sih yg keren, hihihi. Makasih juga yaama Affina udah mampir dan ninggalin jejak 😁

Heidy Kaeni mengatakan...

Ahahaha .. paham bgt perasaan ituu. Okee momen itu segera datang ya 😆😆

Heidy Kaeni mengatakan...

Hmm iya ya bener juga ... baru dadar aku Kak. Entah krn teman2 ingin lbh cepat terbit jd pada pilih indie atau penerbit mayor emang ga terlalu tertarik ya ...