Rabu, 19 September 2012

Selamat memilih, DKI JAKARTA

Pertama-tama saya sampaikan terimakasih banyak kepada  (ehm...udah seperti sambutan resmi, belum?) teman-teman yang bukan warga DKI Jakarta tetapi tetap setia meramaikan dunia nyata maupun dunia maya dengan doa dan dukungan yang tulus untuk kebaikan DKI Jakarta dan kami para warganya. 

Pagi tadi, seorang teman memberikan saran penting di twitter : shalat istikharah dan cari info sebelum memilih calon gubernur DKI pada pilkada besok. Alhamdulillah, saya sudah melakukannya jauh-jauh hari. 

Sejak putaran pertama selesai dan saya mendapati cagub pilihan saya tidak lolos ke putaran kedua, saya langsung giat mencari informasi tentang para cagub yang ikut serta dalam putaran kedua pilkada DKI ini. Yang saya gunakan pertama kali adalah twitter, sarana tercepat bagi saya sekarang ini dalam menjaring informasi. 

Namun, saya betul-betul kaget dan pusing sekali ketika sebuah akun anonim yang saya ikuti sebelumnya karena sering memberi informasi segar dan terpercaya justru membuat kultwit yang bertolak belakang 180 derajat dengan kultwit-kultwit sebelumnya. Saya menghabiskan beberapa jam memikirkannya karena mendapati informasi-informasi baru yang dahsyat. Sampai pusing tujuh keliling, deh! 

Saya pun membicarakannya dengan suami, keluarga, dan sahabat lalu meneruskan usaha pencarian informasi lagi dari berbagai sumber. Akhirnya dapat. Ada beberapa sumber yang bisa membuktikan bahwa akun anonim yang saya ikuti itu ternyata akun bayaran yang profesional dan punya strategi licik untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. 

Ternyata memang berbahaya jika mempercayai satu pihak saja. Dan ada sebuah pelajaran lainnya bagi saya: perlu lebih tekun mencari informasi dari dunia nyata. Kadang di jaman teknologi informasi sekarang, kita jadi malas. Padahal hanya mengandalkan dunia maya itu berbahaya! Kalau mencari testimoni tentang seseorang, ternyata kita perlu mengusahakan betul-betul untuk mencarinya dari yang kita kenal di dunia nyata dan kenal langsung juga dengan orang tersebut. Kalau tidak ada juga, yah setidaknya yang mengalami langsung kiprahnya. Tapi sekali lagi: orang nyata, bisa dikenali nama aslinya, bertanggungjawab atas kata-katanya. Yang hobi main di twitter, cek juga akun-akun lain yang berseberangan pendapat. Banyak juga kok yang berani tidak anonim dan memberi kesaksian yang terpercaya untuk membantah atau memberi sanggahan dengan bukti-bukti yang masuk akal. 

Memang, yang Maha Tahu Kebenaran hanya Tuhan. Tapi hati-hatilah jika nama Tuhan dibawa-bawa dalam usaha propaganda secara profesional (baca: oleh akun bayaran). Sebagai penulis sekaligus mahasiswa linguistik, saya tahu persis bahwa ada ilmu dan teknik khusus untuk membuat sebuah wacana terpercaya. Ilmu bahasa, sosiologi, psikologi, sampai agama bisa dimanfaatkan demi menarik simpati. Waspadalah!

Bagi muslim, yang paling betul memang shalat istikharah, percaya pada Allah SWT. Doanya adalah memohon agar pikiran dan perasaan dijernihkan dari pengaruh-pengaruh negatif. Lalu gunakan hati yang bening itu untuk bijaksana memilah segala informasi yang terus datang dari segala penjuru. Sekali lagi, BIJAK.

Saya tidak bilang pemilih yang bijak itu pasti memilih calon A dan bukan B atau sebaliknya. Yang bijak itu yang mengakui kelebihan dan kekurangan kedua calon dan memilih dengan sadar. Bukan karena pengaruh sepihak. Saya akan memilih berdasarkan suara hati dan saya sadar segala resiko yang menyertai harapan pada cagub pilihan saya. Semoga yang lain pun begitu.

Pilihan saya juga tidak berhubungan dengan keyakinan bahwa sang cagub tersebut yang menang. Mungkin saja tidak, tapi ini suara saya. Siapapun yang terpilih nanti, semoga perlindunganNya tetap diturunkan untuk DKI Jakarta tercinta. Jika pilihan saya kalah sekarang, mungkin itulah yang terbaik dengan alasan yang tak seorang pun tahu kecuali Tuhan Sang Maha Perencana. Semoga ... semoga, hanya rahmat dan ampunan untuk kita semua, bukan sebentuk azab. Aamiin yaa Rabb...


Selamat memilih bagi yang berhak!
- H e i D Y -

Tidak ada komentar: